
"Tuh lihat bu. Anak kebanggaanmu telah berbuat zina. Bikin malu saja" suara ayah menggelegar.
Aku, Reynald dan ibu hanya bisa menunduk.
Semalam.setelah kejadian, aku menelepon ayah. Menceritakan semua kejadian. Ayah dengan tegas tak akan menjemput Reynald. Ibu yang ke kantor menjemput.
Aku memilih tetap mendampingi meskipun malu sudah jelas terpampang di dahiku. Adik seorang satpol PP tersandung permasalahan prostitusi.
Ibu dan Reynald pulang menggunakan taksi daring. Sementara aku menunggu selesai jam kerja lalu pulang menjemput ayah mengambil mobil yang ditinggal Reynald di rumah temannya. Ribet sekali.
Ayah sungguh geram dengan kelakuan Reynald. Pagi waktu sarapan, bukannya makan nasi kami sekeluarga berakhir makan omelan ayah.
"Ayah kecewa sama kamu Reyn. Sekolah tinggi tinggi malah kena kasus kaya gini" ayah menunjuk wajah Reynald.
"Maaf yah.." lirih kata maaf itu diucapkan oleh adikku.
"Kamu sudah..." ayah berhenti mengucapkan kata katanya. Suaranya parau. "Kamu sudah melempar kotoran ke muka kami. Puas kamu! Hah?"
"Ayah.. sudah yah.." aku mencoba menenangkan ayah.
"Biarin Ram. Bocah tak tau diuntung. Apa apa di turutin. Malah seperti ini kelakuannya. Bejat!"
"Itu bu. Hasil didikanmu yang selalu memanjakan dia"
"Yah ibu gak pernah manjain dia. Dia khilaf yah" ibu mulai bersuara.
"Iya kan Reyn. Kamu khilaf. Jangan ulangi lagi ya Reyn" ibu memeluk Reynald dari samping. Andaikan aku yang salah sudah pasti aku akan dipukul.
"Jangan jangan kamu sering minta uang buat sewa begituan. Iya Reyn?"
"Ayah! Reynald gak seperti itu. Dia emang.."
"Stop bu! Jangan kau bela bela dia lagi. Ayah kecewa sama kamu Reyn" lalu ayah melangkah meninggalkan kami bertiga. Merasa tak nyaman aku pun ikut pergi.
"Sabar ya Reyn"
"Maafin Reynald ya bu. Kemarin Reyn cuma main aja kok" sayup sayup ku dengar suara percakapan ibu dan adikku. Hah, lagi lagi bocah itu main drama.
__ADS_1
Baru saja punggungku menyentuh kasur, sebuah pesan masuk ke nomorku.
Ratuku : [Sayang, minggu depan aku balik kampung. Kamu jadi ikut?]
Dahiku mengernyit.
"Ada apa?"
Lama ku tunggu balasan pesan itu. Belum juga mengetik rupanya. Kutaruh gawai diatas meja kamarku. Lekas aku pergi mandi, juga mengingat ingat kembali adakah janji terlupa kan.
Triingg.. Triingg..
Ah ada telepon masuk. Tasia. Lekas ku angkat saja. Namun seketika panggilan terputus. Lima panggilan ku lewatkan. Aku putuskan menghubunginya.
"Sayang gimana sih?"
"Salam dulu ibu ratu"
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam"
"Lupa? Emang ada acara apa sih?"
"Sabtu depan Rachel nikah. Kan udah aku bilang. Jadi jumat pulang kerja aku berangkat tapi pulangnya senin"
"Astagfirullah" aku menepuk jidatku sendiri. "Maaf ya sayang aku lupa. Ya udah aku coba ijin sama atasan ya?"
"Kalau mendadak gini bisa?"
"Gak tau juga. Makanya nanti aku coba tanya"
"Oke deh. Aku tunggu kabar dari kamu"
"Siap ibu ratu"
"Dah ya. Aku tutup dulu. Assalamualaikum"
__ADS_1
"Wa'alaikum salam"
Tut. Gawaiku ku taruh di meja kembali. Semoga bisa ijin. Keruwetan beberapa hari terakhir membuatku lupa dengan janjiku.
Selepas kejadian merazia adik sendiri, aku jadi bahan ledekan rekan kerjaku. Argh.. tak ku ambil perasaan. Biarkan saja ocehan itu. Toh sudah sama sama dewasa kan?
Setelah apel pagi, aku bergegas menuju ruang atasanku. Meminta ijin cuti.
"Tumben ambil cuti. Mau nikah ya?" tanya atasanku.
"Enggak pak. Mau ke ibukota, ada kondangan" jawabku sejujurnya.
"Kondangan mulu, kapan dikondangin?" ah atasanku ini mentang mentang aku sudah berumur selalu diledek begini.
"Ah bapak nih. Jadi gimana? diijinin gak?" tanyaku lagi.
"Iya. Buat kamu oke. Jarang jarang ambil cuti"
"Terimakasih pak"
Yes! Lega rasanya.
[Sayang, ijin cutiku diterima] terkirim pesanku pada Tasia.
10 menit berlalu.
[Siap. Berarti jumat sore kita berangkat ya]
Baru jariku akan mengetik balasan, rupanya ada pesan lagi dari Tasia.
[Besok papa mau ketemu kamu sayang]
[ada apa]
[Enggak tau. Mau dijadiin mantu kali. Emoticon ketawa]
Aamiin..
__ADS_1
Huft.. kok deg degan ya?