
"Aku ragu untuk melanjutkan hubungan ini" katanya lemah
"Eh maksud kamu gimana?" aku mengernyitkan dahi, alisku bertautan.
"Apa yang bikin kamu ragu? Apa?"
"Beda kasta" jawabnya singkat
"Haish.. kasta apa? aku gak menganut hal itu ya. Kamu kaya gini jangan jangan gara gara mantan pacar kamu itu ya? Iya?"
Huh.. Aku makin gak sabaran. Kenapa sih pakai diam aja. Aku tuh butuh penjelasan sat set sat set begitu.
Tapi tahan. Ini tempat umum Tasia. Tahan ya.. tahan.
"Mas kamu gak pengen cerita ke aku. Biar kita bisa cari solusinya"
Dia hanya diam, sejenak memandang langit lalu menoleh kepadaku.
"Apa? Menjauhi kamu kan?"
"Tolong mas kita sudah bukan abg ya. Jadi kita bisa selesaiin ini dengan kepala dingin. Bukan dengan emosi kaya gini, apalagi menuruti keputusanmu yang belum dicari lebih dulu kebenarannya"
"Kebenarannya aku ini laki laki biasa..."
"Iya kan. Kamu laki laki biasa dan aku tau, aku gak minta gima..."
"Hust! Dengerin aku dulu"
"Oke. Maaf" aku menganggukkan kepalaku
"Tasia, kamu tahu kan aku hanya pegawai begini. Gajiku juga gak seberapa, aku takut gak bisa menuruti keinginanmu. Kamu jadi gak bahagia" lirihnya sembari menunduk
Topi yang dipakainya, diletakkan di pangkuannya. Membolak baliknya seperti ada keresahan dibaliknya.
"Ngaco kamu mas. Aku pernah minta apa sama kamu? tas branded? sepatu? baju?" dia menggeleng
"Lantas kenapa kepikiran gitu"
"Helen begitu"
__ADS_1
Oh jadi ini masalah kamu dulu dengan mantanmu? Terus kamu ngira aku kaya gitu"
"Gak gitu..."
"Terus?"
Mas Ramdan menceritakan masa lalunya dengan mantan pacarnya. Helen namanya. Menurut dari penjabarannya, Helen gadis SMA yang manis. Disaat itu Mas Ramdan yang masih sebagai pegawai tidak tetap gajinya hanya cukup untuk beli bensin. Awalnya semua berjalan baik, Helen menerima apa adanya. Namun semua berubah, ketika orang tuanya mengetahui hubungan mereka. Helen anak orang berada dan di lingkungan yang sama halnya.
Orang tua Helen menuntut Mas Ramdan,
'Kamu naik motor kesini? Pegawai kok gak punya mobil?'
'Beli ginian dimana? Pasti bukan di swalayan ya?'
'Kamu punya uang berapa kok macarin anak saya'
Kata Mas Ramdan menirukan ucapan orang tua Helen. Dari tatap matanya dia sedang kesakitan.
Lalu, sikap Helen juga berubah. Jadi menuntut ini itu.
Minta dibelikan aksesoris, baju, sandal, sepatu, ke salon tanpa memperhatikan keadaannya.
Uang sudah habis kesabaran pun sudah habis.
'Aku nyesel pernah kenal sama lelaki kere kaya kamu'
Itulah ucapan terakhir Helen.
"Jadi kamu v aku dengan Helen mas?"
"Hmmm.."
kecewa. Bagaimana bisa dia menyamakan aku dengan Helen.vvv
"Gimana bisa kamu nyamain aku dengan Helen. Kita tuh beda, jelas beda. Atau kamu masih cinta sama dia?"
"Eh enggak gitu Tas. Bener deh aku minder. Kamu anak orang kaya"
"Darimana tau aku anak orang kaya?"
__ADS_1
"Mobil kamu? Hobi orang tua kamu? Iya kan, itu sudah kelihatan Tas"
Mendengar penjelasannya aku malah tertawa. Dia pun mengernyit heran.
"Kenapa?"
"Itu mobil fasilitas dari kantor papa. Ngawur kamu. Kalau masalah hobi mah. Itu dilakukan papa buat bangun relasi. Paham?" aku memegang tangannya. Memberi remasan pelan.
"Aku gak pernah mikirin kasta, Mas. Yang penting aku nyaman sama kamu. Aku gak mandang kamu dari harta. Mungkin kalau aku mandang kamu dari harta, ya gak mungkin aku jadi pacar kamu"
"Tapi Tas.."
"Tapi apa? Udah gak usah minder. Oke?"
Dia mengangguk.
"Senyum dong"
Dia melempar senyum manisnya padaku. Pun aku membalas.
Aku duduk mendekat, merangkul lengan dan meletakkan kepala di pundaknya. Nyaman, menyenangkan.
"Aku sayang kamu" bisikku di telinga nya
"Love you" ucapnya
"Ehemm"
Ibu penjual jagung itu berdehem. Sepertinya beliau menikmati obrolan kami.
"Makanan enak, perut kenyang bikin mikir jadi slow gak pake emosi"
"Kalau ada masalah jangan dipendam, keluarkan saja. Tapi dengan cara yang santun. Jangan menyimpulkan sesuatu hanya dari pandangan satu orang. Oke?" jempolnya diacungkan pada kami berdua.
"Mantap bu. Bener tuh mas" aku juga mengacungkan dua jempol buat ibu itu.
"Ibu tahu banget deh" pujiku
Mas Ramdan tersenyum malu malu. Mengelus rambut ku
__ADS_1
"Ibu kan pernah muda keles"
Ibu penjual jagung nya gaul euy