Tawanan Cinta sang Cassanova

Tawanan Cinta sang Cassanova
Tak bisa romantis


__ADS_3

Hanya saja apa dia beneran mau sama kamu? " ledek papa Rudi diikuti gelak tawa. Calvin tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.


" Jadi papa setuju kan? " tanya Calvin memastikan apakah papa nya menyetujui keinginannya atau tidak .


" Tentu saja papa setuju . Kedua anak papa akan menikah bagaimana mungkin papa menolak. " jawabnya yakin dan mantap.


" Terus, kenapa tadi papa bersikap kaya gitu? Sengaja ya ngerjain aku? " tanya Calvin penuh selidik.


Papa Rudi tersenyum, meraih pundak putranya dan menatap lekat manik gelap dan wajah yang sangat mirip dengannya juga campuran kulit putih dan mulus mantan istrinya itu.


papa Rudi mengagumi hasil karyanya bersama mantan istrinya yang telah mengkhianatinya.Calvin adalah wujud nyata bahwa dia pernah mencintai seorang wanita yang pada akhirnya memilih pergi meninggalkan cinta dan anak kandungnya sendiri. Sungguh ironi memang , tapi papa Rudi tidak pernah menyesali masa lalunya yang kelam itu. Ia pun tak bisa membenci wanita yang telah melahirkan Calvin karena biar bagaimanapun dia ibu kandung Calvin yang sudah mempertaruhkan nyawa saat melahirkan putranya. Setidaknya ia tak ingin menanamkan kebencian kepada anak semata wayangnya itu.


" Papa hanya ingin melihatmu marah . Sudah lama rasanya papa gak pernah liat kamu marah seperti tadi. Maafkan papa, Vin. "


Calvin memeluk erat tubuh yang tidak lagi muda itu . Menumpahkan segala rasa hormat dan cinta di pundak yang sudah puluhan tahun memikul beban hidupnya.


" Terima kasih banyak, Pa. Maafkan Calvin juga yang pada akhirnya bersikap tidak sopan pada papa. " sesalnya memeluk erat sang papa .


" Gak masalah, papa yakin kamu anak papa yang mampu bertanggung jawab atas segala apapun yang kamu pilih. "


ceklek


Terdengar suara pintu yang dibuka dari luar membuat Calvin dan papa Rudi melepaskan pelukan mereka.


Menoleh ke arah daun pintu yang kini sudah terbuka dan sosok wanita anggun tengah berdiri dan tersenyum di sana.


" Wah, sepertinya mama kelewatan momen nih. " ucapnya berjalan mendekat ke arah suami dan putra sambungnya. Calvin dan papa Rudi saling tatap kemudian kembali tertawa bersama.


" Anak kita udah besar Mah, dia pengen kawin katanya. " adu papa Rudi pada istrinya yang baru saja datang.


" Bagus dong, lebih cepat lebih baik. " ucap mama Eva dengan mata berbinar menatap ke arah Calvin yang saat ini tengah tersenyum menunduk bahagia.

__ADS_1


" Iya lah dari pada kelamaan nanti cucu kalian malah hadir lebih dulu sebelum nikah " ceplos Calvin asal .


" Astaga, Calvin! Jangan bilang kamu sering menyelinap ke kamar Keina saat mama dan papa gak ada dirumah ya? " kesal mama Eva sambil bertolak pinggang menatap tajam ke arah putranya.


" Gak ko mah, Calvin cuma bercanda. " elaknya yang sudah pasti ia tengah berbohong untuk hal yang satu itu.


" Gak, mama gak percaya sama kamu! Udah kalian mending cepet nikah deh ! mau kapan? biar mama atur mulai sekarang." sahut mama Eva yang terlihat antusias ingin menyiapkan acara pernikahan untuk Calvin dan Keina.


" Mama beneran mau urus semuanya? " tanya Calvin berbinar.


"Tentu aja, katakan selera kalian yang kaya gimana? mama jamin bisa atur semuanya. " jawabnya dengan yakin.


" Tapi papa yang bayar ya? " sahut Calvin sambil nyengir kuda ke arah papanya. Menggoda sang papa untuk membiayai pesta pernikahan nya nanti.


