
Aku pengin pulang saja, rasanya tidak tenang. Tasia bingung sendiri ketika ijin pulang. Sementara aku sudah merasa kecil ketika bercerita kalau saat perjalanan kesini yang menyetir Tasia.
"Mas, kenapa sih dari tadi bengong terus?" dia menepuk pundakku.
Dia baru saja mandi, bau sabun beraroma floral menusuk hidungku.
"Aku pulang aja ya siang ini?" aku menatap halaman belakang rumah Tasia.
"Kenapa? aku mau ngenalin kamu ke temen temenku lho mas"
"Aku malu" jawabku lesu.
"Kamu kenapa sih? dari kemarin lho kamu kaya gini. Kamu lagi ada masalah?"
Tasia duduk mendekat. Dia terus menatap mataku, sebisa mungkin ku hindari.
Aku menggeleng.
"Ya udah kita balik nanti sore aja. oke?"
Dia mengelus pundakku
"Abis ketemu temenku kita balik ke kotamu"
"Kamu?"
"Aku gak apa apa. Aku malah khawatir sama kamu"
Aku mengangguk.
Jam 9 kami keluar rumah. Tasia mengajakku jalan jalan dulu sebelum bertemu teman. Beli oleh-oleh buat teman kerjanya.
"Kita jalan jalan dulu mas. Beli oleh oleh buat temen temenku"
"Nanti temen kamu gimana?"
"Masih lama dia. Entar juga telepon"
"Aku ikut aja deh"
Keadaan mall cukup ramai, aku lihat belum semua pengunjung memakai masker. Semoga aman dari Coronces.
"Udah pernah kesini belum mas?" tanya Tasia sambil berjalan masuk ke sebuah toko kue.
"Udah pernah sekali apa dua kali ya?" aku mencoba mengingat
"Ngapain?" dia berbalik kepadaku
"Liat konser" aku nyengir kuda.
"Liat konser? emang disana gak ada konser?"
__ADS_1
"Ada tapi jarang banget. Gak kaya dikota gede kaya gini kan?"
"Iya juga sih mas. Pindah sini aja deh mas"
"Mana bisa. Kerjaku disana?"
Aku mengangkat bahuku.
"Banyak banget belanjanya. Pasti ni buat Ardit"
"Dih cemburu ya?" dia menunjuk hidungku.
"Tanya doang"
"Ya tentu buat mas Ardit jugalah. Masa yang lain dikasih dia enggak"
"Tapi gak ada apa apa kan?"
"Ih dasar gak percayaan" dia memukul lenganku.
"Ampun boss"
Acara belanja kami terhenti kala gawai Tasia berdering.
"Gue masih muterin mall. Lagian lu lama banget"
....
....
"Bye Chel"
Gawainya dimatikan.
"Siapa?"
"Temenku yang mau aku kenalin ke kamu mas"
jawabnya lalu menyerahkan beberapa paper bag padaku.
"Bantuin" dia meringis lucu.
Keluar dari toko, kami menuju ke food court. Tasia menawariku beberapa makanan juga minuman ringan.
"Beli ini aja mas. Sambil nunggu temenku"
"Oke"
Antrian lumayan panjang. Aku tak mungkin membiarkan Tasia berdiri membawa barang. Aku menyuruhnya duduk saja. Sesekali aku menolehnya, saat sama sama bertatapan dia tersenyum padaku. Cantik. Akankah jadi milikku?
Selesai membeli makanan aku kembali ke Tasia. Dia terlihat mengobrol dengan sepasang orang. Mungkin itu temannya.
__ADS_1
"Hai" aku menyapa mereka
"Hai.. Mas Ramdan ya?" tebak perempuan itu.
"Hehehe iya saya Ramdan. Kamu temennya Tasia?"
"Iya saya Rachel dan ini pacar saya Niko"
Aku berjabat tangan pada Rachel dan Niko
"Senang bertemu kalian"
"Mau makan apa?" tanya Tasia
"Beli steak yuk?" ajak Rachel.
Ha? Beli steak? mahal pasti. Anak kota gede makannya kaya begini?
"Oke. Ayo mas"
Tanpa menunggu lama, Mereka pergi ke cafe yang yang dituju. Percakapan dua pasang kekasih yang penuh curahan hati, candaan melebur semua.
Aku? ikut sajalah. Semoga uangku cukup untuk membayar ini semua. Bukan aku pelit tapi memang begini adanya.
"Mbak.. Bill-nya dong" panggil Rachel ke pelayan
Lalu pelayan itu memberikan tagihan ke meja kami saat kulihat tertera tagihan Rp1.000.000 per porsinya. Benarkah ini?
Aku pun mengeluarkan dompet tapi ternyata ditahan oleh Rachel
"Biar kita aja yang bayar"
Rachel menyerahkan satu potong kartu hitam ke pelayan.
Beruntung selamat dompetku tapi ketika aku melihat dompet pacarnya Rachel terbuka, jiwa insekyur ku mendadak keluar.
"Kalian habis ini langsung balik?" tanya Niko
"Iya. Senin kita kan kerja. Ya kan sayang?" jawab Tasia menghadapku
"I-iya"
Niko dan Rachel manggut-manggut.
"Tapi entar nikahan gue, lu berdua kudu dateng ye? Awas kalau enggak"
"Iya. Pasti gue dateng. Gue ambil cuti deh"
"Beneran ya?"
Sekitar pukul 14.00, pertemuan kita berakhir. Dari semua ini yang menjadi pertanyaanku, pantaskah aku menjadi kekasih dari Tasia??
__ADS_1