Tawanan Cinta sang Cassanova

Tawanan Cinta sang Cassanova
Keraguan


__ADS_3

" Loe manusia gak tau diri yang pernah gue temuin ! loe udah ngerusak hubungan gue sama Keina dan loe juga yang mau ngajarin gue soal itu? loe bener-bener gak tau diri, Man! " timpal Gevan yang mendengar percakapan antara Calvin dan Keina.


Tentu saja Calvin semakin terbakar saat Gevan mengatakan hal itu. Entah bagaimana pun Calvin tidak pernah berurusan dengan Gevan sebelumnya.


Hubungannya dengan Keina pun kandas juga bukan sepenuhnya karena Calvin .Keina benar-benar tidak ingin bersama Gevan karena terhalang restu , namun pria itu tetap saja memaksa Keina bertahan dengannya . Dan ini lah akhir dari awal yang satu ingin bertahan dan yang satunya ingin melepaskan.


" Keina, please! aku mana bisa membiarkan dia yang terus mengganggu kita. Aku tidak pernah bermaksud merebutmu dari siapapun . Kamu tau itu bukan? " ujar Calvin berusaha lembut saat amarahnya kini kian meledak seiring dengan tatapan Gevan ke arahnya yang semakin membuatnya ingin menelan mantan kekasih Keina itu hidup-hidup.


" Kamu cinta sama aku gak? " sentak Keina yang mulai kehabisan akal untuk meredakan emosi Calvin yang kian berkobar bak si jago merah.


" Fuckkk! Kenapa kamu tanyakan hal itu lagi saat kamu sudah tau apa jawabannya , Keina! " pekik Calvin semakin frustasi.


Tangannya sudah sangat gatal ingin membalas atas apa yang telah Gevan lakukan terhadap dirinya dan juga hubungannya dengan Keina.


" Kalau kamu cinta sama aku, jangan hiraukan dia dan cukup lihat aku saja , bisa? "balas Keina tidak kalah lantang jeritan nya.


" Keina! Dia hanya manfaatin kamu dan tubuh kamu! Kamu harus sadar itu! " sentak Gevan yang kini mulai terprovokasi oleh kedua orang yang saat ini masih berpelukan dan sang wanita sedang berusaha untuk menenangkan prianya.


" Diam! tau apa kamu soal manfaat dari seseorang ? kamu mending sekarang urus diri kamu sendiri ! Aku sudah mengakhiri semuanya . Meminta maaf dan melupakanmu . Lalu apa lagi yang kamu minta. hah? " bentak Keina yang kini mulai melepaskan pelukannya di tubuh Calvin.


" Keina, aku cinta sama kamu . Tapi aku gak bisa diem aja. " ucap Calvin lalu beringsut berlari menyerang Gevan yang saat ini tidak dalam posisi siap.


Bugh!

__ADS_1


" Satu untuk loe yang terus berusaha mengambil Keina-ku. "


Bugh!


" Dan yang ini hadiah dari wanita yang telah melahirkan gue dan loe hina hari ini! "


Calvin mendaratkan dua bogem mentah tepat di pipi Gevan dan membuat luka memar yang cukup. parah di sana.


" Kak, Calvin. Stop! Aku mohon, Stop! " pekik Keina yang saat ini menarik lengan Calvin agar segera turun dari tubuh Gevan yang sudah terkapar tak berdaya meski hanya dengan dua pukulan saja.


Tiga orang itu tampaknya sudah mulai menjadi pusat perhatian orang-orang yang mulai berlalu lalang untuk pergi meninggalkan pantai karena hari mulai gelap. Gurat senja sudah semakin menghilang seiring terbitnya luka dan air mata dari insan yang sore ini terluka.


Gevan tidak lagi mengeluarkan kata-kata beracunnya . Tidak pingsan, namun juga tidak berniat segera bangun karena wajahnya yang terasa nyeri juga kepalanya terasa sedikit pusing karena hantaman keras dari kepalan tangan Calvin.


" Kita balik ke hotel! titah Calvin menggandeng tangan Keina yang sepertinya masih ingin di sana untuk memastikan apakah Gevan baik-baik saja setelah apa yang baru saja dilakukan oleh kekasihnya .


