Tawanan Cinta sang Cassanova

Tawanan Cinta sang Cassanova
Berpisah


__ADS_3

Mendengar kalimat itu membuat Keina tidak bisa lagi menahan air matanya untuk meluncur bebas di pipi putih mulusnya.


" Maafin aku, kak. " ucap Keina di sela isak tangisnya . Bahunya bergetar menahan agar tangisnya tidak mengeluarkan suara.


" Kamu ini siapa? Apakah masih Keina yang dulu? aku bahkan sudah tidak bisa mengenalimu dengan baik." lirih Gevan. Dirinya benar-benar merasa kehilangan sosok gadis yang sampai detik ini masih memenuhi hatinya.


" Cincin yang aku berikan bahkan tak lagi ada di jemari mu. Kenapa di lepas? " tanya Gevan mengingatkan cincin yang ia beri satu bulan yang lalu sebelum kembali ke kota tempat ia menuntut ilmu. Tepatnya saat Calvin memaksa Keina untuk pulang saat gadis itu ketahuan pergi bersama Gevan.


Keina tidak bisa menjawab dengan baik, tangisan terus menyesakkan hati hingga seolah mampu membungkam mulutnya yang hendak berbicara .


Disisi lain,


Di apartemen sendiri karena ditinggal Keina pergi untuk pertama kalinya membuat Calvin merasa bosan, padahal biasanya dia juga tinggal sendirian di apartemen. Tapi semenjak ada Keina yang mewarnai hidupnya ia semakin bergantung pada gadis itu. Tak bersama Keina membuat dia kesepian dan sangat merindukan gadisnya . Sesak dan sakit rasanya kalau berjauhan dengan gadis yang selalu menguji kesabarannya itu.


Gadis yang berhasil merubah prinsip hidupnya, membuat iya yakin untuk pertama kalinya ingin terikat dan menjalani hubungan pernikahan dengan segala konsekuensinya. Bukankah kalau belum mencoba kita tak akan pernah tau hasil akhirnya seperti apa? bisa jadi ia akan lebih bahagia nanti tak seperti kisah orangtuanya dulu.


Dan itu bukanlah hal yang mudah , meyakinkan hatinya sendiri bahwa apa yang ia rasa pada Keina selama ini adalah cinta. Dia tak pernah menerima keadaan Keina yang sudah mempunyai pacar . Tidak rela tubuh indah itu dimiliki, disentuh atau bahkan hanya dilihat oleh pria lain. Dan dia tak mungkin marah jika tak mencintai gadis itu. Itulah sebabnya ia ingin mengikat Keina agar gadis itu menjadi miliknya selamanya. Dia tak mau kehilangan gadis yang pertama kali membuat ia merasakan jatuh cinta.


Menyandarkan tubuhnya di atas sofa , kemudian menumbangkan kepalanya ke atas, dirinya menerka-nerka apa dia akan di tolak? Apa dia akan di campakkan ? apa mungkin Keina mau melepas Gevan secepatnya ? Membayangkan bagaimana statusnya dengan Keina yang belum jelas juga sampai saat ini membuat dadanya terasa semakin sakit.


Disaat Calvin sedang terhanyut oleh pikirannya , Tiba-tiba dering singkat ponselnya terdengar. Ada satu notif pesan masuk dari seseorang yang membuat ia segera meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja didepannya.


Keina sedang bertemu dengan Gevan di cafe mimpi dekat apartemen kakak!

__ADS_1


Siapa lagi kalau bukan Livy yang sengaja ingin memancing keributan dan membuat Keina menderita karena merasa bersalah.


Tak menunggu waktu lama ia langsung mengambil dompet dan kunci mobilnya dan bergegas ke cafe yang Livy katakan. Sesampainya di cafe yang Livy katakan ia langsung melihat sekeliling , rupanya apa yang dia takutkan terjadi.


Ya, Keina terlihat sedang duduk di salah satu meja paling ujung bersama lelaki yang paling ia benci. Calvin menahan diri sebentar untuk tidak langsung muncul dihadapan mereka. Dia membenarkan topi hitam miliknya, lalu berjalan menghampiri dua insan yang sedang bersitegang. Melihat Keina menangis membuat ia tak tahan ingin menarik gadis itu pulang saat ini juga.


" Kenapa gak jawab? Apa kamu buang cincin itu? Gak berharga kah buat kamu?Apakah Calvin lebih berharga dari cincin itu?" cecar Gevan yang seakan tak peduli dengan tangis Keina yang semakin menyedihkan.


" Gue yang buang! Kenapa? Gak suka loe? Brengssek ya loe ! beraninya bikin cewek nangis di depan umum! " suara bariton tiba-tiba menginterupsi keduanya yang tidak sadar akan kedatangan orang itu. Calvin tidak tahan mendengar tangisan Keina yang seakan mampu membuat hatinya berdarah.


