
Sudah dua malam Keina tidur satu ranjang dengan Calvin, bahkan ia sama sekali tak merasa canggung seperti sebelumnya.
Mendapati Keina yang masih berada di sampingnya saat bangun tidur membuat mood Calvin menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bisa memeluk, menghirup aroma tubuh Keina benar-benar membuat Calvin menjadi semakin candu.
" Morning. " sapa Calvin yang memeluk tubuh Keina semakin erat. Dia seakan membangunkan namun tidak ingin membiarkan Keina beranjak dari tempat tidurnya.
Meski ia masih belum tau apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini pada Keina . Namun yang jelas Calvin tidak ingin melihat Keina bersama Gevan atau pria lain mana pun . Mengingat kejadian kemarin itu membuat hati Calvin kian terbakar. Ada rasa sesak bersamaan yang menyelinap di hatinya.
" Hmmm. " sahut Keina hanya bergumam . ingin rasanya gadis itu tidak ingin bangun pagi ini. Karena ia tak mau menjalani hari yang berat dan sungguh melelahkan baginya.
" Kamu gak mau bangun? " tanya Calvin membelai lembut rambut Keina yang berantakkan.Namun Keina justru memilih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
" Gak usah sok lembut ! Aku masih belum bersih , gak boleh aneh-aneh! " cetus Keina semakin meringkukkan tubuhnya membelakangi Calvin yang terus mendekap nya.
Bukannya marah justru Calvin dibuat terbahak olehnya . Bagaimana bisa Keina berpikiran seperti itu? Apakah dirinya ini hanya seorang pria dengan citra messum ? oh tidak ! Calvin tidak sepenuhnya buruk .
" Kei, Bangun yuuk! Aku udah bangun dari tadi loh. Junior kesayangan kamu juga udah bangun nih . " Calvin terus membisikkan kalimat menggoda di telinga Keina yang tertutup rapat dengan selimut.
" Kak Calvin, Stooop!! " pekik Keina dari dalam selimut tebal berwarna putih itu. Ingin rasanya ia berteriak lebih keras lagi agar Calvin tak mengganggunya dan membuatnya malu seperti sekarang ini.
Calvin tertawa mendengar teriakkan Keina dari balik selimut yang saat ini masih didekapnya. Merasa gemas sendiri karena Keina masih saja malu membahas hal yang cukup sensual itu.
Padahal mereka sudah pernah melakukannya secara sadar meskipun Keina dipaksa tapi nyatanya Keina jelas mengingat itu semua.
Calvin membuka paksa selimut yang menutupi sekujur tubuh Keina , ia memaksa agar wajah itu segera menghadap dirinya , lalu membuka mata.
" Keina, come on ! open your eyes. " ucap Calvin lembut . Bahkan terdengar seperti seseorang yang sedang memohon. Sungguh ini bukanlah sifat asli Calvin.
Keina benar-benar satu-satunya gadis yang mampu meluluhkan hati Calvin yang selama ini membeku seperti gunung es.
__ADS_1
" Apa sih? Aku masih ngantuk." gerutu Keina sambil berusaha merebut kembali selimut yang telah Calvin buka dan menampakkan wajah cantik alaminya .
" Sudah jam enam , kamu emang gak kerja? " tanya Calvin sambil mengusap lembut rambut Keina yang berantakkan. " Nanti kesiangan loh! " lanjutnya.
" Kakak kenapa tiba-tiba manis banget ? " tanya Keina yang masih enggan membuka mata. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya pada guling empuk milik Calvin.
" Masa sih? " tanya Calvin seraya menaikkan salah satu alisnya. Ia sedang berpikir apakah yang dikatakan Keina ini benar.
" Iya, biasanya juga gue- loe. Sekarang kok jadi aku-kamu? pasti ada maunya ya? " cibir Keina yang masih tidak mau manatap wajah tampan Calvin meski baru saja bangun tidur.
Calvin lagi-lagi tersenyum dibuatnya.
" Emang kalau lagi bersikap manis sama dengan ada maunya? " tanya Calvin sok polos. Karena faktanya Calvin berbicara manis dan lembut seperti itu bukanlah dengan sebuah rencana. Hanya karena hatinya yang terus menuntun logikanya untuk bersikap lain pada gadis dihadapannya ini. Yang seperti nya akan menjadi gadis favoritenya.