" Nanti biar ada orang hotel yang urus . " ucap Calvin mempercepat langkah kakinya hingga membuat Keina harus berlari kecil demi bisa mengimbangi langkah kaki lebar Calvin.


Kemudian Keina hanya terdiam dan memilih untuk tidak mengatakan apapun saat ini. Dalam hati ia juga tidak bisa menyalahkan Calvin yang telah melakukan kekerasan terhadap Gevan . Sangat jelas bahwa mantan pacarnya itu yang memulai keributan, bukan Calvin.


Keina mengusap jejak air mata yang mulai mengering. Sampai di hotel mereka berdua tidak bertemu dengan teman-temannya membuat Keina merasa sedikit lega karena dia tidak perlu menjelaskan apa dan mengapa soal kejadian sore ini.


...----------------...

__ADS_1


" Kamu mau makan di bawah , apa mau room service aja,sayang?" tanya Calvin yang kini baru saja selesai mandi menghampiri Keina yang tengah duduk bersandar di tengah ranjang sambil memainkan ponselnya.


" Aku gak lapar. "jawab Keina tanpa menoleh ke arah Calvin yang saat ini berdiri di samping ranjang.


" Kamu marah sama aku? " tanya Calvin mencoba memperbaiki komunikasi mereka berdua yang kian memburuk setelah kejadian sore tadi di tepi pantai.


" Enggak! " jawab Keina datar . Terdengar biasa saja memang, namun tidak bagi Calvin . Cueknya Keina adalah malapetaka baginya.


Calvin masih menggunakan handuk di pinggangnya. Menyusul Keina yang sudah berpakaian piyama tidur lengan panjang bermotif bunga berbahan satin.


" Aku tau kamu ragu Kei, tapi itu semua hanya masa lalu. Aku jamin sekarang bahwa aku tak akan meninggalkanmu dan menyakitimu. Kamu tau bukan seperti apa pernikahan orang tua ku? seperti apa mama mengkhianati papaku. Aku mungkin takut untuk berkomitmen karena takut pernikahanku akan berakhir sama seperti mereka, tapi setelah bertemu dengan mu semua berubah. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama kamu, menjalani pernikahan dan hidup bahagia sama kamu, Kei. Aku berusaha mencoba menjalaninya sama kamu, karena aku gak akan tau bagaimana akhirnya kalau belum mencobanya bisa jadi pernikahan kita jauh lebih baik dan bahagia. Dan aku pastikan pernikahan kita tak akan berakhir sama seperti orang tua ku dulu yang saling menyakiti lalu meninggalkan. Aku gak akan menyakiti kamu, karena aku tak sama seperti mama ku yang mengkhianati papa demi pria lain. "


Keina percaya saat ini Calvin benar-benar mencintainya, tapi siapa yang bisa menjamin kalau Calvin benar-benar akan berubah ? siapa yang tau suatu saat dia akan kembali menjadi sang cassanova yang suka berganti wanita untuk menghangatkan ranjangnya? Tidak ada bukan?


" Sayang, please percaya sama aku. Aku mohon jangan pernah tinggalin aku . " ucap Calvin lirih. Meraih tubuh Keina yang tidak menyambut ke dalam pelukannya. Hanya pasrah , tidak menolak namun juga tidak ingin membalas kembali pelukan tubuh nyaman yang selalu menghangatkan tidurnya di setiap malam yang sangat dingin.


" Aku memang Calvin yang mempunyai masa lalu yang sangat buruk . Namun pada akhirnya aku menemukan mu, kamu adalah rumah ku, tempat aku pulang. Aku benar-benar sungguh bukan hanya singgah."


Calvin memeluk erat Keina yang masih terdiam . Gadis itu tidak tau akan berkata dan bersikap bagaimana terhadap Calvin.


Nyatanya di dalam perasaannya saat ini ada sedikit keraguan karena perkataan Gevan sore tadi yang mengganggu pikiran dan hatinya. Meski Calvin mencoba meyakinkan tentu tak semudah itu membuat perasaannya tenang dan percaya begitu saja.


.

__ADS_1


...****************...


udh up tiga bab hari ini guys, jangan lupa like dan hadiah bunganya. Besok hari senin, boleh lah mnta vote nya kalo bisa🤭 Saranghae ā¤


__ADS_2