Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Tiga Puluh Dua


__ADS_3

Dari jauh jauh hari aku sudah meminta ijin ayah untuk mengguna mobilnya. Alasanku untuk keluar kota karena mengantar Tasia pulang kampung. Hanya sedikit pertanyaan, 'lama gak disana?', tentu tidak. Jatah cutiku cuma 3 hari selebihnya kerja lagi. Ayah memintaku berjanji tidak melakukan hal aneh aneh seperti Reynald. Ku berikan hormat pada ayah. "Siap yah!"


Untuk sementara ibu dan Reynald mendiamkanku. Terserahlah, akupun juga tidak terpengaruh. Toh sejak dulu ibu memang lebih memperhatikan Reynald.


Selepas sholat Jumat, aku sudah bersiap siap. Beberapa baju ganti sudah ku siapkan, tak lupa batik sarimbit dengan Tasia. Sebenarnya aku kurang suka dengan sarimbitan. Seperti apa aja, tapi demi ibu ratu Tasia aku berusaha menyukainya. Ha ha ha.


Pukul 3 sore, aku sudah siap semuanya. Tinggal menjemput Tasia di kantornya.


"Mau kemana lu?" tiba tiba Reynaldi datang.


"Mau tau aja urusan orang"


"Dih belagu lu ya. Mau staycation sama Tasia?" ucapnya curiga.


"Emang aku kaya kamu. Seenaknya gituan. Enggak! Aku cuma nganterin dia pulang kampung. Sodaranya nikah"


"Cuma dijadiin supir lu" kemudian tawanya menggelegar.


Argh..Bikin kesal saja satu orang ini. Kok bisa ada orang kaya dia, dan lagi dia jadi adikku. Sudah ku tinggalkan saja dia. Memang dasarnya, adikku tuh mulutnya kaya kompor meleduk.


Aku mulai melajukan mobil keluar rumah. Tentu tujuanku ke kantor Tasia. Jalanan lumayan lengang karena orang orang belum jam pulang. Tanpa kendala berarti aku sudah sampai didepan kantor Tasia.


[Aku udah di depan sayang]

__ADS_1


Ku kabari Tasia, dimana posisiku sekarang. Sambil menunggu aku menekan tombol radio. Mendengarkan alunan musik pop yang dinyanyikan seorang penyanyi laki laki. Akupun mengikuti tiap hentakan nadanya.


Tok..tok..tok..


Kaca mobilku diketuk. Kaca mobil ku turunkan.


"Diketok dari tadi lhoh" ucap Tasya cemberut.


"Maaf sayang, keasyikan dengerin musik" akupun meringis. "Berangkat sekarang?"


"Iya dong. Masa tahun depan"


"Dih ngambek" aku mencolek dagunya. Sekelebat aku melihat Ardit, berdiri bersedekap. Menatapku tajam seperti musuh. Rupanya masih dendam.


Mendengar keluhan Tasia, aku melajukan mobilku pelan keluar area kantor.


"Mau makan dulu gak sayang?"


"Enggak. Aku capek. mau istirahat dulu" terlihat memang wajah lelahnya. Mungkin banyak kerjaan di kantor tadi. Apalagi ia akan cuti.


"Ya udah kamu tidur gih. Nanti Magrib aku bangunin"


Tasia mengiyakan. Ketika masuk jalan tol, ku tekan pedal gas agak dalam, supaya lekas sampai rest area saat magrib nanti.

__ADS_1


Tepat sebelum adzan magrib, kami sudah sampai di rest area.


Mama Tasia : [Sudah sampai mana? Mama telpon kok gak diangkat]


Waduh calon mertua mengirim pesan. Sebenarnya tak jarang mama Tasia mengirim pesan padaku. Menanyakan keberadaan Tasia, apakah ada denganku? Atau mengingatkan untuk tidak macam macam dengan Tasia.


Ku raih gawai di dashboardku. Lalu memotret rest area dan anaknya yang sedang tidur.


[Baru sampai di rest area Tante. Mau sholat magrib dulu]


segera ku kirim pesan balasanku. Aku tahu mamanya pasti mengkhawatirkan anak perempuan satu satunya ini. Beruntung sekali dia punya orang tua yang begitu perhatian.


[Hati hati. Dijaga beneran ya Tasianya]


Pasti Tante, pasti akan ku jaga dia. Bidadari yang membantuku menemukan jati diriku.


Sebelum membangunkannya, aku mencuri kesempatan untuk mencium keningnya.


"Baby, I love you" bisikku lirih di telinganya.


"I love you too" jawabnya


Hah! kamu kok dengar?

__ADS_1


__ADS_2