Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Tujuh Belas


__ADS_3

Hubungan spesial antara Tasia dan Ramdan sudah diketahui beberapa orang. Mamanya Tasia harus tahu pertama kali. Itu pesan yang tidak boleh dilupakan.


"Tas, kapan pulang? Sekalian kenalin sama mamalah pacar baru kamu itu"


"Mama enggak ada rencana apa apa kan?"


"Ih kamu su'udzon"


"Yee sapa tau, mama kaya dulu. Waktu aku sama Morgan"


"Ya wajarlah Tasia!"


Yang diseberang sana tertawa cekikikan, mengingat masa lalunya saat dengan Morgan. Pacarnya ketika SMA. Morgan sendiri kakak kelasnya.


Flashback :


Waktu itu, malam Minggu seperti anak muda pada umumnya Morgan ngapel ke rumah Tasia. Mama Tasia selalu ikut nimbrung kalau ada yang mencari Tasia. Sekilas, mama emang kurang menyukainya. Tampak sekali dari attitudenya yang kurang, duduk langsung memangku kakinya. Menurut mama itu hal yang enggak sopan.


"Aduh disini panas ya. Gak ada AC ya?" tangannya mengibaskan kaos hitam bertuliskan Giordani


"Enggak ada!" jawab Mama Tasia


"Eh mama.." saat Tasia akan menjawab Mama sudah melotot duluan


"Maaf ya disini enggak ada AC untuk tamu yang enggak sopan"


"Apa maksudnya. Kamu orang kecil aja sok. Bagus tuh anak lu, gw pacarin"


"Tas, ini nih pacar kamu? lihat!"


"Yang sopan, Gan! Ini mama aku"


"Dah ya Tas, kita udahan aja" lantas pergi begitu saja


"Biarin aja Tasia anak itu pergi. Kaya duitnya orang tua aja belagu!"


Morgan yang masih mendengar itu, mengacungkan jari tengah ke Mama. Benar benar enggak sopan. Lalu mama setengah berlari kecil mengejarnya. Menyambar ember dan dilempar ke mobil Morgan. Duuukkk.. brak.


"Yang sopan bujang!"


Flashback end.


"Entar Tasia tanya mas Ramdan kapan cutinya ya mah"


"Heem Tas, jangan aneh aneh disana ya?"


"Iya Bu boss. Dah ya aku tutup dulu"


Klik.. Sambungan telepon terputus. Segera ia memasukkan gawainya ke dalam tas kerjanya. Karena hari ini Ramdan masuk pagi, dia tidak bisa mengantar Tasia kerja. No problemo bagi Tasia.

__ADS_1


...****************...


"Sayang, aku gak bisa ya ngantar jemput kamu tiap hari. Tau sendiri kan kerjaku gimana? kata Ramdan waktu itu.


"Iya Yang. Aku mengerti kok"


"Calon istrinya siapa sih ini pengertian banget" menjawil dagu Tasia


"Pokoknya jangan macem macem aja. Awas kalau sampe serong sana serong sini. Aku kheekk" tangan Tasia didepan leher, memperagakan adegan menggorok.


"Oh cantik cantik sadis ternyata" Ramdan tertawa terbahak bahak saat mengatakan itu. Pukulan manja dari Tasia mengenai lengannya.


"Ampuunn"


...***************...


Mengingat adegan demi adegan keromantisan membuat Tasia kehabisan waktu. Buru buru keluar kamar dan segera berangkat ke kantor.


Tiin tiinn..


"Tasia" saat Tasia menoleh ternyata ada Mas Ardit di dalam mobil.


"Kok disini mas? nungguin Sheila ya?" jawab Tasia yang melongok ke jendela mobil Ardit.


"E-enggak Tas. Habis beli bubur disitu tuh" tunjuknya


Tasia mengernyit heran, ngapain juga bubur dipinggir jalan, tapi mobil parkir didepan kost.


