Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Empat


__ADS_3

Seminggu berlalu, aku sudah mulai terbiasa hidup dikota ini. Awalnya kesepian, ngurung diri dikamar. Belum kenal dengan tetangga kost. Sekarang sudah kenal beberapa. Dan yang mengejutkan ternyata Sheila teman satu ruangan denganku juga satu kost denganku. Cuma dia ada dilantai atas.


Untuk acara makan memakan, beberapa kali aku minta info sama Marlo. Hahaha.. Andalan dia. Sampai nama kontaknya aku ganti Super Marlo.


Suasana kamar kost ku juga tidak kosong seperti diawal, ada kulkas mini dan satu peralatan yang lagi viral di aplikasi tok tok. Itu lho alat yang ada dua sisi. Satu buat ngegoreng satu buat rebus. Jangan dikira duitku banyak, aku beli ini itu tetap pake uang Mama. Setelah setiap hari ngerengek kaya anak kecil. Nyebelin kan aku ini?


Hari ini aku berangkat ke kantor dengan semangat. Sebelum ke kantor tadi, aku mampir beli nasi uduk. Utamakan sarapan daripada gombalan mantan. Ups..


"Selamat pagi bapak Ardit" sapaku dengan senyum termanis


"Pagi juga Tasia"


Mas Ardit ini, aku nyebutnya mas aja ya. Ketua dibagian Audit. Orangnya lumayan cool, jarang senyum tapi sekalinya senyum bikin melting. hehehe...


"Yang lain mana mas? Kok masih sepi"


kenapa aku bilang sepi, soalnya ketika aku datang biasanya di ruangan sudah ada mbak Mira sama Mas Wahyu. Kalo Sheila datangnya hampir barengan sama aku.


"Wahyu sama Mira ke pantry" singkat padat jelas. Itulah gaya bicaranya. Tapi dia baik kok, sabar banget kalau ngejelasin ke anak buahnya misal ada yang kurang ngerti atau ada kekeliruan.


"oh.. Sarapan dulu mas. Tapi aku cuma bawa satu. Heheheh"


Tap tap tap


Suara heels mendekat


"Pagi semua" Sheila menyapa kami berdua


"Pagi Shei" jawab kami berbarengan

__ADS_1


"Mas Ardit, ini aku bawain sarapan mas. Nasi ampela ati kesukaanmu. Dimakan ya"


Sheila menyodorkan sebungkus nasi ampela ati dihadapan Mas Ardit.


"Makasih ya Shei"


"Iya mas. Sama sama" ku lihat senyum manjanya Sheila. Sayangnya Mas Ardit cuek cuek bebek.


"Duh cuma Ardit aja yang dikasih. Kita enggak" kata Mas Wahyu yang baru sampe diikuti mbak Mira dibelakangnya.


"Kamu mau Yu" tanya Mas Ardit


"Kalo dikasih ya mau Dit"


"Dih kebiasaan kamu Yu" cerocos mbak Mira lalu duduk di kursinya.


Mas Wahyu ini emang orangnya blak blakan.


"Lho kok dikasih mas Wahyu sih Mas" protes Sheila


"Maaf Shei, aku masih kenyang. Kasian Wahyu kayanya masih lapar" terang mas Ardit


"Makasih Pak Ketua" mas Wahyu tersenyum sumringah karena dapat nasi gratisan.


Aku hanya bisa menahan tertawa melihat mereka berempat.


Lumayan asyik juga divisiku ini. Sheila masih mecucu bibirnya sampai jam makan siang.


Saat jam istirahat, Mas Ardit mengajakku ke kantin. Tapi aku menolak, aku mau beli sop ayam kampung dekat kantor sama mbak Mira. Penasaran rasanya, tiap hari diiming-imingi terus sama mbak Mira.

__ADS_1


Emang harga makanan disini lumayan terjangkau daripada dikotaku sendiri. Biasanya aku harus membayar sebungkus nasi uduk dengan satu lembar 20ribuan itupun belum komplit pakai pindang telur. Tapi disini bisa berkurang 5 sampai 8ribu. Dan makan siang hari ini tak lupa aku juga mengajak Super Marlo.


"Eh aku ikut kalian bertiga ya" suara Mas Ardit membuat kami bertiga menoleh bersamaan.


"Ya udah ayok Dit" ajak mbak Mira.


Saat sampai di kedai, aku duduk bersampingan dengan mbak Mira. Sambil menunggu kami mengobrol.


"Emmm... Tas"


"Ya"


"Kamu sama dia pacaran ya" tangan mas Ardit menunjuk ke Marlo. "Kayanya kalian deket banget"


"Enggak" jawabku


"Eh enggak Pak Ardit" Marlopun juga menyangkal


Lalu datang pelayan membawa 4 buah sop ayam beserta 2 gelas es teh dan 2 gelas es jeruk.


"Jadi gini Mas, Marlo itu yang nolongin saya dari awal dateng kesini. Yang aku mintain tolong semua muanya. Makanya keliatan Deket banget"


Mas Ardit hanya manggut-manggut menanggapi penjelasan ku.


"Kalau kamu butuh bantuan aku juga siap membantu Tas"


"Iya mas. Nanti ya aku hubungi"


Ehm.. mbak Mira berdehem, lenganku disenggol. Mulutnya mengucapkan 'ciee' tapi tak bersuara

__ADS_1


aku berdecak sebal 'apasih mbak Mira ini'


BTW, ternyata kebiasaan "lu gue" ku berangsur menghilang


__ADS_2