
Menghela nafas kesal, menundukan kepala . Dengan sangat terpaksa Calvin menghentikan aksinya . Dia benar-benar tidak bisa menyentuh Keina sampai bantalan yang menghalanginya tak ada lagi.
" Huh, yaudah sekarang tidur ! " titah Calvin yang masih kesal merutuki kodrat wanita yang harus ada masa datang bulan.
" Aku udah gak bisa tidur. " ujar Keina mengerjapkan matanya. Menatap langit-langit kamar berwarna putih, menatap sendu karena tiba-tiba dia teringat akan nasibnya saat ini yang mulai bergantung pada hidup seorang Calvin yang sebenarnya bukan siapa-siapa nya.
" Kenapa? pengen ya? " goda Calvin.
" Aku di pecat . " beritahu Keina , spontan ia mengungkap hal yang membuatnya saat ini merasa sedikit gundah.
Bagaimana Keina akan melanjutkan hidup ? bagaimana dengan teror ibunya yang meminta uang lima juta perbulan?
" Baguslah. " celetuk Calvin tak merasa bersalah sama sekali. Dia sesantai dan setenang itu mendengar Keina dipecat, bisa di bilang dia cukup senang Keina bisa selalu bersamanya tanpa harus khawatir kalau Gevan akan terus menemui Keina di cafe.
" Kamu tau kenapa aku di pecat? " tanya Keina yang langsung mendapat gelengan kepala dari Calvin." Mama nya kak Gevan tau kalau aku sering bertemu sama putranya. Dia marah karena diam-diam aku masih berhubungan sama kak Gevan padahal dia sudah dijodohkan. Maka dari itu mamanya meminta pemilik cafe buat pecat aku. " keluh Keina masih menatap lurus tidak menghiraukan calvin yang saat ini sudah memeluknya dari samping.
" Ya gak masalah, Aku masih sanggup hidupin kamu . " balas Calvin tidak mau kalah. Karena sebenarnya Calvin tidak suka melihat Keina bekerja dan akhirnya mengurangi waktu kebersamaan mereka. Dan yang lebih mengkhawatirkan ia tak suka kalau Gevan terus saja datang ke Cafe menemui Keina. Dengan begini bukankah Gevan akan sulit menemui gadisnya lagi?
" Aku bukan benalu, aku gak bisa terus-terusan bergantung sama kamu, kak. "
Calvin menarik tubuh Keina agar mau menghadap dirinya. Dalam hati Calvin memantapkan diri untuk segera mengungkapkan sebuah pengakuan di hadapan Keina.
" Lihat aku! Kamu tau ? Sebelumnya aku gak pernah membawa seorang gadis ke apartemen. Aku gak pernah menginginkan seorang gadis seperti saat aku melihat kamu. Aku mau kamu di sini , selamanya sama aku. " Calvin menatap Keina dengan lembut sambil mengusap halus pipi Keina yang putih mulus.
__ADS_1
" Tapi kak, apa kata orang kalau kita tinggal bersama tanpa sebuah ikatan ? belum lagi orang tua mu, apa kata mereka nanti? "
" Ayo, kita menikah!"
deg
" Bu-bukannya kakak gak mau terikat dengan sebuah pernikahan? Kenapa sekarang berubah? " tanya Keina yang masih mengingat jelas apa yang pernah Calvin ucapkan dulu.
" Apa kamu percaya? Bahwa aku tidak pernah menyentuh gadis manapun lagi setelah melakukannya sama kamu waktu itu? Dulu aku memang tidak ingin terikat dengan hubungan yang rumit, tapi semua pandangan ku tentang wanita dan pernikahan perlahan berubah karena kamu. Aku gak ingin jauh dari kamu, aku ingin memiliki kamu selamanya, cuma kamu satu-satu nya wanita yang sejak awal aku inginkan sehingga aku tak ingin menatap wanita lain lagi. "
Dulu mungkin Calvin menganggap wanita tak bisa di mengerti, berubah-ubah dan rumit. Seperti ibu kandungnya, sampai saat ini ia masih tak habis pikir dengan ibunya yang memilih pria lain , padahal sang ayah termasuk pria dengan paket lengkap, tampan, mapan, pintar, dan setia.Tak ada kurangnya bukan? tapi sang ibu kandung seperti merasa masih kurang, dia tak bisa bersyukur hingga memilih pria lain hanya karena pria itu lebih kaya dari sang ayah dulu.Karena itu lah ia takut untuk terikat dengan sebuah pernikahan. Dia takut pernikahannya akan berakhir sama seperti pernikahan orang tuanya.
