
"Anastasia Angelica, dipanggil Bu Mela ke ruangannya" suara dalam telepon
"Baik Bu" Segera ku tutup telepon dan menuju ruangan Bu Mela. Pikiranku berkelana, ada apa denganku? sepertinya aku tidak melakukan kesalahan.
"Mau kemana Non?" tanya Rachel teman kantorku dengan suara lirih
"Dipanggil Bu Mela" jawabku
"Kenapa lu? Bikin kesalahan?"
"Gak tau gue" kugelengkan kepalaku dan mengangkat pundak. pertanda tak tau apapun
tok.. tok.. tok..
"Masuk" jawab seseorang dari dalam ruangan. Dan tentu saja itu adalah Bu Mela.
"Selamat siang Bu, ibu memanggil saya?"
"Siang, heem. Silahkan duduk" tangannya menunjuk pada kursi dihadapan ku.
"Iya terima kasih Bu" lalu aku duduk menghadap beliau hanya terpisah meja kerjanya. kutatap wajah Bu Mela, bukan menantang, bukan. Cuma menghargai lawan bicara kita. tapi pikiranku tetap mencari cari kesalahan apa yang aku lakukan.
ehm.. Bu Mela berdehem
"Jadi gini Tas, Mulai bulan depan kamu saya pindah tugaskan ke kantor cabang di kota X" jelas Bu Mela
"Kalau boleh tau apa saya melakukan kesalahan ya Bu. Kok dipindah?" tanyaku ragu ragu. Soalnya kalau salah ngomong Bu Mela biasanya marah marah. Gak tau mungkin efek belum nikah nikah juga diusia yang hampir menyentuh kepala 4. Eh.. Hust.. jadi ghibah.
"Hahahaha"
Lhoh malah ketawa dia.
"Enggak kok Tas, kerja kamu bagus. Cuma kantor cabang kekurangan karyawan bagian audit. Dia resign karena melahirkan" terangnya.
"oh begitu ya Bu" jawabku dengan cengiran
__ADS_1
"Nanti surat biar diantar ke ruangan kamu. Abis ini selesaiin tugas kamu. Terus beresin berkas berkas. Bulan depan itu tinggal 4 hari lagi"
"Iya Bu. Kalau begitu saya permisi" lalu aku berdiri dan meninggalkan tempat dudukku. Tanganku meraih handle pintu, sesaat aku menoleh.
"Maapin saya ya Bu kalau ada salah"
"Hmm" cuma itu jawabnya
"Kata mau resign aja Tas, Tas" Bu Mela tersenyum
lalu aku keluar ruangan
Hufh.. Aku kira aku melakukan kesalahan. Tapi dipindah tugaskan ke Kota X, Ya ampun. Itu kan kota kecil. Gimana bisa hidup disana, Sementara aku biasa hidup dikota besar.
Melangkah menuju mejaku, aku dijegal Rachel.
Tangannya memegang lenganku.
"kenape?" tanyanya lirih
"Serius?"
aku hanya manggut-manggut
"Yah, pisah donk kita"
"Yoi, mau gimana lagi" ku lepas tangannya dari lenganku. kulangkahkan kaki menuju kursi singgasana ku. punggungku bersandar di kursi menghela napas panjang.
"Duh pasti kangen deh. Secara cuma Lo yang bisa ngertiin gue"
"Iya Chel. Ya ampun, mana kota itu kecil gitu. Gue bisa gak ya hidup dikota kecil gitu?"
"Ih lu mah. belum apa apa dah dibayangin gitu"
"Dah ah. Gue musti nylesein kerjaan"
__ADS_1
Rachel emang temanku sekantor yang sefrekuensi. Sejak masuk perusahaan ini, sampe sekarang cuma dia yang pas dengan karakterku. Cantik, pintar, body aduhai pokoknya paket lengkaplah dia, berbanding terbalik denganku yang oon ini. Tapi sayangnya dia cuma satu. Gak bisa move on dari mantan pacarnya yang berprofesi sebagai model.
Eh.. kok jadi buka rahasia..
Pukul 15.25
Akhirnya kerjaan selesai. Surat pindah tugasku juga sudah ditangan. Tinggal nunggu tuan putri Rachel selesai.
"Dah selesai lu?"
"Udin"
"Bentar, tungguin gue"
"Iya tuan putri"
Komputer sudah aku shut down. Beberapa berkas sudah tertata rapi. Flashdisk tercabut, gegas ku raih tasku. Handphone ada, dompet ada, pouch make up ada. Sambil menunggu Rachel menyelesaikan pekerjaannya, ku lihat gawaiku. Nihil, gak ada pesan ataupun telpon.
Hah.. nasib jomblo
"Woi. udah nih. Yuk" Rachel langsung berdiri menyambar tasnya.
"Oghkey" lalu aku keluar ruangan. berjalan menuju lift. ku pencet angka 1.
"Jangan pulang dulu ya Tas, kita nongkrong kemana gitu" pinta Rachel
"Kemane? ngopi? kebiasaan lu mah. Inget tuh lambung"
"Ke sushi Mai aja yuk. Itung itung pesta perpisahan sama kamyu"
Rachel pun tertawa
"Ya udah. Kita habisin malam ini. Sebelum gue pindah tugas"
"Siap!"
__ADS_1