
Aku bersyukur hubunganku dengan Mas Ramdan membaik. Ia sudah mulai mau menghubungiku kembali. Memanggil sayang bukan Tasia lagi. Meskipun frekuensinya tidak sebanyak dulu.
Pagi ini aku membeli sarapan nasi uduk di depan gang kostku. Kalau sepagi ini belum terlalu banyak antrian. coba seperempat jam lagi. Pasti banyak ibu ibu, anak sekolah dan pekerja antri disini.
Disaat aku mengantri aku bertemu ibu Amalia. Alias calon mertua.
"Cantikkk" sapa nya lembut.
Aku tersipu malu.
"Ah ibu. Bisa aja" aku memegang lengannya
"Mau beli apa bu?" basa basi ku.
"Mau beli nasi uduk buat orang rumah. Tasia mau pesan apa?"
"Nasi uduk juga bu"
Obrolanku terhenti saat penjual nasi uduk memberikan pesananku.
"Biar ibu aja yang bayar Cantik" ucap bu Am saat aku akan Menyerahkan satu lembar uang sepuluh ribuan.
"Aduh bu. Aku ditraktir ya?" aku hanya nyengir kuda. "Makasih ya bu"
"Sebagai gantinya nanti Minggu ke rumah ibu ya? Ada sesuatu buat nak Tasia" beliau memegang pundakku. "Bisa gak?"
"Heem bisa bu. Insyaallah Tasia bisa" jawabku dengan semangat.
"Saya permisi dulu ya bu Am"
Ha? Beneran ini? Jangan jangan Mas Ramdan sudah mulai terbuka dengan hubungan kami. Makanya Bu Amalia mengajakku ke rumahnya. Semoga benar!
Hari ini aku bekerja dengan penuh semangat. Kabar pengajakan ke rumah ibu Mas Ramdan menambah energi. Pekerjaan cepat selesai sampai rekan kerjaku terheran. Meskipun hanya Mas Wahyu dan Mbak Mira yang respon. Kalau Mas Ardit dan Sheila sudah jaga jarak denganku. Oh kita bertiga seperti berada di benua berbeda beda. Auk ah!
Jam kerja terasa berputar cepat. Segera ku hubungi Mas Ramdan. Dia hari ini libur kerja jadi bisa menjemputku.
__ADS_1
"Seneng banget hari ini" di serahkan nya helm padaku.
"Iya dong"
"Bagi dong. Penasaran nih? Dapet bonus ya?" tebakannya membuatku cekikikan.
"Bukan!"
"Terus apa?"
"mau tau aja atau mau tau banget"
Kamipun tergelak lagi. Di jalanan yang ramai ini kami seperti berduaan saja.
"Mau tau banget. Apaan sih?"
"Lhoh masa kamu gak tau sih?"
"Beneran aku gak tau sayang"
"Mama kamu ngundang aku ke rumah lho. Ada acara apa sih?"
"Coba deh nanti kamu tanya ke mama kamu. Spill the tea, yang"
"Pil apa?"
"Hahaha... Spill bukan pil. Bocorin maksudnya"
"Iya deh nanti coba aku tanya ke ibu. Mau nongkrong apa langsung pulang?"
"langsung pulang aja deh"
"Siap"
Mas Ramdan mengantarku sampai ke kost. Tak ada pembicaraan lagi setelah memberitahu rencana ibunya. Kami sama sama menerka nerka ada apa hari Minggu nanti.
__ADS_1
Sampai hari Minggu, Mas Ramdan tidak ada penjelasan apa apa. Katanya cuma mengundangku saja buat makan siang bersama. Sempat ku tanyakan apakah dia bercerita tentang hubungan kami. Ternyata belum bercerita apapun tentang hubungan kami. Kecewa pasti.
Tapi aku mencoba menghargai dia. Mungkin masih trauma dengan hubungan yang lalu dengan Helen.
Pukul 09.00 aku sudah siap berangkat. Dengan moda ojek pribadi nan spesial. Siapa lagi kalau bukan Mas Ramdan. Senyumku mengembang saat dijemput
"Bawa apaan tuh?"
"Bawa brownies buat calon mertua"
Kami segera berangkat ke rumah Mas Ramdan. Cepat sampai karena jarak kostku dengan rumah mas Ramdan emang gak jauh.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam" jawaban dari dalam rumah. "Eh calon mantu datang. Sini masuk masuk?"
"Ini buat bu Am" aku menyerahkan satu paper bag berisi 2 kotak brownies panggang.
"Makasih ya. Repot repot banget bawain gini"
"Gak pa pa bu"
Mendengar itu aku tersenyum lebar. Namun berbeda dengan Mas Ramdan. Aku pun menyadari ada yang tidak beres nih.
Aku masuk terlebih dahulu diikuti mas Ramdan dibelakang ku.
"Sini sini" bu am menyilakan aku duduk. "Ayah, Reynal" panggilnya
"Reynal siapa mas?" tanyaku berbisik pada Mas Ramdan yang duduk berseberangan denganku
"Adikku"
"Ooh"
Tak lama ayah Mas Ramdan dan adiknya keluar dari ruang keluarga bersama Bu Am.
__ADS_1
"Ini Yah yang Ibu mau kenalin ke ayah. Mau ibu jodohin sama Reynal"
APA!!