" Tapi kak, apa yang akan orang katakan tentang ku nanti kalau aku menikah denganmu ? Aku berselingkuh dan mengkhianati kak Gevan, aku wanita rendahan yang menjual tubuhnya demi membayar hutang. Aku menjeratmu dengan tubuh ku. Akan banyak orang yang menganggap ku seperti itu. Wanita murahan!"
" Tapi bagaimana dengan Kak Gevan? Dia pria yang sangat baik, meski orang tuanya tak merestui tapi aku bahkan tak bisa begitu saja menjauh darinya. Saat berhadapan dengannya pun bibir ku tak mampu berkata pisah. Dia terlalu baik kak. "
" Apa kamu gak merasa menyakiti dirinya saat ini? kamu tidur dalam pelukanku . Merasakan nyamannya dadaku, menghirup aroma tubuhku dan bebas mencium dan dicium olehku? kamu tidak merasa bersalah?" tanya Calvin yang membuat hati Keina merasa tertohok . Bukan ia tak sadar telah menyakiti Gevan, ia hanya tak mampu mengucapkan kata pisah pada pria itu.
" Tentu saja aku merasa sangat buruk dan murahan saat mengingatnya. " jawab Keina yang tertunduk lesu.
" No, kamu berharga buat aku. Aku tau kamu nyaman sama aku lebih dari saat bersama dia. " Calvin menggerakan ibu jarinya untuk menghapus air mata yang kini membasahi wajah cantik Keina.
" Tinggalkan dia! Bukankah menyakiti seseorang yang baik terhadapmu itu juga sama halnya menyakiti dirimu sendiri? " lanjut Calvin.
__ADS_1
Ada perasaan bimbang yang menelusup di relung hati Keina. Apa yang dikatakan oleh Calvin semuanya memang benar. Dirinya nyaman dengan pelukan hangat Calvin. Mempertahankan Gevan sama dengan menyakitinya lebih dalam dan itu sangat jahat.
" Aku bimbang. aku akan coba memikirkannya lagi, Dia bahkan terlalu baik padaku, aku bingung bagaimana mengatakannya pada kak Gevan." lirih Keina.
Dalam hati Calvin benar-benar terbakar saat Keina masih bimbang dan menjadikan dirinya sebagai pilihan .
" Apa benar kakak tak pernah membawa wanita lain ke apartemen ini? " tanya Keina yang sedikit tak percaya dengan apa yang Calvin katakan sejak tadi.
Calvin tersenyum, dalam hati ia bertanya apakah gadis ini cemburu? Ia melupakan rasa sesak dan kesal yang sempat memenuhi rongga dadanya .
" Kenapa malah senyum? pasti pernah kan? " kesal Keina seperti gadis yang sedang menginterogasi kekasihnya.
" Enggak sayang, Kamu yang pertama masuk ke apartemen ini. Bahkan kamu gadis pertama yang tidur di kamar ini. " jelas Calvin meyakinkan Keina bahwa semua yang ia ucapkan benar adanya.
Entah sejak kapan Calvin menjadi begitu manis memanggilnya dengan sebutan sayang, sungguh menggetarkan hati Keina saat ini.
" Kenapa? bukankah aku juga sama seperti mereka yang hanya wanita ******? "
" No, Kamu bukan wanita murahan dan kamu bukan ja* lang, Kei. Kamu bahkan tak pernah menggoda ku dan melemparkan tubuhmu pada pria mana pun. Aku lah yang justru memaksamu, menjeratmu dan menarik mu masuk ke dalam hidup ku, menjadikanmu gadisku, wanita ku, milikku." jawab Calvin dengan mantap. Menatap lekat manik Keina yang juga menatapnya seolah mencari sebuah kebohongan di mata Calvin.
.
...****************...
__ADS_1