
hari yang dinanti telah tiba hari dimana Ceylin dan Rey akan melaksanakan pernikahan mereka.
semua mata memandang pada pasangan itu yang menarik perhatian lainnya adalah Haruka dia terlihat sangat anggun dengan dress warna pink Tsania memotretnya ketika mereka menuruni tangga.
banyak tamu yang datang semua teman mereka juga datang mulai dari teman SMA sampai teman kuliah mereka semua hadir.
"apa itu Khalisa?? benar benar tidak bisa dipercaya dia sangat berubah sekarang" ucap salah satu tamu yang merupakan teman SMA Haruka dan Ceylin
melihat ada sebuah biola tak berahan lama Haruka memainkannya semua orang menikmati melodinya yang terdengar begitu lembut sangat nyaman ditelinga.
"gila si Al banyak banget berubah,, aku harus bisa dapaten si Al secara Ken kan udah gak ada" ucap salah satu tamu lainnya
biola berhenti dimainkan semuanya memberikan repuk tangan untuk Haruka.
"Al kamu keren cara kamu mainin biola makin mahir" ucap Rey
"terima kasih" jawab Haruka
"Al sayangku cantiku manisku kamu bikin aku memeleh mendengar melodi biola yang kamu mainkkan tadi" puji Tsania
"benarkah?? gak usah berlebihan lebai tahu" jawab Haruka sinis
"ihh Al aku serius"
"aku juga"
"udah udah kenapa pada debat" Ceylin berusaha melerai mereka berdua yang berakhir tawa bahagia
__ADS_1
"hai Al apa kabar??" tanya seorang pria yang baru saja datang
"hai juga aku baik" jawab Haruka
"udah lama ya gak ketemu"
"hmmm" haruka menganggukan kepalanya
"Al aku demger kabar katanya kamu sekarang tinggal di Jepang ya??" tanyanya lagi
"iya aku sedang nerusin S2 di sana" jawab Haruka singkat
"Al..." belum sempat menyelesaikan kalimatnya Tsania memotong pembicaraan mereka
"banyak nanya banget sihh,, kenapa niat buat deketin Al lagi ya?? ngerasa gagal dapatin hati Al karena dia lebih memilih Ken" celetuk Tsania yang memandang Haruka kala menyebutkan nama Ken
"tidak perlu begitu aku baik baik aja kok" Haruka mengerti dengan tatapan Tsania
"Maaf tapi apa yang Tsania katakan memang benar" tambah Haruka yang kemudian pergi.
*** di Tokyo Jepang
"maaf" terucap begitu saja dari mulut Praveen didalam keheningan
"untuk apa kau minta maaf kau tidak salah" jawab Mayu
"maaf karena aku melibatkanmu"
"sudah aku bilang jangan minta maaf" Mayu berdiri dari posisinya dan membelakangi Praveen tiba tiba Praveen memeluk Mayu
__ADS_1
"karena aku nyawamu jadi terancam,, jujur aku tidak punya pilihan lain untuk menghindari dia aku juga bingung harus berbuat apa" Praveen semakin erat memeluk Mayu suaranya terdengar sedang menangis
"aku sangat mengerti perasaanmu karena itu aku mau membantumu kau adalah sahabatku,, kau ingat saat kita masih kuliah saat itu aku sering dibuli??"
"iya aku ingat"
"kau yang selalu menyelamatkan aku,, untuk itu aku sangat senang dan berterima kasaih karena kau hadir dalam hidupku sebagai sahabatku jadi sekarang giliranku yang membantumu" Praveen melepaskan pelukannya.
"hanya ada satu cara yang tersisa sekarang agar Amamda tidak punya kesempatan untuk melukaimu lagi" seketik Mayu menghadapkan tubuhnya ke arah Praveen
"apa??"
"apa aku mau menjadi istriku" Praveen menggenggam kedua tangan Mayu
"a...apa yang kau katakan??" Mayu masih tidak percaya dengan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Praveen
"jangan anggap kau adalah pelampiasan aku tidak ingin Haruka lebih terluka jika dia tahu kalau nyawamu dalam bahaya karena itu akan membuka luka lamanya"
"tapi aku..."
"jangan khawatir kita akan menikah tapi tidak akan ada yang tahu"
"maksudmu kita hanya bersandiwara??"
__ADS_1
"tidak hanya merahasiakan kapan kita menikah dari publik publik akan tahu kalau kita sudah menikah,, lagi pula Haruka butuh seorang kakak perempuan yang bisa memahami perasaannya dan menurutku kaulah yang paling pantas" Mayu terdiam
"aku akan memberikanmu waktu untuk mengambil keputusan pikirkan dengan baik jangan sampai kau menyesali keputusanmu nanti" Praveen keluar meninggalkan Mayu.