
POV Ramdan
[Pagi Tuan Puteri cantik]
[Pagi juga Tukang Razia]
[Dih kok gitu? Udah siap belum?]
[Belum dikit lagi. Masih catok rambut]
[Aku udah didepan kost]
Tring..tring..
Telpon berdering. Tertera nama Cantikku
"Halo" ucapku saat mengangkat panggilannya
"Halo, kamu beneran udah di depan kost mas?" suara diseberang sana
"Iya udah"
"Bentar ya. Bentar aku.." gubrak. terdengar benda jatuh
"Iya aku sabar nungguin kamu. Gak usah terburu buru"
"Heem.. aku tutup dulu ya"
klik. Telepon terputus. Sepertinya Tasia jadi terburu buru saat kuberitahu aku ada di depan kost.
Tak berselang lama, aku lihat Tasia berjalan mengarah kepadaku. Senyumku menyambutnya. Lalu sebuah mobil sedan berhenti tepat disaat Tasia sampai digerbang.
"Tas, bareng sama aku ya" ajaknya. tangannya memegang lengan Tasia. Panas kurasakan melihat adegan itu, tapi aku bisa apa.
"Tasia udah janjian sama aku" kataku tegas
"Maaf mas, aku dah janjian sama Mas Ramdan" Tasia segera melepaskan tangan laki laki itu
"Naik mobilku aja Tas. Biar gak kepanasan. Jangan naik motor butut gini"
oh rupanya bikin gara gara dia. Mentang mentang orang kaya seenaknya aja menghina. Tanganku sudah mengepal. Rahang ku mengeras mendengar kata katanya.
"Sabar Mas, gak usah diladenin" bisik Tasia padaku. Ya sudah kuputuskan saja tak menanggapinya.
"Aku kesini mau jemput kamu ya Tas, tega ya kamu ngomong gitu" katanya penuh penekanan
"Kamu juga gak bilang kan mas kalau mau jemput mas. Please ya mas jangan maksa"
Tasia melangkah akan meninggalkan laki laki itu, tapi ia berbalik sebentar
"Jangan suka hina orang mas. Ayo berangkat"
__ADS_1
Tasia mengambil helm dari tanganku lalu naik ke motorku
"Maaf bro aku duluan" senyum tipis tersungging dibibirku. Yeah aku yang menang.
Motor ku starter, segera saja ku tinggalkan laki laki itu bersama temannya Tasia. Dari spion motor terlihat mereka berbincang sebentar. Bodo amat ah sama mereka.
"Udah sarapan belum?" tanyaku saat diperjalanan
"Belum. Mas Ramdan udah?" tanyanya balik
"Sama dong. Pengen makan apa?"
"Apa ya? Semur ayam ada gak ya?"
"Mana ada? Yang ada tuh sop ayam, soto ayam, atau pecel ayam"
"Oh.. Padahal aku suka itu. Ya udah beli soto ayam aja mas"
"Oke tuan Puteri" ku lajukan motorku menuju kedai soto ayam dekat Alon Alon kota. Tak terlalu jauh dari kantornya Tasia.
"Mas Soto Ayam dua ya"
"Kamu mau minum apa?"
"Teh anget aja mas"
"teh angetnya dua ya mas"
"Siap"
Krauk krauk. Suara renyah dari krupuk yang dimakan Tasia.
"Enak banget. Minta dong"
Tangannya menyodorkan bungkusan kerupuk padaku.
"Hihihi.. Suapin dong" kataku manja
"Ih dah tua minta suap. Hahaha" bibirnya mencebik mengejekku.
"Tua tapi gantengkan?" aku menaik turunkan alisku.
"Pede. Nih" tangannya menyuapkan kerupuk ke mulutku.
"Ehm.. permisi" pelayan datang mengantarkan pesanan kami
"Silahkan Mas, Mbak"
"Makasih mas" ucap Tasia disertai anggukan kecil.
"Ngapain bilang makasih. Kan dah kerjaan mereka gitu"
__ADS_1
"Yaaa harus dong. Orang kita dilayani dengan baik kok. Harus berlaku baik pada siapapun" terangnya yang membuatku tersenyum.
"Tapi dulu kamu marah marah sama aku"
"Yee itu kan beda masalah. Kamu juga sih pake acara ngrazia segala. Orang lagi laper juga. Pengen tak makan sekalian, tau gak?"
"Ya udah nih makan aku aja sekarang" aku menyodorkan kepalaku" dia tertawa terbahak bahak. Aku suka ketawanya. Tanpa ada yang ditutupi, natural
"Cowok tadi siapa?" tanyaku saat suapan ketiga masuk ke mulutku.
seketika suapan Tasia berhenti, sejenak saja, lalu ia mengaduk sotonya kembali
"Tadi itu Mas Ardit, kepala ruangan audit" jawabnya.
"Kamu deket sama dia? Kok jemput kamu?"
"Enggak cuma rekan kerja aja bagiku"
"Suka kamu dia tuh"
"Biarin, aku gak peduli"
"Kenapa?"
"Bawel banget deh. Ribet ah sama dia"
"Lhah kok ribet. Ribet kenapa sih?" makin penasaran. Kenapa sih gak langsung das des das des gitu jawabnya
"Dia PDKT sama aku, tapi akunya enggak mau trus diancam juga sama perempuan ganjen tadi. Kalau aku deket sama Mas Ardit bakal diginiin lah digituin lah. begitu, puas anda?" Tasia membanting sendoknya ke mangkok soto yang sudah kosong.
"Emosi dia. Hahahah" aku justru tertawa mendengar penuturannya. Wajah keselnya malah terlihat imut. Entahlah tetap mempesona bagiku
"Jangan ketawa enggak lucu. Dah selesai belum?" ternyata masih cemberut
"Jangan marah marah dong. Tambah cantik tau, bikin jantung cenat cenut"
Ups, kok aku menggombal sih.
"Apaan sih" ia meninju lenganku. "Ayuk ah, hampir jam 8 nih. Entar telat" Tasia melihat jam tangan yang melingkar lengan bawah.
"Yuk. Entar aku bayar dulu. Tungguin didepan ya"
Hanya anggukan kecil dan kata "Ok" tanpa suara yang kudapat. Setelah membayar, aku pergi ke motorku. Tasia sudah siap dengan helmnya. Gegas ku antar menuju kantornya.
"Nanti pulang jam berapa?" tanyaku saat sampai didepan kantor. Tanganku melepas kancing helmnya.
"Jam empat. Kenapa?"
"Mau jemput Tuan Puteri Tasia" ucapku sedikit mendekat ke telinganya
"Oh.. Oke deh Pak Ojek"
__ADS_1
"Hih, asal aja manggil orang. Dah masuk sana. Daaahhh" tanganku tak melambai, tapi tanganku menuju ke rambutnya. Sedikit mengacaknya, lalu mengegas motorku.
"Ih nyebelin!" teriaknya saat motorku menjauh