" Biasanya sih gitu. " sahut Keina yang perlahan mulai mau membuka matanya.
" Yaudah, kalau begitu ada yang aku mau dari kamu."
"Aku pengen kamu tinggal di sini sama aku tanpa batas waktu, gimana? " usul Calvin yang dia rasa keinginan terbaiknya untuk Keina saat ini. Mengingat bagaimana ucapan ibu Rina kemarin sudah membuktikan bahwa Keina tidak layak hidup bersama sang ibu yang hanya memanfaatkannya saja demi uang.
" Hah! Apa? " pekik Keina terkejut dengan permintaan aneh dari Calvin.
" Kenapa jadi kaget gitu. Biasa aja kali ! " ucap Calvin sambil mencubit gemas hidung Keina.
" Kamu lama-lama aneh tau gak. " sahut Keina kemudian merenggangkan otot-otot di tubuhnya.
Merasakan tubuh Keina menggeliat di dalam pelukannya, tentu saja hal itu berhasil membuat jantungnya semakin berdegup kencang. Ada sesuatu yang mengeras mendesak seolah menginginkan sesuatu yang indah untuk memuaskannya.
" Kei.. " ucap Calvin lirih. Ia merasakan seluruh tubuhnya berkedut karena merasakan tubuh Keina menggeliat menyentuh bagian sensitif nya.
__ADS_1
" Stop, kak! Stop! Aku masih belum bisa disentuh , okey. Jangan aneh-aneh! " ujar Keina mengingatkan kepada Calvin bahwa dirinya saat ini masih dalam keadaan datang bulan.
Keina jelas khawatir andai Calvin gelap mata dan akan memaksanya lagi seperti saat mereka berdua pertama kali melakukannya.
Calvin hanya bisa mendessah pasrah, menenggelamkan wajah tampannya di ceruk leher Keina. Menghirup banyak-banyak aroma yang selalu membuatnya seperti melayang di udara.
" Kapan selesainya sih ? " tanya Calvin masih sedikit kesal.
" Apanya? " goda Keina berpura-pura tak mengerti maksud pertanyaan Calvin.
" Itunya ! Jangan pura-pura gak ngerti deh. " oceh Calvin yang tau Keina membohonginya.
" Lagian kan udah di bilang satu minggu, masih aja nanya mulu. Gak sabaran! " gerutu Keina sambil membalas pelukkan Calvin . Bahkan pria itu merasakan nyaman luar biasa, yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
" Jadi gimana? Kamu setuju kan tinggal di sini aja seterusnya? " ulang Calvin lagi membahas permintaannya yang sempat tenggelam karena hasrat yang tiba-tiba muncul di tengah pembicaraan mereka tadi.
" Mana bisa kak. Kita gak ada hubungan apapun. Gak mungkin juga aku bisa tinggal di sini terus, bagaimana kalau orang tua kamu tau dan lagi juga aku masih punya ibu kak. " tolak Keina dengan alasan yang menurutnya masuk akal.
" Kenapa gak bisa?Persetan dengan hubungan kita ! Orang tua aku itu urusan ku, Sementara Ibu kamu bahkan kemarin menelpon dan mengancam kamu gak boleh pulang sebelum mentrasnfer uang yang dia minta. Dia gak peduli sama kamu, Kei. Dia gak menganggap kamu anak tapi dia menganggap kamu hanya mesin uang untuknya. " tanpa sengaja Calvin sendirilah yang memberitahu Keina bahwa dirinya lah yang dengan lancang sudah membuka ponsel Keina bahkan sampai mengangkat panggilan masuk tanpa seizin gadis itu.
Deg
jantung Keina bagai di hujam ribuan pisau hingga sakitnya sudah tak tertahankan. Setega itu kah ibunya sampai bicara seperti itu padanya hanya karena uang. Apakah bertahun-tahun mereka bersama tak ada juga rasa kasih sayang sedikit saja di hati sang ibu untuknya?
Melihat Keina tidak mengatakan sepatah kata pun, Calvin menjadi sangat merasa bersalah juga khawatir yang datang secara bersamaan.
Apakah dia marah? kenapa dia diam? apa sebentar lagi Keina akan meledak? Banyak pertanyaan mulai berputar di dalam kepala Calvin yang saat ini masih menatap wajah Keina yang tampak datar. Tidak menunjukkan reaksi apapun semakin membuat Calvin penasaran.
.
__ADS_1
...****************...