
Sudah dua minggu Tasia diisolasi, hampir setiap hari Ramdan mengantarkan makanan yang dimasak oleh mamanya. Sedikit curi curi perhatian dengan Tasia, membuat Tasia akhirnya luluh juga. Kalau gak ketemu, mereka berdua merasakan rindu.
Tit..tit..
Klakson motor Ramdan ada didepan kost Bu Murni. Hari ini libur kerja, ia mau mengantar Tasia kerja. Tapi tak disangka, seseorang datang.
"Tas, bareng sama aku ya?" Mas Ardit yang datang dengan mengendarai mobil
Kaget. Tasia terkejut saat tahu Ardit ada didepan kost juga.
"Tasia udah janjian sama aku" kata Mas Ramdan tegas
"Maaf mas, aku dah janjian sama Mas Ramdan" ucap Tasia. Memang mereka berdua semalam udah janjian.
"Naik mobilku aja Tas. Biar gak kepanasan. Jangan naik motor butut gini" Ardit menunjuk kuda besi milik Ramdan. Gemerutuk gigi Ramdan, rahangnya mengeras menahan emosi atas kata kata Ardit.
"Sabar Mas, gak usah diladenin" bisik Tasia
"Kayanya Sheila lebih butuh mas" Tasia saat melihat Sheila ada didekat pintu dengan wajah sewotnya
"Aku kesini mau jemput kamu ya Tas, tega ya kamu ngomong gitu" katanya penuh penekanan
"Kamu juga gak bilang kan mas kalau mau jemput mas. Please ya mas jangan maksa"
Tasia melangkah akan meninggalkan mas Ardit, tapi ia berbalik sebentar
"Jangan suka hina orang mas. Ayo berangkat"
Tasia mengambil helm dari tangan mas Ramdan
"Maaf bro aku duluan" senyum tipis tersungging di bibir Ramdan. Mereka berdua berlalu meninggalkan Ardit didepan gerbang kost
"Mas Ardit, jangan sedih" suara Sheila yang mendekat ke arah Ardit. suaranya dibuat manja mendayu Dayu
"Apaan sih Shei" wajah Ardit masih sebal gara gara kejadian barusan
"Udah mas, gak usah mikirin Tasia. Gak pantes kamu kejar dia. Mending sama aku aja mas"
"Enggak. Makasih. Aku berangkat aja"
"Lhoh kok gitu. Aku nebeng ya mas" tangan Sheila menahan mas Ardit yang akan masuk ke mobil. "Takut telat. Please ya mas" kedua tangannya bersatu memohon
"Ya udah. Cepetan"
"Makasih mas" Sheila kegirangan
Didalam ruangan kantor, tak ada lagi suara selentingan candaan. Hening, Mbak Mira dan Mas Wahyu heran dengan keadaan kali ini. Beberapa kali dia melontarkan candaan hanya direspon oleh Mbak Mira. Biasanya mereka saling sahut menyahut. Penasaran Mbak Mira ngechat Tasia
__ADS_1
[Tas, entar beli mie ayam Deket kantor ya. Sekalian sama Marlo]
[Tumben. Oke deh]
Jam istirahat tiba. Segera aku keluar ruangan, lalu menuju lift turun ke lantai dasar. Aku menunggu mbak Mira dan Marlo di depan. Sebenarnya aku sedang kurang mood, karena kejadian tadi pagi. Enggak nyangka dengan sikap mas Ardit yang menghina orang seenaknya.
"Hayoo lho nglamun aja" aku terkejut saat Marlo datang menepuk lenganku
"Lu apaan sih Mar? Mana mbak Mira? Kok lu dateng sendirian?"
"Ke toilet bentar. Ada apaan emang? Mbak Mira bilang ada rapat dadakan"
"Hah? Rapat apaan? Ngaco lu. Dibohongin mbak Mira kamu" aku dan Marlo tergelak
Dari jauh aku melihat mbak Mira dan mas Wahyu berjalan mendekat.
