
" Brengssek! " umpat Calvin lalu pergi begitu saja meninggalkan Ara yang tak kalah emosi karena ponsel yang ia beli dengan susah payah hancur berkeping-keping.
" Loe gak pa-pa? " tanya Axel yang rupanya melihat kegilaan Calvin barusan.
Mereka memang tak datang bersama tapi berjanji untuk berkumpul seperti biasa di cafe. Saat Axel baru tiba dia melihat Calvin membanting sebuah ponsel dan pergi begitu saja. Axel yang paham kalau sahabatnya sedang dalam keadaan emosi pun tak mau menyapa apalagi bertanya. Dia memilih menghampiri seorang gadis yang matanya sudah mengembun karena ponselnya di rusak Calvin.
" Gak apa-apa gimana? ini ponsel aku rusak! " kesal Ara menatap sinis ke arah Axel yang berdiri menatap dirinya sedang menyelamatkan kartu seluler dan memori yang masih bisa di pakai.
Axel menarik lengan Ara agar mau ikut dengannya menuju parkiran di mana mobilnya berada .
" Eh-eh mau kemana? " tolak Ara menepis tangan Axel.
" Beli ponsel baru buat loe. " entah apa yang ada di pikiran Axel saat ini sampai ia harus peduli dengan Ara yang bukan siapa-siapa nya. Bahkan mereka tak pernah sekali pun saling bicara walau setiap hari bertemu di cafe. Tapi melihat Ara sedih saat ponselnya di rusak Calvin membuat ia ingin sekali menolong gadis itu.
Kini Axel dan Ara sedang berada di lantai dua sebuah Mall. Pria itu mencari ponsel yang sesuai untuk Ara sebagai ganti ponselnya yang dirusak Calvin.
" Kak ini yakin mau beliin aku ponsel? Sebenarnya gak usah di ganti gak pa-pa kok."
Ara tentu khawatir kalau dirinya akan bernasib sama dengan sahabatnya . Jadi dia memilih untuk tidak diganti rugi saja handphonenya dari pada nanti ia harus membayarnya dengan cara yang tak masuk akal. Tak ada yang gratis di dunia ini bukan?
" Gak akan , Jangan samain gue sama Calvin yang dengan liciknya menjerat gadis dengan alasan sebagai ganti untuk membayar hutangnya. Jadi loe tenang aja, gue murni karena kasihan gak ada maksud buat jadiin loe partner ranjang kaya yang Calvin lakuin sama temen loe . " jawab Axel dengan senyum mengembang .
Tanpa ia sadari apa yang di ucapkannya ini sudah membuka rahasia yang Keina tutup rapat di depan Ara. Axel juga tak mengetahui bahwa Keina tak pernah menceritakan semua ini pada Ara, yang Axel tau mereka bersahabat dekat jadi mungkin Keina juga menceritakan semuanya pada Ara. Sama seperti halnya ia dan Calvin yang suka bertukar cerita.
" Apa? " Ara menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.
Kedua matanya membulat mendengar penuturan Axel, ia tidak menyangka kegilaan yang mungkin sudah terjadi pada Keina sahabatnya. Yang ia tau Keina punya perjanjian menjadi kekasih Calvin selama dua bulan tapi ia tak menyangka bahwa Keina di jadikan partner ranjang oleh sang cassanova.
" Eh bentar, Calvin telpon. " ucap Axel saat ponselnya berdering dan kemudian ia segera mengangkatnya.
" Apa? "
" Loe dimana? " tanya Calvin dari seberang telepon.
" Gue lagi di Mall sama Ara. "
" Kok bisa, sejak kapan loe pergi sama Ara. "
" Yeee.. si kampreet tadi loe di cafe papasan sama gue gak liat emang loe? "
" Sorry gue lagi emosi. Loe kencan sama Ara? "
__ADS_1
" Gak gila! gue lagi beliin dia ponsel baru. Anak orang loe bikin nangis ponselnya loe rusak. Sinting emang kalo emosi sampe lupa ponsel siapa yang loe banting. "
" Gue lagi emosi banget, Xel. Loe beliin aja mana yang dia mau, nanti gue transfer uangnya. "
" Santai, biar gue yang beliin. "
" Cih modus. "
" Gue ikutin jejak loe. "
" Sekalian gue minta bantuan loe. "
" Apa? "
Kemudian Axel terdiam mendengarkan Calvin berbicara. " oke nanti gue kasih tau loe . " kemudian mematikan sambungan telepon nya .
Axel menatap datar wajah Ara yang tampak masih syok mendengar kata partner ranjang dari bibir Axel beberapa menit lalu.
" Kenapa? " tanya Ara mulai tidak nyaman di lihat sebegitu intensnya oleh seorang pria.
" Loe pasti gak mau Keina kenapa - kenapa kan? " tanya Axel ambigu . Membuat Ara semakin mengkhawatirkan keadaan Keina sekarang. Apakah Calvin tau kalau Keina pergi dengan Gevan?
" Tentu aja dia sahabatku, kenapa memang? Jangan bilang kalian mau mengancamku? " tebak Ara.
