
" Hai, Kak Calvin. Apa kabar? "
Baru saja Keina menarik napas untuk memberikan jawaban untuk lamaran Calvin yang sama sekali tidak romantis itu . Seseorang yang sudah jarang mereka jumpai datang dan menginterupsi momen penting Keina dan Calvin .
" Lama kita gak ketemu ya? Aku boleh bergabung?"
tanya orang yang baru saja datang dan berhasil mengacaukan momen penting Calvin.
" Lama apa nya baru juga sebulan yang lalu gak sengaja ketemu. " gumam Keina yang hampir tidak terdengar, wajahnya tampak masam karena orang yang sudah lama tidak mengusik hubungannya kini justru muncul di saat yang sangat tidak tepat.
" Silahkan ! " sahut Keina yang tidak ingin berbasa-basi . Ingin rasanya ia pergi saja dan tidak usah makan di restoran ini.
" Makasih ya Kei. By the way kalian masih barengan ya? hubungan kalian awet juga "
Seketika Keina benar-benar mulai jengah . Kenapa orang ini menanyakan hal yang sudah sangat jelas?
" Kamu bisa lihat sendiri , bagaimana mesranya kami saat ini bukan? Harusnya kamu tidak usah menanyakan hal yang sudah sangat jelas." Keina ingin memaki atau mungkin pergi saja dari tempat yang mulai membuatnya gerah ini.
Sementara Calvin pun merasa semakin berada di posisi yang tidak nyaman. Pasalnya lamaran yang sama sekali tidak romantis itu malah semakin terasa hambar dan buruk saat kedatangan orang yang merusak suasana ini.
" Apa kamu sedang janjian bersama seseorang ? " tanya Calvin . Ia merasa aneh melihat Livy yang tiba-tiba datang ke restoran ini seorang diri.
" Ah, enggak kak . Aku sendirian aja dan beruntung sekali aku bisa ketemu kakak di sini. " jawabnya sambil memberikan senyum terbaiknya.
Namun hal itu sungguh membuat Keina ingin sekali menyiramkan sisa jus miliknya ke wajah tamu tak di undang ini.
" Beruntung? memang ada apa? Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan , kami ada urusan pribadi. " sahut Keina menimpali percakapan antara kedua orang yang pernah menjalin hubungan di masa lalu ini.
__ADS_1
" Loh kenapa Kei? Aku cuma mengungkapkan rasa senang ku bertemu kak Calvin." timpalnya sambil menatap Calvin dengan tatapan kagum.
" Tapi aku gak suka kamu menatap calon suami ku seperti itu. " ketus Keina yang mulai tidak bisa lagi menahan amarahnya yang kian membara di dalam dada .
" Masih calon bukan? sungguh aku tidak peduli. "
" Oh, ya ? Aku kira kak Calvin pun sama tidak pedulinya dengan wanita penggoda sepertimu."
" Heh, Keina! Gak usah sok deh jadi orang . Gue yakin kak Calvin selama ini cuma main-main sama loe . Setelah dia puas nanti, dia bakal ninggalin loe gitu aja."
" Livy, stop! " sentak Calvin memicingkan matanya ke arah Livy . Entah dari mana gadis itu sampai bisa bertemu dengannya dan juga Keina. Dan kenapa pula semesta mempertemukan mereka lagi di saat yang tidak tepat seperti ini?
" Kalo loe gak peduli soal apapun itu urusan loe . Dan gue juga gak peduli sama sekali sama kesenangan loe itu ! " bentak Calvin lagi masih menahan volume suaranya agar tidak terdengar oleh pengunjung di meja sebelah.
Keina tentu saja tersenyum penuh kemenangan . Menatap Livy dengan tatapan remeh dan penuh penghinaan.
" Ya, gue muak sama loe . Harusnya loe sadar dan malu karena udah mengganggu hubungan orang lain . " sentak Calvin menepuk meja cukup keras hingga menimbulkan suara yang cukup membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah meja mereka.
Mulut Livy sampai menganga karena tercengang atas sikap Calvin terhadap dirinya. Harga diri Livy terasa di injak-injak atas sikap Calvin . Namun tentu saja itu karena ulahnya sendiri. Andai dia tidak menyulut api , pastilah Calvin tidak akan pernah murka.
