
Satu tahun telah berlalu, Calvin sudah menyelesaikan kuliahnya. Menjadi lulusan terbaik di pendidikan bisnis menjadikan Calvin lebih percaya diri untuk memimpin perusahaan sang Ayah.
Kehidupan Calvin dan Keina sejauh ini baik-baik saja. Namun bedanya saat ini mereka sudah tidak lagi tinggal bersama di apartemen seperti dulu. Sejak setahun yang lalu papa Rudi dan mama Eva melarang keduanya tinggal bersama.
Bukan tanpa alasan, itu semua karena orang tua itu takut kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan. Kehamilan, ya kehamilan yang Keina sendiri belum siap untuk saat ini. Jadilah Calvin tinggal di apartemen sendiri dan Keina tinggal bersama orang tua Calvin. Beruntung papa dan mama Calvin sangat menyayanginya dan sudah menganggap Keina seperti putri kandungnya sendiri, sebab Calvin adalah anak tunggal dan mama Eva sendiri belum memiliki anak hingga saat ini sehingga kehadiran Keina dirumah tentu membuat kedua pasangan baya itu sangat bahagia.
Dan Keina pun kini membantu mama Eva di butik miliknya. Keina yang memang dulu mempunyai mimpi untuk bisa menjadi seorang yang ahli dalam desain pakaian dan menciptakan mode membuat mama Eva memintanya kursus setahun yang lalu. Tentu dengan izin yang sangat sulit mereka dapatkan dari Calvin. Sampai akhirnya pria posesif itu menurunkan egonya agar Keina bisa mewujudkan semua impiannya dulu.
Hari ini Calvin memutuskan untuk menghadap kedua orang tuanya untuk meminta restu . Pria itu sudah sangat tidak sabar ingin segera menikahi wanita yang selama ini mampu menggetarkan hati, jiwa dan raganya siapa lagi kalau bukan Keina.
Datang ke ruang kerja papanya , Calvin sengaja datang ke kantor lebih lambat hari ini demi bisa bertemu dengan papa nya lebih dulu.
" Pah, ada yang ingin Calvin bicarakan . " Pria itu merasa gugup luar biasa. Seperti sedang menghadap calon mertua , padahal yang di hadapannya saat ini adalah orang tuanya sendiri.
Papa Rudi tidak langsung menyahut , diam sejenak menutup laptop miliknya kemudian baru menatap putranya yang saat ini tampak gugup.
" Katakan. " titah papa Rudi menatap serius wajah putra semata wayangnya yang saat ini masih berdiri tegak di hadapannya. Berbatasan sebuah meja besar , Calvin sepertinya sengaja tidak duduk untuk meyakinkan bahwa apa yang akan disampaikannya kali ini adalah benar-benar hal yang sangat penting.
" Aku harap papa mendukungku sepenuhnya dalam hal apapun. "
" Tentu saja, kamu putra papa . Sudah sepantasnya papa mendukung apapun yang kamu inginkan. Selama keinginan itu tidak bertolak belakang dengan keinginan papa. " jawabnya santai . Namun berhasil membuat Calvin sedikit berpikiran negatif tentang sang ayah.
" Calvin ingin menikah secepatnya. "beritahunya pada papa Rudi. Pria yang baru saja lulus kuliah satu bulan yang lalu itu sudah tidak sabar lagi ingin segera mempersunting kekasih hatinya.
Lalu papa Rudi kemudian terdiam. Seakan tidak memberi respon yang baik terhadap keinginan putranya kali ini.
__ADS_1
Sementara Calvin merasa ada yang lain dari papanya. Tidak langsung menjawab soal keinginannya yang mengatakan akan segera menikah .
" Calvin sudah lulus kuliah pah. Papa sudah pernah berjanji waktu itu. Aku udah cukup mampu berumah tangga. " Calvin sedikit menaikkan nada bicaranya . Terdengar menggebu dan menuntut, meski belum ada respon apa-apa dari papa Rudi. Belum tentu juga papa Rudi menolak keinginannya.
" Tapi apakah kamu sudah benar-benar siap? kamu baru saja lulus kuliah, usia mu masih terlalu muda ,Vin. Begitu pun dengan Keina. Apa tidak lebih baik kamu melanjutkan S2 mu dulu? "
" Jadi maksud papa apa? "Calvin benar-benar tidak habis pikir kalau papa Rudi akan bersikap dingin seperti tidak mendukung keinginannya.