"Sama mas Wahyu juga?" aku menunjuk mas Wahyu
"Sekali kali lah Tas, aku ikut rapat dadakan?" kata mas Wahyu dengan cengengesannya
"ini kita rapat apaan sih mbak?" tanyaku pada mbak Mira
"Udah deh. Kita ke tempat mie ayam dulu. yuk cus" mbak Mira mengayunkan tangannya pertanda mengajak berangkat semua
Lokasi jualan mie ayam yang tak terlalu jauh dari kantor tak membutuhkan waktu lama. segera kami berempat mengambil tempat masing-masing. memesan 4 porsi mie ayam dan 4 gelas es teh.
"Eh ini serius ya. Kamu ngetawain siapa?" tegas mbak Mira. kenapa lucu lucu sekali orang ini.
"Mbak Mira sama Marlo apa apaan sih. kalian lagi latihan drama?" tanyaku
"Udah deh Mir, buruan mau nanya apa? ikut kesel juga kelamaan nunggu" mas Wahyu langsung
"Eh kamu apain Ardit, Tas? Diem dieman gitu" mbak Mira mulai menanyaiku
"Oh ini mah sidang bukan rapat" aku mengerti maksud mbak mira
"Iya aku sebel sama mas Ardit" garpu sendok aku ayunkan agak keras beradu dengan mangkok. Dentingannya menggambarkan kekesalanku
"Kenapa" tanya mereka bertiga berbarengan
"Jadi gini ceritanya, tadi pagi pas aku berangkat kerja dia nawarin tumpangan sama aku, aku tolak kan ya. Soalnya aku udah janjian sama orang lain"
"Siapa siapa?" Marlo terlihat penasaran dengan ceritaku
"Ih bentar belum selesai. Trus karena gak terima dia ngehina temenku itu. Bilang kendaraannya gak cocok buat aku. gitu"
"Lagian kamu diajak naik mobil bagus gak mau. Kan enak, nyaman, tinggal duduk sampai tempat. Iye kan?" Mas Wahyu memberondong ku dengan keadaan pendapatnya
__ADS_1
"Ya emang sih Mas. Tapi ada satu lagi masalah. Aku paling males kalau urusan sama ginian"
"Apaan" mereka barengan lagi
"Sheila"
"Lah emang kenapa Sheila?" tanya Mbak Mira
"Dia nglarang aku deket sama mas Ardit. dia bilang 'Pokoknya mas Ardit punya aku'. Ya udah aku mah fine fine aja gak deket sama Mas Ardit. Ambil ajalah"
"Beneran boleh diambil? Ardit anak orkay Tas. Gila lu nglepasin anak orang tajir gitu. Emang siapa sih tuh temen lu? gebetan?" ucap Marlo
Tasia manggut-manggut.
"Kok lu tau kalau Mas Ardit tajir?"
"Kan yang masukin aku kesini bapaknya mas Ardit" kata Marlo
"Ha?" wah gawat nih. Marlo kenal Deket dong sama Ardit
"Awas tu Tas. Bisa jadi Cepu dia" Mas Wahyu memperingatkan tapi senyumnya mengejek
"Eh enggak Tas. Percaya ma gue Tas. Gue gak akan bilang apa apa kok."
"Selama aku kerja disini baru lihat dia deketin cewek ya sekarang ini Tas. Dia itu cuek banget. Dingin, cool gitu kata orang orang. Banyak yang ngedeketin. Eh kamu malah nolak dia"
Jelas mbak Mira yang baru saja menghabiskan satu gelas es jeruknya.
"Ya namanya perasaan gimana dong. Aku dari awal nganggepnya biasa aja trus didamprat Sheila trus kejadian tadi pagi. Iyuuh ilfeel jadinya" akupun juga menyelesaikan makanku
"Ih belum dijawab siapa gebetan lu itu" Marlo sepertinya sudah penasaran maksimal
"Itu... Itu satpol PP yang nangkep aku pas razia malam"
"Ha? ketangkap razia!" mbak Mira dan mas Wahyu melotot, kaget mendengar jawabanku
"Kamu jadi ehm maaf wanita malam?" tanya Mbak Mira takut aku tersinggung
"Eh bukan. Kena jam malam pas beli makan"
"Owalah"
"Oh jadi lu beneran berhubungan sama satpol PP itu. Cieeeee"
"Cieeeee"
Ah aku jadi malu..
__ADS_1