"Makasih mas. Aku naik ojek aja"


"Kelamaan Tas. Ayo naik"


"Sheila gimana?"


"Gak tau" Ardit mengedikkan bahunya


Akhirnya, Tasia ikut masuk ke mobil. Takut telat juga, sudah hampir jam masuk kantor. Beruntung sekali jarak kost dengan kantor tidak begitu jauh. Sesampainya dikantor, Tasia dan Ardit segera masuk ke ruangan. Disambut tatapan tak suka dari Sheila yang duduk di kursi kerjanya.


"Tumben bareng" kata Mas Wahyu


"Oh iya mas" jawab Tasia sekenanya sambil melirik Sheila.


"Ketemu tadi didepan kost dia. Aku tebengin aja." jelas Mas Ardit dengan senyum lebarnya.


'Gawat!' batin Tasia. Pake cerita kalau satu mobil lagi.


"Oh gitu ya" sinis Sheila.


Suasana ruangan audit cukup normal. Semua menghadap pada tugas masing masing. Sesekali candaan dilempar mas Wahyu yang gak suka suasana hening. Hanya Sheila yang sedari tadi sewot dengan semua celotehan mereka berempat.

__ADS_1


Teng.. Pukul 12.00 waktunya semua karyawan istirahat. Semua keluar ruangan untuk mengisi hak perut mereka. Tasia yang berada di belakang tiba tiba ditarik ke arah lorong sepi.


"Tas, sini kamu!"


Tasia meringis saat Sheila menarik lengannya. cengkramannya kuat.


"Ih lepas! Sakit tau!" Tasia memekik. Berharap ada yang menolongnya


Tapi Sheila malah mendorong tubuhnya ke tembok.


Bruukk..


"Aww"


"Aku sudah bilang kan jangan jangan deket deket sama Mas Ardit. Kamu ngerti gak sih?" telunjuk Sheila menunjuk muka Tasia. Emosinya sudah sampai ubun ubun. Cemburu juga kesal.


"Iya aku ngerti. Aku juga gak ngedeketin dia. Kamu denger gak sih tadi mas Ardit ngomong, kalau kami ketemu didepan gang" jelas Tasia dengan santai.


"Jangan bohong deh!"


"Lhoh. Aku jujur lho sama kamu"


"Aku gak suka kamu deket deket sama Mas Ardit. Sekali lagi gak suka! Ganjen!" tekannya


"Eh jangan asal ya! Siapa yang ganjen aku atau kamu?"


"Bre**s*k!" tangan Sheila sudah diangkat hendak menampar Tasia.


"Stop!" Mas Ardit memegang tangan Sheila sebelum mendarat di pipi Tasia. "Kamu apa apaan sih Shei?"


"M-mas Ardit.. Err.. Aku.." gugup, gagap tak menyangka tiba tiba ada mas Ardit.


"Kenapa kamu mau nampar Tasia?" suara Ardit terdengar tegas dan penuh penekanan


"Err... err" Sheila masih kebingungan menjawab pertanyaan itu.


"Jawab aku Shei!"


"Karena aku gak suka Mas Ardit deket sama dia" Sheila menunjuk Tasia. Tetapi tatapannya lurus ke Mas Ardit. Tajam, dadanya naik turun.


"Punya hak apa kamu nglarang aku gak boleh deket deket sama Tasia"


"Mas.." suara Sheila lirih memelas


"Kita gak ada apa apa ya. Jadi gak usah nglarang nglarang aku"


"Mas kamu ngasih aku harapan palsu?"


"Harapan apa?"

__ADS_1


Tasia masih kebingungan menyaksikan dua orang didepannya berdebat. Melipir sedikit dia untuk pergi dari mereka. Tapi sesaat kemudian.


"Aku pikir kamu mau menerimaku Mas. Semua udah aku lakukan mas untuk kamu. Termasuk memenuhi hasratmu. Lantas seperti ini balasan kamu. Kamu bren**ek!"


__ADS_2