" Siapa takut! Kamu pikir papa gak mampu? " ucap Papa Rudi menyombongkan diri di hadapan anak dan istrinya.


" Wesss, Calvin suka gaya papa kaya gini nih. Oke Mah, atur semuanya. Minta uangnya sama papa. Sekarang Calvin mau kerja cari uang buat bulan madu keliling dunia. " kemudian bergantian mencium pipi kedua orang tuanya lalu bergegas pergi.


Papa Rudi dan mama Eva sangat bahagia. Tidak menyangka seorang Casaanova yang tidak pernah mau menjalin hubungan dengan wanita manapun, kini sudah dewasa dan ingin berumah tangga.


...----------------...


Sepulang kerja, Calvin menjemput Keina di butik. Ia mengajak gadis kesayangannya itu ke sebuah restoran, meski keduanya sudah makan siang namun setelah bekerja menghabiskan cukup energi tak ada salahnya bukan mengisi kembali tenaga mereka dengan makanan untuk memanjakan perut keduanya.


" Kei, aku pengen kita secepatnya menikah. " ucap Calvin santai tanpa beban.


Uhuk. uhuk. uhuk.


" Sayang, are you okay? "Calvin panik, mengambil sebuah tisue untuk membantu membersihkan tangan dan pipi Keina yang basah karena jus yang sedang ia minum. Gadis itu hanya mengangguk


mengiyakan bahwa dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


" Kakak tadi bilang apa? " tanya Keina lagi memastikan apa yang ia dengar tidak salah.


" Aku cinta sama kamu, aku gak tahan tidur sendirian tanpa kamu. Kita nikah ya! " ulang Calvin menatap teduh wajah sang kekasih yang masih sesekali tersengal karena sisa minuman yang membuatnya tersedak.


" Dulu ngajak nikah di atas ranjang, sekarang udah bagus di restoran ngelamarnya tapi gak ada cincin pula. Gak romantis banget sih. Dimana-mana cowoknya itu berlutut di hadapan ceweknya sambil ngasih cincin sambil nanya, will you marry me? " ucap Keina mencebik sambil membenarkan posisi duduknya.


Mana ada orang melamar mengatakan karena tidak tahan tidur sendirian, Kata-kata yang Calvin keluarkan pun bukan seperti mengajak menikah tapi justru lebih seperti memaksa untuk menikah. Pria itu benar-benar tidak romantis, pikir Keina .


Calvin tertawa , menertawakan dirinya yang memang sulit sekali untuk romantis.


" Maaf sayang, tapi menurutmu bagaimana kalau kita menikah secepatnya, hm? " ulang Calvin menanyakan kembali soal keinginannya untuk secepatnya menikah.


"Apa kakak udah benar-benar siap? " tanya Keina memastikan . Usia mereka masih muda dan ego mereka pun sama-sama masih tinggi , tentu Keina memiliki kekhawatiran sendiri tentang pernikahan yang akan ia jalani nanti bersama Calvin.


" Siap apa? Aku bahkan sudah sangat siap sejak setahun yang lalu. Tapi pak tua itu selalu mengganggu hubungan kita . " sahut Calvin yang kesal sendiri kalau mengingat sang papa yang memintanya menyelesaikan kuliahnya dulu baru boleh menikah. Terlebih selama setahun papa Rudi membuat ia terpisah dari Keina yang tidak lagi boleh tinggal di apartemen bersama dengannya.


" Itu papa ku! kakak jangan menjelek-jelekkan papa! Aku gak terima ya. Nanti aku aduin ke papa biar menarik kembali restunya untuk kakak. " ketus Keina sambil melotot dan itu membuat Calvin semakin gemas saja.


" Aku bercanda sayang, tapi kan emang dia pak tua yang menyebalkan. "


" Dasar anak gak tau diri! "


" Jangan mengalihkan pembicaraan kita, Kei . " pinta Calvin mengambil tangan sang kekasih yang ada di atas meja untuk ia genggam. Menatap wajah yang semakin hari semakin cantik itu.


" Hai, Kak Calvin. Apa kabar? "


.


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2