
"Mas..."
satu tepukan lembut dibahuku terasa dan membangunkanku. Aku mengerjap dan menggerakkan badanku yang terasa kaku.
"Emm.."
"Mas kita sudah sampai" katanya padaku sambil melepas seat belt.
Nyawaku belum terkumpul penuh. Mataku masih berat meskipun sudah ku kerjapkan.
"Masih ngantuk ya?" tanya Tasia lagi.
"Bentar aku cuci muka dulu" aku mengambil air mineral didalam mobil. Ku cuci muka disamping mobil. Pandanganku sudah jelas, kesadaran ku sudah kembali.
"Kita sampai mana?"
Baru ku sadari aku ada didepan gerbang rumah satu lantai.
"Ini rumahku" jawab Tasia santai
'Apa? rumah Tasia?'
Aku terpana. Rumah ini cukup mewah bila dikotaku. Ku lihat sekitarnya gaya rumahnya hampir sama.
Ternyata sekarang 2.15 dini hari.
Tasia ke pintu belakang mobil, akan mengambil koper.
"Biar aku aja yang ambil" aku menyerobot koper didalam mobil.
Tasia setuju, dia lalu membuka gerbang. Terpampang sudah rumahnya. Satu lantai tapi terlihat mewah dengan cat putih juga abu abu. Satu mobil Camry terparkir di garasi.
"Aku antar sampai sini ya?" pintaku.
"Kenapa? Mas takut sama mama papaku?" tanyanya
"err.. udah jam segini yang"
Ceklek.. Pintu terbuka. Dihadapanku ada seorang ibu ibu berdaster dengan muka bantalnya.
"Nak.. Tasia"
"Mamaa" ia girang sekali bertemu mamanya. Aku masih mematung saja.
"Mah ini mas Ramdan yang aku ceritain" Tasia memperkenalkan ku pada mamanya.
"Ramdan Tante" aku mengulurkan tangan dan menciumnya.
"Maaf sampai sini sudah jam segini"
"Iya gak apa apa. Mau gimana lagi? Ayo masuk"
'Ha? disuruh masuk?'
"Ayo mas. Kenapa bengong?"
"Suruh istirahat Tas. Dikamar tamu" mama Tasia berlalu begitu saja. Kembali ke kamarnya mungkin. Jantungku berdebar kencang. Kilatan masa lalu kembali tergambar.
"Mas, kenapa masih berdiri disitu" dia memegang pundakku.
Ah aku takut.
"Bentar aku ambil tasku dulu" aku berbalik keluar rumah.
__ADS_1
"Mas"
"Ya?"
"Mobilnya masukin ke dalam aja"
"Oh oke"
Aku kembali masuk ke mobil, memarkirkan dihalaman rumah Tasia. Selesai melaksanakan tugas, ragu ragu ingin turun.
Aku harus bagaimana? Lagi lagi aku termenung.
"Mas, kok lama? ayo masuk" dia menarik tanganku. Lalu diarahkan ke kamar tamu yang lebih wah dari kamarku.
"Istirahat disini mas. Aku ke kamar dulu. Daa.."
Ku anggukan kepalaku. Tasia menutup pintu pelan.
Diatas kasur aku hanya berbaring kanan berbaring kiri. Tak bisa tidur.
Akhirnya ku putuskan mandi saja. Sholat sepertiga malam. Semoga bisa menenangkan hatiku.
Entahlah.. aku takut menghadapi keluarga Tasia. Akankah berulang lagi?
Hingga waktu subuh menjelang aku tidak bisa tidur. Memejamkan mata sesaat pun tak bisa.
Aku keluar kamar untuk pergi sholat subuh di masjid. Tahu letaknya? Tidak. Hanya mengikuti sumber suara.
"Ehh..hemm"
Suara orang berdehem. Aku menengok ke belakang.
"Oom" sapaku. menghampirinya dan mencium tangan.
Lalu apa jawabnya.
"Oh iya" begitu saja pemirsa. "Mau ke masjid?"
tanyanya.
"Iya oom" aku mengangguk kecil. Papanya Tasia kayanya dia. Matanya mirip sekali. Beliau keluar rumah, dan aku mengekor saja.
Perjalanan berangkat pulang ke masjid kebanyakan hanya diisi keheningan. Sesekali bertanya kependudukanku, pekerjaanku. Lalu ku balas pertanyaan yang sama. Kaku karena masih canggung.