" Papa hanya tidak ingin kamu menikahi wanita hanya karena hawa nafssu saja. "
Kedua mata Calvin berhasil membulat sempurna . Tidak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan oleh papanya itu.
" Papa ini sebenarnya mau nya apa? Dulu papa sendiri kan yang bilang kalau aku boleh menikahi Keina kalau aku udah lulus kuliah. Dan sekarang kenapa jawaban papa kaya gitu!" ketus Calvin yang mulai tersulut emosi karena papa nya seperti tidak mendukung niat baiknya itu.
" Papa tidak melarang Calvin. Papa hanya mengingatkan saja apakah pernikahan adalah solusi terbaik untuk hubungan kalian saat ini ? Apakah harus saat ini juga? Ataukah memang sebenarnya kamu yang terlalu memaksakan ? " Rudi malah tersenyum melihat putra semata wayangnya itu tampak tersulut emosi saat membahas tentang keinginannya yang akan menikahi Keina.
Calvin mungkin lebih dewasa tapi tentu karakternya yang temperamen dan mudah sekali meledak itu tetap melekat dalam dirinya. Ia adalah orang yang sama tak ada yang berubah darinya hanya saja dia sudah pensiun dari kebiasaan yang suka bergonta - ganti wanita.
" Kamu ini kenapa sih, Calvin? " keluh papa Rudi melihat sikap putranya itu yang tampak kelimpungan sendiri padahal dirinya hanya menjawab dengan jawaban yang santai.
" Papa ini yang kenapa?Aku mau nikah banyak banget syaratnya! " ketus Calvin menjatuhkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan papanya. Terpisahkan meja yang kini menjadi tumpuan siku Calvin, memijat keningnya yang terasa pening tiba-tiba.
Papa Rudi tertawa melihat putranya yang meledak . Benar-benar membuatnya merasa bahagia telah membuat Calvin emosi luar biasa. Sesekali menjahili anak sendiri tak masalah bukan? pikir papa Rudi.
Sementara Calvin semakin kesal namun juga heran kenapa papa nya itu malah tertawa. Apakah sedang menertawakan dirinya?
__ADS_1
" Papa tidak memberi mu syarat lagi lho. Hanya menyarankan. "
" Pokonya Calvin mau nikah, titik! " dahi Calvin semakin mengerut membuat alisnya tampak menukik sempurna. Tanda bahwa Calvin Alexander saat ini benar-benar murka.
" Oke, menikahlah . Asal wanita yang akan kamu nikahi itu benar-benar mau menjadi istrimu. "
" Ya, jelas lah pasti mau! " sentak Calvin yang kesal dengan perkataan papa nya.
" Terlalu percaya diri kamu, Vin. "
" Dah lah, Calvin mau ke kantor . Ngomong sama papa bikin aku emosi doang . "Calvin beranjak dari kursi berniat ingin pergi keluar ruangan kerja papanya.
" Jadilah pria yang baik, papa minta tolong sama kamu jangan kecewakan Keina, jangan sampai pernikahan kalian sama dengan pernikahan papa dulu. "
Calvin seketika menghentikan langkahnya . Menatap kosong ke arah papa Rudi yang saat ini sudah berjalan ke arah dirinya. Calvin merasa ada benda yang sangat besar menghantam dadanya. Terasa sesak dan menyakitkan karena dia harus mengingat kembali kenangan buruk di masa lalu yang telah berhasil menghancurkan dirinya.
" Pah, aku dan Keina lain. Kami saling mencintai , Aku akan berusaha agar pernikahan kami gak akan berakhir seperti papa dan mama. "
Papa Rudi kembali mengingat bagaimana hancurnya dirinya dan juga Calvin pada saat kepergian wanita yang dicintainya itu. Dan Rudi sungguh tidak pernah menginginkan kejadian buruk itu terulang kembali.
" Pastikan keputusan kalian benar-benar matang . Papa juga tau kalau Keina adalah gadis yang baik. Hanya saja..... "
" Hanya saja apa pah? "
.
__ADS_1
...****************...