
Tasia
Akhirnya, jam kerja berakhir. Segera ku bereskan map map yang ada di meja kerjaku. Gawaiku didalam tas kurogoh, belum ada chat ataupun telpon dari Mas Ramdan. Hubungi dulu gak ya?
"Barengan yuk Tas" ajak mbak Mira
"He'em bentar mbak". Aku iyakan ajakan mbak Mira, lalu memasukkan gawaiku ke tas. Mbak Mira sudah menungguku didepan pintu, enggak enak kalau harus nungguin lama lama.
Sesaat mataku bersirobok dengan tatapan sinis Mas Ardit. Segera ia membuang muka. Rupanya masih marah doi.
"Yuk mbak"
Kami berjalan beriringan menuju lift. Berbincang masalah seputar kehidupan perempuan yang membuat kami tertawa. Tak terasa kami sudah sampai didepan kantor.
"Tas, aku duluan ya"
Mbak Mira naik ojek online ternyata.
"Iya mbak hati hati. Daaah"
aku melambaikan tangan ke mbak Mira dan dibalas lambaian tangannya.
Tring..
Gawaiku berbunyi, Mas Ramdan telpon.
"Halo, mas"
....
"Didepan kantor"
.....
"Iya aku tungguin mas. Jangan ngebut"
....
"Wa'alaikumsalam"
Ojekku telat menjemput, alasannya ketiduran. Oke lah aku menunggunya. Dua puluh lima menit kemudian, taaarrraaa mas Ramdan sudah terlihat dengan wajah serius pengen segera sampai.
__ADS_1
"Ngebut ya? cepet banget sampe sini. Padahal jam segini biasanya macet" aku masih duduk di tembok pagar, sambil mengamati wajah mas Ramdan yang ganteng ke arab araban. Hei, mulai terpesona diriku.
"Iyalah. Takut kamu diembat orang" begitu jawabnya. Hahaha jangan bikin aku ge-er mas, batinku
"Apaan sih" kutepuk pelan lengannya
"Nih helmnya" aku meraih helm itu. Ketika akan naik motor pundakku ditepuk seseorang
"Weiissshh... siapa nih. Kenalin dong"
Ah, Marlo. Ku kira tukang gendam seperti diberita berita televisi.
"Elu Mar. Kok belum pulang?" tanyaku menghindari pertanyaannya
"Ya kan gue pulangnya selalu jam segini. Beda kerjaan gue sama elu. Eh Ini siapa? Tukang Razia itu?"
Psst, Marlo ngomongnya pake kenceng banget. Seketika wajahku merah, menahan malu.
Aku memberi isyarat jari telunjuk didepan bibirku. Bener bener Marlo ini mah, dikasih tau malah cengengesan.
"Ih elu mah. Ni namanya Mas Ramdan, mas ini Marlo temen kerjaku"
"Ramdan"
Mereka berdua saling berjabat tangan dan saling tersenyum ramah.
"Kok kamu tahu aku tukang razia?" tanya mas Ramdan penasaran.
"Tasia yang bilang. Dia tuh sering cerita kalau lagi kesengsem sama tetangga kost. Dia bilang orangnya suka razia razia. Begitu kakak" tawanya terlepas bebas begitu saja setelah ngomong begitu
"Mar!" aku meneriakinya berharap tidak akan melanjutkan kata katanya
"Masa? Dia ngomong gitu?" kemudian mas Ramdan beralih menatapku. Duh aku tak berani menatapnya takut pingsan.
"Iya suwer. Sampai sampai dia nolak PDKT nya anak pemilik saham kantor ini"
Dasar ember ni orang, pake bocorin curhatan orang. Sumpah pengin ngilang aja dari hadapannya.
Tiinnn... klakson mobil berbunyi keras
"Nah tuh orangnya" Marlo menunjuk mobil mas Ardit yang baru keluar dari halaman kantor. Tatapannya seolah mengejek, senyumnya tak ada ramah ramahnya.
__ADS_1
"Udah mas. Ayuk pulang"
Aku harus segera mengakhiri obrolan ini.
"Lah belum selesai lho" jawabnya
"Mar, gue duluan"
Sebelum naik, aku menghampiri Marlo.
"Hih dasar mulut ember" ku cubit pinggangnya keras
"Auuuwww" pekiknya
""Ayo mas"
tanpa aba aba tanganku otomatis merangkul pinggangnya. Nyaman banget.
"Mau mampir kemana gitu gak?"
"Enggak mas. langsung ke kost aja"
"Bener?"
"Iya mas" sebenarnya pengin mampir ke mall atau kemana gitu. Tapi sekarang aku masih malu gara gara omongan Si Marlo.
Motor sudah berhenti didepan kost. Cepet banget sampainya. Aku segera turun, dan melepas helm. Mas Ramdan sudah mengambil alih helm itu
"Malam minggu kamu senggang apa enggak?"
"Malem minggu ini?" tanyaku balik
"Iyalah masa tahun depan"
"Dih kok sewot. Iya senggang. Kenapa?"
"Mau ngajakin kamu ke tempat favoritku. Mau?"
"Mau mau" aku melonjak kegirangan seperti anak kecil. Diapun tertawa melihat tingkahku.
"Seneng banget. Ya udah deal ya. Aku pulang dulu" gegas ia men-starter motornya
__ADS_1
"I love you Tasia" ucapnya terdengar samar samar ditelingaku. Suara motornya mengaburkan kata kata itu.
Bener gak ya, tadi dia bilang gitu ke aku. Ahhh.. mama anakmu akan melepas status jomlo secepatnya.