
POV Tasia
Sejak Mas Ardit menyatakan ingin PDKT denganku, Ia sering sekali mengirimkan pesan padaku. Entah mengucapkan selamat pagi, siang atau sore. Entah ngingetin makan. Risih! Sebenarnya aku tidak menjawab iya. Aku cuma bilang 'Dijalanin aja dulu Mas'. Buaya betina aku nih.
Tok.. tok.. tok..
Pintu kamarku diketok. Saat kubuka, ternyata Sheila yang berdiri didepan kamarku.
"Hai Shei, ada apa?"
"Boleh aku masuk?" belum juga aku menjawab Sheila nyelonong aja. Duduk di tempat tidurku.
"Tumben Shei. Ada perlu apa?" ku ulangi pertanyaanku
"Gak ada apa apa"
mataku memicing, ada yang gak beres ni. Kalau gak ada apa apa tumben tumbenan kesini. Jangan jangan mau minjem duit. Hust, kok aku mikir kemana mana sih.
"Emm.. aku lihat kamu deket ya sama Mas Ardit" Sheila menatapku serius
"Enggak deket. Perasaan biasa aja aku sama Mas Ardit. Kenapa emangnya?"
"Kalo gak deket kok bisa kamu diajak keluar sama Mas Ardit. Kemarin kalian ngemall berdua kan?" selidik Sheila. Oh aku mulai tau ni, alasan kedatangannya kesini.
"Ooh itu.. Kemarin itu Mas Ardit mau nganter aku pulang. Tapi katanya dia laper pengen ramen. Jadi ya kita beli Ramen di Sismart. Gitu Shei"
"Beneran kamu gak ada apa apa? Something special gitu?"
Aku hanya menggeleng
"Jangan coba coba deketin mas Ardit ya Tas. Dia punyaku. Dari dulu aku suka sama dia"
"Iya Shei. Aku gak ada apa apa kok sama Mas Ardit"
"Ya udah. Aku cuma mau kamu jangan deket deket sama Mas Ardit" ancamnya. setelah itu dia pergi gitu aja. Tanpa salam padaku.
Untung aja tadi aku gak cerita kalau mas Ardit mau PDKT sama aku. Bisa dicekek aku sama Sheila.
__ADS_1
Sepertinya masalah masalah dihidupku akhir akhir ini membuat kegerahan. Pengen potong rambut aja mumpung weekend.
"Mbak Inah, disini salon dimana ya?" tanyaku pada mbak Inah yang lewat depan kamar kostku.
"Disini yang paling deket ya dirumah Mbak Uun sebelah swalayan si lebah"
"Oh disitu. Makasih ya mbak"
Lalu aku meninggalkan mbak Inah. gegas ku langkahkan kakiku ke salon mbak Uun.
15 menit kemudian aku sampai disalon.
"Mbak aku mau potong rambut dong" kataku pada mbak salon
"Mau yang kaya gimana?" tanyanya balik
"Potong pendek kaya gini aja mbak. Gerah soalnya" tunjukku pada gambar contoh
"Oke. pakai poni ya. Kayanya cocok"
aku mengangguk setuju
"Assalamualaikum" ada seseorang yang datang ke salon
"Wa'alaikumsalam.. Eh Bu Am. Ada apa nih"
"Mau potong rambut mbak Uun. Dirapihin ya"
Ku lirik ibu itu duduk di sebelahku
"Lhoh ini kan mbak yang nabrak ibu kemarin"
ku tengok wanita itu
"Iya Bu. kita ketemu lagi. Sekali lagi maaf ya Bu"
"Iya gak apa apa cantik"
__ADS_1
Pipiku bersemu merah saat dikatain cantik
"Sendirian mbak?"
"Iya Bu"
"Duh, cantik banget. Kapan kapan Ibu kenalin ke anak ibu ya. Anak ibu 2 cowok"
Aku tertawa dalam hati. Masih aja ada yang jodoh jodohin. Hanya ku jawab dengan cengiran.
sekitar setengah jam berlalu. Ibu itu pamit.
"Mbak ibu boleh minta nomor kamu?" disodorkan gawainya kepadaku
"Iya Bu" ku ketikkan nomorku digawainya.
"Tasia ya namanya. Saya Bu Amalia. Orang orang sini manggilnya Bu Am. Ibu duluan ya"
"Iya Bu"
"Mari mbak Uun"
...--- DW ---...
Esok paginya, aku coba menghubungi mama. Mengabarkan kalau Minggu ini aku mau pulang. Kangen sama mama, kangen sama Rachel. Katanya mau married sama pacarnya itu yang bikin gagal move on.
"Haloo mama"
"Halo juga sayang. Sehat kan?" ku dengar suara mama seperti orang khawatir
"Baik mah. Mama kenapa?"
"Disini merebak virus coronces sayang. Aduh tempat tempat banyak yang ditutup"
"Iya ya mah. Aku belum tau. Aku gak pernah lihat berita juga"
"Pokoknya jaga diri ya nak. Mama khawatir sama kamu. Anak mama satu satunya jauh dari Mama"
__ADS_1
"Iya mah. Tasia pasti jaga diri baik baik disini"
Lalu kuakhiri panggilanku. Huft ada ada aja. Cepet banget virusnya sampai Indonesia.