Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Tiga Puluh


__ADS_3

Hubunganku dengan ibu dan adikku tak juga membaik. Ibu masih membela adikku, apapun kelakuannya. Sedang ayah, beliau netral.


Aku sudah tak ambil pusing. Terbiasa bagiku untuk menjadi nomor dua. Selalu mengalah kepada adikku. Tapi satu hal ini aku tak bisa mengalah. Tasia, perempuan yang merubah hidupku lebih optimis lagi dan tak minder dengan apa yang aku punya.


"Sayang, hari ini aku mau in action" kataku saat menelpon Tasia siang ini. Ya, aku masuk siang hari ini.


"Heem sayang. Hati hati ya. Emuaaahh" satu kecupan online ku terima.


Perasaanku menghangat, kupu kupu berterbangan di perutku.


Keluar rumah aku bertemu ibu. Tak ku lihat keberadaan adikku itu. Sejak pagi ia pergi naik mobil ayah. Ibu langsung menghindar saat aku menghampiri akan menyalami. Sudahlah, aku berangkat saja ke kantor.


Tak berselang lama, aku sudah sampai kantor. Terlihat beberapa rekan kerjaku bersiap siap akan pulang karena pergantian shift. Hari ini reguku akan menjalankan penggebrekan di kost kost di daerah selatan kota. Menurut info, kost kostan itu sering digunakan pasangan bukan suami istri untuk bertemu. Ya kalian tau sendiri bertemu untuk hohohihe.


Pukul 19.00 reguku berangkat. Tujuan kami 2 tempat. Soalnya 4 tempat sudah digerebek regu sebelumku.


Sampai di tujuan pertama kami berhasil membawa 6 pasangan bukan suami istri. Tapi 2 pasangan menolak dibawa ke kantor. Beralasan sudah berumur toh ini hal yang biasa terjadi katanya. Ah mereka tidak tahu perzinahan termasuk dalam tindak pidana.

__ADS_1


Butuh beberapa waktu untuk menyelesaikan masalah ditempat pertama. Baru satu tempat sudah melelahkan begini.


"Lanjut tujuan kedua" ucap pimpinanku.


"Siap!"


Semua anggota bergerak menuju tempat kedua. kost kostan 10 pintu terletak didalam gang. Satu persatu pintu kami ketok dan meminta identitas dan menengok dalam kamar sebentar. Namun satu rekanku memberitahukan ada satu kamar yang tidak membukakan pintu. Aku menuju ke kamar itu. Dari luar terdapat banyak sepatu dan sandal wanita berjajar. Dan ada satu sepatu laki laki terselip diantaranya. Seperti pernah melihatnya tetapi aku lupa dimana. Ah, sepatu kaya begini mungkin pasaran makanya terlihat tidak asing. Ku coba menepis itu semua.


"Kami dari satpol PP kota. mohon buka pintunya mbak" kataku dengan mengetok pintu.


"Bisa tunjukkan identitasnya mbak" tanyaku


"Iya bentar" jawabnya ketus.


"Nih" dia menunjukkan benda persegi panjang itu padaku. Masih lajang.


"Bisa kami periksa mbak dalam kamarnya" tanya rekanku saat aku memeriksa kartu identitasnya.

__ADS_1


"Maaf gak bisa. Saya gak mau" dia menolak dan hendak menutup pintu.


Adu mulut tidak bisa dihindari. Salah satu rekan kerjaku memberikan peringatan. Meminta kerjasamanya. Dan wanita itu akhirnya menyerah.


"Jangan diacak acak" pintanya dengan nada sebal.


2 rekanku sudah masuk menggeledah kamar mandi dan almari. Tidak ada yang aneh ataupun mencurigakan. Tanpa sengaja seorang rekanku berjingkat.


"Hiii... ada kecoa!"


Rekanku lari terbirit-birit, sedang yang lain menertawakan dia. Tiba tiba saja,


Gubrak!!


Kami semua terkejut. Ada seseorang keluar dari kotak kardus besar di pojok ruangan ini. Pun denganku, terkejut luar biasa melihat orang itu. Memakai bokser dan bertelanjang dada.


"Reynal! Kamu!"

__ADS_1


__ADS_2