Merasa nafsu makannya benar-benar hilang Keina memilih mengeluarkan beberapa lembar uang dan meninggalkannya di atas meja.
" Maaf Livy, aku sudah tidak nafsu makan . Melihatmu saja aku sudah kenyang, makan lah nanti kalau makanannya sudah datang . " ucap Keina sambil bangkit dari duduknya yang disusul oleh Calvin .
" Ayo, sayang." Calvin menggandeng tangan kekasihnya mesra . Meninggalkan Livy yang masih terdiam dengan dada yang bergemuruh karena menahan amarah namun tidak bisa melakukan apa- apa.
Ini sungguh sangat menyakitkan bagi Livy . Namun nyatanya dia tidak merasa bersalah sedikit pun karena telah mengganggu kebersamaan seseorang dengan kekasihnya.
__ADS_1
" Awas Loe Kei! " gumam Livy dengan tangan mengepal di atas meja . Menahan gejolak yang ada di dalam dada. Merutuki keadaan yang mana Keina menjadi wanita yang tampak berkelas dan tentu saja berani menatap nyalang Livy yang berusaha menggoda Calvin. Livy bahkan masih berpikir bahwa dirinya lah yang pantas berada di samping Calvin dan bukan Keina.
...----------------...
" Sayang , kenapa kamu diem aja? jadi kita mau makan dimana sekarang? " tanya Calvin mencoba memecah keheningan antara keduanya.Tidak ada percakapan sama sekali setelah kejadian tidak menyenangkan di restoran tadi.
" Kita makan di rumah aja. " jawab Keina singkat. Menatap keluar mobil namun pandangannya kosong. Gadis itu tengah khawatir soal hubungannya dengan Calvin. Andaikan benar mereka berdua menikah , mungkinkah mereka akan bahagia? ataukah sebaliknya? Mungkinkah Livy akan berhenti menggoda Calvin yang telah menjadi suaminya?
Ataukah justru Calvin akan tergoda karena Livy yang tidak pernah menyerah sebelum dia mendapatkan apa yang diinginkannya .Ketakutan kembali menyelimuti batin Keina yang bimbang.Ia berusaha tidak terlalu memikirkan apa yang baru saja terjadi . Namun nyatanya Keina saat ini malah berpikiran buruk terhadap kekasihnya. Ia takut suatu saat nanti Calvin akan menjadi Calvin yang dulu, yang suka bergonta-ganti wanita untuk menghangatkan ranjangnya.
" Kamu marah ? " tanya Calvin lagi merasa ada yang aneh di diri Keina yang tiba-tiba bersikap diam saja . Saat dia bertanya pun hanya jawaban singkat dan tidak ada kata lain yang terucap. Calvin menyadari bahwa saat ini Keina benar-benar sedang kehilangan moodnya.
" Entah kak, mau marah juga marah sama siapa? " jawab Keina jujur. Masih enggan menatap wajah kekasihnya yang tampak khawatir dan serba salah.
" Aku tau kamu hanya kesal, maaf ya. Aku juga gak menyangka kalau bakalan ada Livy di sana . " Calvin meraih jemari Keina , menggenggam lalu menciumnya.
" Kamu gak salah , maafin aku ya? "jawabnya tersenyum namun masih dipaksakan . Keina benar-benar mudah over thinking saat berbicara soal Calvin dan masa depan bersama dirinya.
" Its okay sayang, sekarang kita pulang ya? "
Keina mengangguk senang. Mencoba melupakan apa saja yang terjadi dan membuat moodnya benar-benar menghilang.
Usai makan malam di rumah, Keina memilih segera kembali ke lantai atas , dimana kamarnya berada. Membersihkan mulutnya dari sisa makanan lalu berganti pakaian tidur.
Gadis itu tampak tidak bersemangat sama sekali . Memilih duduk di sofa dalam kamar dan memainkan ponsel miliknya sambil menunggu makanan yang baru saja dia telan bisa tercerna dengan baik.
.
__ADS_1
...****************...