" Loe? Loe ngapain ke sini, hah? " sentak Gevan melayangkan tatapan tajam ke arah pria yang dia anggap sebagai perusak hubungannya dengan Keina.


Calvin tak mempedulikan Gevan, mendengar Keina yang terus menangis tidak bisa membuatnya fokus kepada hal lain selain gadis yang telah merebut hatinya itu .


Sejak tangisnya pecah Keina hanya mampu menunduk, gadis itu terlalu malu memperlihatkan matanya yang basah pada siapapun yang pasti akan melihatnya.


" Pergi dari sini dan jangan ikut campur ! " sergah Gevan sambil menyandarkan tubuh di sandaran kursi dengan angkuhnya,tak lupa tangan yang ia lipat di depan dada.


Pria yang sudah menemani Keina selama dua tahun ini terlihat begitu marah dan kecewa melihat adegan yang benar-benar tidak pernah dia duga .


Gevan tidak pernah menyangka bahwa Calvin akan menyusul pacarnya pada saat momen yang sedang gaduh seperti sekarang ini.


" Jaga bicara loe ya! ini tempat umum atau loe mau mempermalukan diri loe sendiri? " ancam Calvin yang sebenarnya sudah sangat emosi. Tapi dia masih berusaha menahan amarahnya pada pria yang masih berstatuskan pacar, calon istrinya. bisakah dia menyebutnya seperti itu?

__ADS_1


" Kei, kita pulang ya! " Lanjut Calvin lagi mengesampingkan perasaan kecewanya pada gadis di hadapannya yang sudah membohonginya. juga rasa marah nya pada Gevan yang membuat Keina menangis didepan umum seperti ini.


" Kalian berdua memang cocok. " cibir Gevan dengan senyum di sudut bibirnya, menandakan bahwa dia sedang menghina kedua orang yang ada dihadapannya ini.


Keina mendongakkan kepalanya, menatap nanar ke arah pria yang masih duduk dengan menatap tajam ke arah dirinya.


Dengan menahan isak tangisnya Keina berusaha mengucapkan kalimat perpisahan kepada Gevan. Tentu karena dia tak ingin menambah banyak masalah lagi.


" Kak, Gevan terima kasih atas semua yang pernah kamu lakukan untukku dan aku meminta maaf atas semua kesalahan ku selama ini, yang membuat kamu marah dan kecewa. Hubungan kita memang harus berakhir sampai di sini saja. Ku kembalikan cincin pemberianmu. Aku berharap kamu selalu bahagia dan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku yang hina ini dan juga lebih mencintai kamu. " ucap Keina dengan air mata yang semakin deras meluncur ke pipi mulusnya.


" Oke, bagus. Aku juga mau nya begitu . Karena memang lebih baik seperti ini. Aku juga tak sudi bersama denganmu yang sudah disentuh oleh pria lain. " ucap Gevan yang sangat menohok hati Keina. Seolah dia wanita menjijikan yang sudah melempar tubuhnya pada pria lain disaat masih memiliki kekasih. Pria itu terlalu marah dan kecewa , semua yang terucap dari bibirnya adalah bentuk rasa sakit yang teramat dalam yang Keina torehkan.


Gevan mengambil cincin itu, lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan kedua orang yang masih termenung di sana.


Jangan tanya bagaimana perasaan Keina saat ini yang semakin merasakan sesaknya penghinaan dari orang yang pernah menyayangi nya dengan tulus. Tapi Keina bisa memahami hal itu, karena biar bagaimanapun dirinya lah yang salah dan telah memberikan luka yang teramat sakit untuk Gevan.


Inilah yang paling berat, bukan perpisahannya tapi cara nya, di saat hati belum siap tapi mereka harus berpisah apalagi Gevan tak pernah mengecewakannya, dia pria yang baik. itu lah sebabnya betapa sulit untuk Keina mengatakan berpisah pada pria itu. Meski dulu sempat mengatakan berpisah karena Gevan dijodohkan dengan wanita lain. Tapi perpisahan kali ini lebih sulit karena Keina merasa bersalah telah mengecewakan pria itu.


Awalnya ia ingin bicara baik-baik dan mengatakan hal yang masuk akal untuk perpisahan mereka agar tak terlalu mengecewakan Gevan. Tapi sayang Gevan lebih dulu mengetahui pengkhianatannya.


Ada rasa khawatir juga yang mulai muncul karena Calvin mengetahui kebohongannya. Pria itu menemukan dirinya bukan bersama Ara melainkan Gevan. Masalah kemarin saja belum selesai ditambah masalah sekarang, akan seperti apa murkanya seorang Calvin Alexander?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2