
Akhirnya Calvin dan Keina telah sampai di Jakarta . Kota dimana pusat keramaian negara Indonesia berada. Calvin langsung mengajak Keina pulang ke apartemen lebih dulu, meski sebenarnya sang mama ingin Keina tinggal dengannya dari pada di apartemen berdua Calvin. Sebagai orang tua tentu ia tak ingin anaknya melakukan hal di luar batas meski ia tau mungkin saja yang ia khawatirkan sudah terjadi . Tapi Calvin belum memikirkan hal itu, bagaimana bisa ia berjauhan dari Keina dan tinggal terpisah karena sebenarnya dirinya lah yang tak bisa tidur tanpa memeluk kekasihnya itu.
Keina masih diam , Calvin juga tidak berniat untuk memulai obrolan ringan sekedar basa-basi. Keduanya seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu atap.
Keina memilih menghabiskan waktunya untuk menata kembali pakaiannya yang masih berada di dalam koper dan setelah itu membersihkan diri .
Sementara Calvin juga tampak biasa saja , tidak memulai percakapan juga tidak bersikap dingin. Ia memilih membersihkan diri di kamar mandi luar kamar.
Keina yang lebih dulu selesai mandi dan sudah memakai baju rumahannya memilih untuk merebahkan diri di atas ranjang. " Duh mana laper, males keluar lagi. "keluh Keina yang saat ini merasakan perutnya sudah mulai perih karena sejak siang tidak makan hingga saat ini hari sudah mulai petang.
Calvin masuk ke kamar hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Menghampiri Keina yang saat ini tengkurap di atas ranjang. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas punggung sang gadis yang saat ini sedang kelaparan.
" Eemmh! " Keina mengeluh menahan berat badan Calvin yang saat ini bertumpu di punggungnya. Aroma segar khas Calvin yang baru selesai mandi menyeruak memenuhi rongga hidungnya.
" Kakak apaan sih! berat! " kesal Keina dengan suara seperti mengejan.
Calvin kemudian menurunkan lutut kesamping tubuh Keina untuk menumpu berat tubuhnya agar tidak membuat Keina semakin sesak.
" Aku kangen. " bisik Calvin menggigit daun telinga sang kekasih yang masih saja bersikap cuek .
" Turun! "bentak Keina . Ingin meronta tetap tak bisa karena tubuhnya terkungkung dari belakang.
" Gak mau! Kamu yang muter sini lihat aku! " titah Calvin mengangkat tubuhnya , memberi ruang untuk Keina agar bisa memutar dan menghadap dada bidangnya.
" Gak mau! " tolak Keina memilih menjatuhkan kepalanya di atas kasur. Dan tentu saja Calvin langsung memposisikan tubuhnya seperti semula, membuat Keina terasa berat dan sesak di dada.
" Kakak minggir! berat! " sentak Keina meronta namun tidak ada pengaruhnya. Calvin hanya tersenyum sambil berusaha menemukan pipi Keina yang ingin sekali dia mengecupnya. Namun gadis itu terus berpaling ke kanan dan ke kiri menghindari wajah Calvin yang terus menyerangnya.
" Cium dulu sini! " perintah Calvin yang pada akhirnya dituruti oleh Keina . Diam dan menoleh ke belakang agar Calvin bisa menciumnya.
Cup !
__ADS_1
" Udah! " ketus Keina .
" Udah nih! Cepetan balik! " ucap Calvin meminta Keina untuk memutar tubuhnya.
" Kakak! tadi bilangnya mau turun ! " protes Keina semakin kesal karena Calvin yang akhirnya tidak mau menyingkir dari tubuhnya.
" Gak, kamu lihat sini dulu. " sahut Calvin terus mendesak Keina agar mau menuruti keinginannya.
" Ish! "Keina benar-benar mulai jengah namun tidak kuasa untuk tidak menuruti keinginan pria pemaksa itu.
Cup!
Calvin mencium kening Keina dan menahannya di sana cukup lama. Menyalurkan perasaan sayang dan cinta hingga mampu membuat aliran darah Keina terasa bagai air terjun yang mengalir begitu derasnya.
" Aku cinta sama kamu dan tidak akan pernah ada cinta yang lain . Aku mohon percayalah . Jangan diamkan aku , ini benar-benar menyiksaku . " ucap Calvin lirih .
Menyatukan keningnya dengan milik Keina. Menghembuskan dua nafas menjadi satu. Rasa hangat dan harum membuat Keina terbuai dalam dekapan sang kekasih yang begitu memabukkan.
