Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Tiga


__ADS_3

Setengah jam menunggu, akhirnya Marlo selesai. Dia menghampiriku yang sedang duduk dibangku taman.


"Maaf lama. Berangkat sekarang?"


"Iye Mar. Buruan yuk, gue capek banget"


"Siap Bu Tasia"


Baru kenal sebentar aku sudah klop saja sama Marlo. Mungkin karena sama sama masih muda kali ya. Terus aku juga cuma kenal sama dia doang.


Kost pertama aku gak cocok, kemahalan mana sempit, kamar mandi diluar. Mentang mentang deket kantor. Harganya mahal banget.


Kost kedua cocok tapi cowok cewek jadi. Kostan bebas gitu, bisa bisa gak ACC nanti sama Kanjeng mami.


kostan ketiga, bagus semuanya. Tapi aku gak cocok sama pemiliknya. Bapak kostnya genit, ibu kostnya judes.


"Jadi gimana? Belum ada yang cocok juga?" tanya Marlo. Ku lihat dia agak kesel sama aku karena aku belum nemu kostan yang cocok.


"Maap ya Mar. Lu capek ya. Gimana lagi gue nyarinya yang khusus cewek, kamar mandi dalem, pemiliknya juga ramah" aku menjelaskan keinginanku.


"Ya udah. Ini aku kasih opsi terakhir ya. Aku antar ke kostan Bu Murni. Kalo ini gak cocok nanti aku antar ke hotel aja. nginep disana semalem trus besok kita cari kostan lagi. Gimana?"


"Oke" aku menyetujui saran Marlo. Gegas kami menuju kostan milik Bu Murni. Aku menyeret koperku persis orang tereliminasi. hehehe.. Masuk gang gitu, hawanya adem gitu. Lalu kami masuk ke rumah halamannya luas. Bangunan 2 lantai, bergaya modern.


Marlo masuk ke dalam, aku mengikutinya. Lalu kami bertemu seorang ibu paruh baya mengenakan gamis dan jilbab senada. Sudah kuduga pasti ini induk semangnya.


Kami disilakan duduk di kursi depan yang memang disediakan untuk tamu. Dari depan terlihat rapi.


"Jadi mbak ini mau nyari kost. Betul?" tanya Bu Murni

__ADS_1


"Iya Bu. Mbak ini kerja di perusahaan ABC. Baru datang hari ini. Masih ada yang kosong gak Bu?" Marlo yang menjawab.


"Oh gitu. Alhamdulillah masih ada 2 yang kosong mbak. Ayo saya antar lihat kamarnya"


Bu Murni beranjak kemudian kami mengekor dibelakangnya.


"Ini kamarnya. Seperti yang bisa mbak dan mas lihat, disini sudah tersedia kasur, almari pakaian, dan kamar mandi dalam" Bu Murni berjalan seraya menunjuk barang barang yang ada.


"Kalau mau ada divannya bisa. Nanti biar dipasang. Untuk dapur pakai dapur umum ya. Soalnya saya takut ngotorin kamar kalau ada dikamar. Untuk listrik bisa isi sendiri ya"


"Gimana Tas?" tatapan mata Marlo seakan akan mengatakan 'ude ambil ini aja'


"Sewanya berapa ya Bu?"


"Satu juta mbak. Nanti tiap hari ada orang yang bersihin kostan ini. Cuma nyapu sama ngepel. Misal pengen cuci baju bisa jemur diatas atau laundry. Kebetulan saya juga buka jasa laundry. Tiap bulan saya juga kasih jatah mie instan dan telur ya. masing masing 5"


"Tapi apa lagi Tas?" agak sewot dia


"Ih gak gitu Mar. Kamar satunya juga sama kaya gini Bu?"


"Yang satunya ada diujung itu mbak. Itu pakai AC. Sewanya nambah 300ribu. Soalnya ada perawatan AC nya"


"Ya udah aku ambil yang ada ACnya aja Bu"


"Siap mbak. Bentar ya saya panggil mbak Inah dulu. biar dibersihin sama dipasang sprei" Bu Murni mengeluarkan gawainya. Menelpon seseorang namanya Mbak Inah.


Tak menunggu lama, datang Mbak Inah yang dimaksud. Kamarku dibersihkan lalu sprei motif bunga warna biru muda terpasang rapi.


"Sampun Bu" ucap Mbak Inah sopan.

__ADS_1


"Nah, sudah siap dipakai ya mbak kamarnya. Oh iya dikostan ini gak boleh keluar lebih dari jam 10 ya. Gerbang depan saya kunci. Misal mau lembur wa saya. Oke?"


"Oke Bu. Makasih ya"


Sejenak setelah Bu Murni melangkah dia menengok, "Jangan macem macem ya ada CCTV disini"


Kami berdua mengangguk mengerti.


"Dah ya. Aku pulang dulu. Gerah" Marlo sudah terlihat kusut kucel..


"Makasih ya Mar. Ya ampun gak nyangka banget bisa ketemu orang sebaik dan sesabar kamu. Eh kamu gak makan dulu. Aku traktir gitu" tawarku padanya


"Enggak deh Tas. Udah hampir jam 7 nih. Dicariin emakku nanti"


"Dih, anak mami ternyata. Mar makasih ya sekali lagi"


"Iya Tas. Kalo butuh apa apa hubungi aku aja"


Setelah itu Marlo pergi meninggalkanku. Gegas kubuka koper, Menata baju dan segala perlengkapan ku. Ku ambil setelan piyama lengan pendek dan celana pendekku. Guyuran air shower menyegarkan tubuhku yang letih.


Krucuk krucuk


Alarm perutku berbunyi, untung tadi udah beli susu kotak dan roti manis saat menunggu Marlo selesai kerja.


Ku raih gawai dinakas. Geser geser menu, kubuka aplikasi hijau. 2 percakapan teratas mengambil perhatianku. Pesan dari Mama dan Rachel yang sejak tadi membuat gawaiku tak berhenti bunyi.


Ku pencet ikon kamera, video call conference sekalian. Kangen mama dan Rachel. Padahal baru sehari gak ketemu mereka.


Percakapan cukup lama, dan membuatku terhibur. Pukul 21.30 kuakhiri panggilan video. Mataku sudah tak kuat untuk membuka.

__ADS_1


__ADS_2