Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Sepuluh


__ADS_3

POV Ramdan


Namaku Ramdan Alatas. Bisa ditebaklah dari namanya kalau aku masih ada keturunan Arab. Tentu saja dari papa. Sejak 10 tahun yang lalu aku berprofesi sebagai Satpol PP.


Teringat dulu saat masih sekolah jadi siswa bandel. aku sering bolos, nongkrong di warung kopi kemudian kena razia tertangkap Satpol PP. Ah gak taunya sekarang aku menjadi tukang razia. Lucu sekali takdir ini.


Sudah 30 tahun aku hidup dan tetap saja jomlo. Tak ada lagi rasa percaya diri mendekati wanita yang aku kusukai. Kenapa? Soalnya udah 2x aku ditinggalkan begitu saja oleh pacarku. Alasannya gaji kecil, gak cukup buat hidup kita berdua kalau dah nikah apalagi kalau ada anak.


Rasanya sudah lupa getaran getaran cinta saat bertemu kekasihku. Sampai suatu saat, ketika akan pulang bertugas ada seorang wanita muda pingsan dan dibawa ke kantor.


"Ada tanda pengenal gak" tanyaku


Lalu rekan wanita yang kupanggil mbak Wit menggeledah pakaian wanita itu.


"Cuma ada dompet" dibuka satu persatu kartu didompet itu.


"Bukan orang sini ni cewek"


Aku juga ikut memeriksa KTP wanita itu. Anastasia Angelica nama yang cantik. Masih muda, 23 tahun.


"Ya udah kita tunggu sampe dia siuman aja"


Tak lama kemudian wanita itu siuman. Terlihat bingung dengan sekitarnya. Lalu aku menjelaskan kalau dia tadi pingsan saat ada razia pedagang. Dia kaget lalu merengek minta pulang. Sebel? enggak. Lucu malah, menggemaskan. Hahahaha


"Kamu tinggal dimana?"


"Saya pendatang Bu. Tinggal di kost kostan di gang Sayang"


Lah itu kan gang jurusan rumahku. Ah entahlah tiba tiba dalam hatiku tergelitik saat menatap wanita itu. Ada yang 'klik'.

__ADS_1


"Biar aku antar pulang aja mbak. Rumah mbak Wit kan gak searah" ujarku


"Iya deh Ram. Diantar mas ini gak apa apa kan?" tanya Mbak Wit pada wanita itu.


"Iya gak apa apa" jawabnya


"Iya udah aku duluan ya mbak"


Sepertinya dia belum sadar sepenuhnya, ku gandeng tangannya. Ku serahkan jaketku padanya. aku menanyakan tinggal dikost mana? ujung gang atau Bu Murni? Dia bilang Bu Murni. Gegas ku tancap gas ke kostan Bu Murni. Akan tetapi gerbang sudah ke kunci. Terpaksa aku ke rumah Bu Murni.


Sedikit ku ceritakan kronologinya. Bu Murni manggut manggut kemudian mengambil kunci gerbang. Setelah terbuka aku mengantarnya sampai didepan kost. Dia berucap terimakasih padaku dan masuk kamarnya begitu saja.


Aku ingin memanggil kembali karena jaketku masih dikenakan. Ah gak jadi deh, tengsin masak mau diambil aja. Ya sudah aku pamit pulang saja pada Bu Murni.


Sejak malam itu, wajahnya terbayang bayang dipelupuk mataku. Wanita bernama Anastasia. Sepertinya aku jatuh cinta, ya jatuh cinta lagi setelah sekian tahun aku menutup diri. Setiap kali aku berangkat kerja, motor sengaja aku pelankan lajunya. Siapa tau aku bisa lihat dia. Ternyata salah, beberapa kali aku lewat tak pernah kutemui dia. Zonk! Ya sudah belum rezeki.


Waktu aku libur kerja. Ku putuskan ke swalayan si lebah. Beli facial foam biar gak kucel wajahku walaupun sudah kepala 3. Setelah mendapatkan barang yang kucari lalu aku berjalan liat liat beberapa produk.


Aku ikut mengambil barang belanjaan yang jatuh. Yah kampret dapet pembalut, ku serahkan saja padanya. Saat ia akan pergi aku mau meminta jaketku


"Eh Kamu kan..." ah sial lidah tak bisa bergerak


"Saya?"


"Ah sudahlah" aku hanya mengibaskan tangan kemudian pergi. aku rasa dia tak ingat dengan kejadian itu.


Kok aku ngotot minta jaket itu, ya karena itu jaket kesayanganku. Yang selalu menemaniku dikala kerja malam.


Sudah tau kan kalo ada virus coronces masuk ke negeri kita. pemberlakuan Social Distancing, lockdown sampai penerapan jam malam. Aku tahu pasti banyak yang gak setuju dengan semua peraturan itu. Tapi mau gimana lagi, aku sebagai aparat kan menjalankan tugas. Tak sampai hati aku mengobrak abrik sumber rezeki mereka. Hanya ku buru buru saja biar segera berkemas dan meninggalkan tempat.

__ADS_1


Ku lihat masih ada wanita kekeuh minta dilayani. Dia menghadangku dengan tangan merentang. Meminta pedagang melayaninya baru boleh berkemas. Ternyata dia lagi, dia lagi.


Rekanku Pak Agus menegurnya halus, "Dek ini sudah jam malam. Jadi harus tutup"


"Gak bisa gak bisa. Enak aja nyuruh tutup. Masih ada pelanggan juga. Layani saya dulu bang baru berkemas" cerocosnya.


Seandainya aku tak memakai masker sudah pasti aku tertawa ngakak melihatnya.


Satu kata menggemaskan, kelihatan sexi. Hih..


Pedagang itu akhirnya ngalah juga, memilih melayani Tasia. Diberikan cuma cuma dimsum itu tapi dia menolak. Dia bilang jaman lagi susah gini ngasih gratis.


Tak berhenti disitu, sama Pak Agus dia ditahan karena dianggap bertindak kurang pantas. Bagus Pak Agus, brilian. Kalau gini caranya aku bisa mandang dia sampai puas.


Kata Pak Agus, bakal dilepasin kalau yang jemput orang tua kamu. Terserahlah tahan aja, aku malah tambah senang


Selang beberapa saat dia berhasil menelpon orang tuanya, tapi saat sampai di TKP aku seperti mengenal orang tuanya.


"What! Mama!" terkejut pastinya


"Ngapain kamu nangkep anak perempuan saya?"


Lah sejak kapan mama punya anak cewek. Anaknya kan cuma aku dan si kesayangannya itu. Sudah pasti nanti dikantor bakal diledekin ni, seorang satpol PP dimarahin mamanya.


Akhirnya aku ijin memakai mobil patroli untuk mengantar mama dan dia pulang.


saat sampai didepan kost dia berpamitan


"Aku turun duluan ya Bu. Makasih udah ditolongin. Dadah ibu" tangannya melambai ke Mama

__ADS_1


"Aku gak dipamitin?"


Dia menjulurkan lidahnya mengejekku.. Fine Anastasia aku tambah suka sama kamu


__ADS_2