Menelisik kornea yang sangat tenang menatap dirinya. Mencari sesuatu yang mungkin bisa dia jadikan alasan untuk bisa kembali kesal dan marah.
Namun nyatanya hasilnya nihil , tidak dia temukan hal yang bisa membuatnya mendapatkan alasan itu.Yang ada hanya getaran yang semakin kuat hingga mampu mendebarkan jiwanya. Keina selalu tidak pernah selamat dalam pesona seorang Calvin Alexander .
" Aku tau, tapi aku tetap mencintaimu. " Calvin kembali mendaratkan sebuah ciuman di kening gadis yang mengatakan bahwa dirinya masih ragu itu.
" Bagaimana kalau aku tidak mencintaimu. " tanya Keina ambigu . Mencoba berbohong dengan apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini.
" Aku tau kamu mencintaiku. " ujar Calvin berhasil mematahkan keraguan yang terus muncul di dalam hatinya.
Gadis itu terus berusaha untuk menemukan celah kekurangan dari Calvin agar dirinya mungkin bisa melihat keburukan dari pria itu dan mungkin saja akan berakhir dengan pupusnya cinta yang ada di dalam hatinya.
" Aku takut kamu akan kembali seperti dulu. " Keina menundukkan pandangannya . Saat ini justru maniknya disuguhkan dengan pemandangan dada kekar nan bidang milik Calvin.
__ADS_1
Dalam hati gadis itu terus merutuki kekonyolannya saat ini. Bagaimana bisa dia memuji pria yang telah banyak membuatnya menangis? Pria yang telah merenggut kesuciannya yang sudah mati-matian dia jaga . Namun nyatanya Keina tidak bisa membenci dan tidak bisa berhenti untuk mengagumi setiap inci tubuh si mantan cassanova beserta hatinya.
Calvin memang bukanlah pria yang baik , tapi bukankah dirinya juga bukan seorang gadis yang sempurna?
" Bukankah kamu sudah melihat semuanya?Aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain kamu. Aku tidak pernah membawa wanita manapun masuk ke dalam apartemen ku dan tinggal bersama dengan siapapun selain kamu. Aku tidak pernah mendekatkan seorang gadis kepada keluargaku. Apakah itu belum cukup , Kei?" balas Calvin menggebu mengingatkan bagaimana dirinya setelah bersama Keina selama ini.
Keina terdiam , dalam hati mengiyakan dan menyetujui apa yang dikatakan oleh Calvin karena memang benar adanya.
" Aku cinta sama kamu, aku ingin bersama kamu selamanya . " lanjutnya lagi mengecup mesra bibir Keina yang masih bungkam seribu bahasa.
Menelaah apa yang sebenarnya ada di dalam hati dan juga jiwanya saat ini . Kenapa dia begitu ingin memusuhi pria yang sudah sangat jelas cukup bukti kalau dirinya sangat mencintainya ? Lalu mau apalagi?
" Maafkan aku. " ucap Keina pada akhirnya.Keina tidak akan pernah bisa membohongi perasaannya sendiri . Dirinya merasa orang yang paling bersalah .
Nekat menjalin hubungan bersama Gevan yang tidak pernah direstui namun kemudian dia menambatkan hati pada pria lain yang mempunyai masa lalu kelam dan menyeramkan bagi wanita naif seperti dirinya.
" Tunggu aku sebentar saja. Aku akan membawakanmu dunia. Kita akan menikah bukan? "
Calvin membelai lembut wajah kekasihnya yang saat ini masih terdiam membeku di bawah tubuhnya.
" Tapi aku... "
" Belum mau punya anak? " celetuk Calvin menebak keinginan Keina.
Keina mengangguk lemah . Dia masih tidak ada kepikiran sampai di situ . Bukan karena ia tak suka anak kecil, justru Keina sangat suka dengan anak-anak dan sangat penyayang tapi untuk memiliki anak, kemudian merawat dan membesarkannya . Keina sungguh belum siap untuk semua itu , ia tak yakin mampu melakukan hal yang sangat berat itu di usia muda.
Calvin terdiam sebentar lalu mengangguk kemudian tersenyum . " Iya aku sepakat, kita akan punya anak kalau kamu sudah siap. Aku tak akan memaksamu, Kei. "
Calvin kembali mengecup Kening sang gadis yang tidak banyak keinginan itu. Lalu bagaimana bisa dirinya tidak mengabulkan permintaan yang hanya satu itu?
.
__ADS_1
...****************...