" Ya, begitulah. Ini bisa menjadi sebuah ancaman . juga bisa menjadi sebuah negosiasi . Tergantung loe mau menyebutnya apa. " jelas Axel yang membenarkan dugaan Ara.
" Astaga! Apa lagi ini? " keluh Ara mengusap wajahnya lesu. Sebagai sahabat tentu ia tak ingin Keina kenapa-kenapa tapi siapa yang akan menjamin akan hal itu ? tidak ada!
" Calvin minta loe kasih tau dimana Keina sekarang juga atau kalau sampai dia sendiri yang menemukan Keina . Calvin gak mau menjamin kalau Keina akan baik-baik aja. " jelas Axel sesuai dengan apa yang Calvin sampaikan di telepon tadi.
...----------------...
Calvin tersenyum penuh keangkuhan . Dirinya sudah tau dimana Keina berada sekarang. Ini akan menjadi pertemuan yang mengejutkan bagi Keina yang menganggap Calvin tidak akan menemukan dirinya.
Sampai di Mall ia menuju sebuah restoran yang terdapat di dalam Mall. Calvin berjalan mencari dimana gadis yang membuat nya sangat kesal berada.
" Hai... " sapa Calvin tersenyum getir saat sudah berdiri di dekat meja Keina.
" Ka-kak Calvin. "
Melihat Calvin yang tersenyum getir membuat hati Keina merasa bersalah dan terasa sakit di bagian kecil di dalam sana. Tatapan Calvin benar-benar lain . Tampak menunjukkan kekecewaan yang luar biasa besar. Bahkan jantung Keina bagai di hujam ribuan pisau hingga berhasil mengoyak jiwanya.
__ADS_1
" Iya gue, gue yang dateng , Kei. Kenapa? ada masalah? " tanya Calvin yang kemudian duduk di sebelah Keina. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan bertumpu kaki dan melipat tangan di atas dada bidangnya.Dada yang membuat Keina merasakan nyaman luar biasa.
"Eng-enggak kak. " Keina gugup saat ini bercampur khawatir. Dia datang bersama Gevan dan saat ini pria itu sedang berada di toilet . Ia takut kalau Calvin bertemu Gevan akan terjadi keributan seperti sebelumnya.
kenapa aku seperti menyesal telah menghindar dan membohongi kak Calvin ? ada apa denganku? banyak pertanyaan berkecamuk didalam pikirannya.
" Ikut gue pulang! " titah Calvin yang langsung di tolak oleh Keina dengan cara menggelengkan kepala. Bagaimana mungkin ia bisa pergi begitu saja dengan Calvin sementara ia datang bersama Gevan. Dirinya tak ingin kalau harus meninggalkan Gevan begitu saja seperti sebelumnya.
" Ikut gue pulang sekarang atau Gevan yang menanggung semua kesalahan loe? " ancam Calvin yang semakin memajukan tubuhnya menatap nyalang wajah panik Keina.
Kedua mata Keina bahkan membulat sempurna mengingat Calvin pasti tau bahwa dirinya bersama Gevan hari ini.Tentu itu tidak menutup kemungkinan bahwa Calvin bisa saja menyakiti Gevan dengan menyerang fisiknya atau mentalnya.
" Keina Arlova... "
" Iya kak . Maafin aku. jangan apa-apakan kak Gevan " Keina memohon agar kekasihnya jangan sampai disakiti hanya karena dirinya.
" Jadi dia lebih penting dari pada gue? Iya Kei? jawab? " sentak Calvin semakin menggila sambil menekan kedua sisi pundak Keina agar menjawab pertanyaan nya.
" Maaf. " jawab Keina lirih.Ia merasakan nyeri di bagian pundak karena terus di cengkram kuat oleh sang cassanova.
Calvin tersenyum getir . Dia benar-benar mengasihani dirinya sendiri yang gila ini.
" Sekarang loe ikut gue pulang. "
" Ta-tapi kak.. "
" Masih mau bantah lagi ? Iya Kei? " ancam Calvin dengan senyum kejam khas iblis dari bibir yang senang memangut bibir mungil Keina.
" Atau mau gue bilang sama Gevan apa yang sudah terjadi diantara kita? " lanjut Calvin.
" Oke kita pulang. " Keina bangkit dari duduknya dan lagi-lagi ia memilih bersama Calvin dan meninggalkan Gevan begitu saja. Pria itu pasti akan kecewa lagi padanya .
Gevan yang baru saja kembali dari toilet mendadak bingung saat Keina tak lagi ada di sana. Bahkan ponsel gadis itu tak bisa dihubungi. Awalnya memang Gevan pergi ke toilet tapi setelah itu sang mama menelpon maka dari itu Gevan berada cukup lama di toilet .
Selain karena tak ingin sang mama tau ia pergi bersama Keina. Dia juga tak ingin Keina mendengar apa yang ia bicarakan dengan mamanya perihal perjodohan dan itu pasti akan memicu pertengkarannya kembali bersama Keina. Ia yang ingin tetap bertahan meski tanpa restu sedangkan Keina yang ingin melepaskan dengan alasan tak ingin Gevan menjadi anak durhaka.
" Kamu dimana Kei. Kenapa pergi tanpa pamit? "
.
...****************...
__ADS_1