Kakiku sudah menginjak halaman rumah milik Tasia. Aku dan papanya -benar papanya itu saat ku tanya tadi, masuk ke rumah. Aku permisi ke kamarku terlebih dahulu. Berganti pakaian kaos oblong polos warna hijau tua dan celana pendek.
Dari dapur aku mendengar suara wajan dan teman-temannya beradu. Ku putuskan saja ke dapur. Mau apalagi? Sepertinya pekerjaan lainnya sudah ada yang menghandle. Satu tukang bersih-bersih kebun, dan satu lagi ibu ibu tukang bersih-bersih rumah.
Aku menghampiri mamanya Tasia yang ada didapur.
"Permisi Tante, sini aku bantuin" aku mencoba meminta pekerjaan dapur yang bisa aku lakukan.
"Eh kamu. Kok kedapur? Biasanya cewek lho kaya gini" mama Tasia bertanya padaku. Dia wara wiri didepanku.
Aneh sebenarnya, kalau laki laki pada umumnya akan pergi keluar rumah sambil menunggu masakan matang tetapi aku malah ikutan berjibaku didalamnya.
"Udah biasa. Bantuin ibu dirumah"
Mama Tasia menyerahkan satu kotak bawang bawangan. Minta dikupasin terus dicuci terus digoreng.
Siap. Laksanakan.
"Ini Tante" ku sodorkan irisan bawang itu.
__ADS_1
"Ha? Rapi banget. Tante aja kalah" beliau tergelak sendiri, menertawakan kekalahannya.
Aku juga ikut tertawa. Suasana menghangat. Selesai masak, mama Tasia menyiapkan makanan. Sedangkan aku mencuci peralatan dapur yang kotor.
"Nak Ramdan sini. Sarapan dulu" ajak mama Tasia.
Gegas ku cuci tangan lalu bergabung. Tapi Tasia belum hadir.
Aku sudah duduk dihadapan mama Tasia. Papanya ada disampingnya.
"Tasia mana mah?" tanya papanya.
Aku tersenyum canggung. Belum berani berbuat atau bertanya apapun.
"Masih tidur sih pak kayaknya" Mama Tasia berdiri. "bentar mama panggil"
Sementara mama Tasia ke kamar anaknya, maka tinggal aku berdua dengan papanya Tasia. Pingin ngobrol tapi apa? Dia beliau sendiri sibuk mengotak atik gawai.
"Pagi pah, mas Ramdan" Tasia menyapa kami dengan muka basah dan masih tersisa rona bengkak bangun tidur.
"Pagi juga sayang" jawaban yang datar.
"Ayo sarapan dulu. Mari nak Ramdan" mama Tasia menyuruhku mengambil makanan. Aku menunggu dulu, malu dong masa tamu ambil duluan.
"Mau apa mas?" tanya Tasia sembari mengambil nasi. "Mau ini, atau ini?" tunjuk Tasia.
"Ini yang masak Mama sama Nak Ramdan lhoh" aku tersenyum, malu malu
"Enak banget. Aku kalah nih" kata Tasia menyuap satu potong telur balado.
"Terima kasih Tas"
"Kalian berangkat jam berapa kemarin?" tanya Papa Tasia
"Jam 5 Oom" aku saja yang menjawab
"Mobil kamu itu?"
"Iya oom. Err.. mobil papa"
"Oh milik sendiri berarti kalau gitu" Papa Tasia manggut-manggut. "Capek dong nyetir jauh"
Dieeennnggg...
Yang nyetir anak kesayangan bapak, aku tidur.
"Enggak juga oom. Semalam Tasia minta gantian nyetir" jawabku takut takut. Mendadak keringat dingin
"Ha? Kamu?"
Gawat ini. Kok tatapan seakan mau menerkam.
"Kemarin Mas Ramdan, Tasia minta istirahat gitu pah. Pulang kerja langsung nyusul Tasia ke kantor. Jadi ya capek"
Terang Tasia yang membuatku sedikit lega. Setidaknya aku ada pembelanya.
"Papa udah selesai mah"
Terlihat papa Tasia merapikan bekas makanannya. Mamanya ikut berdiri mengikuti dari belakang.
"Dihabisin nak Ramdan" pinta mamanya
"Tas, kayaknya aku harus pulang sekarang"
__ADS_1
Hah.. Aku pengen nangis tapi malu. Sumpah, aku takut hal itu terulang lagi. Sebelum diusir aku mengundurkan diri saja.