Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Dua Puluh Empat


__ADS_3

Sesuai saran Marlo, aku akan menghampiri Mas Ramdan di tempat kerjanya saja. Karena hubungan kami masih diketahui beberapa orang. Mas Ramdan meminta untuk tidak memplubikasikan terlebih dahulu. Perlu waktu yang tepat untuk memperkenalkan aku ke keluarganya. Aku setujui saja. Kalau untuk mamaku memang dari awal aku tak pernah menutupi hal apapun dari keluarga. Bagaimana pun kalau ada apa apa, mama juga yang akan kerepotan.


Sudah seminggu lebih mas ramdan menjadi pribadi yang dingin. Rasanya sudah tidak betah, jadi malam ini aku akan menghampirinya ke tempat kerja.


Pulang bekerja, ku sempatkan menghubungi Mas Ramdan.


[Kerja gak Yang?]


[Ya]


Begitulah jawabnya singkat. Tak perlu aku bertanya lagi. Segera ku bersihkan badanku dari keringat. Memesan makanan via ojek online. Sengaja memesan makanan agak banyak, agar kuat menghadapi kenyataan. Hi..hi..hi


Selepas magrib, aku memesan ojek online untuk mengantar ku ke tempat kerja mas Ramdan. Gak terlalu jauh sih, cuma kalau jalan kaki bisa bisa sampai sana aku kucel.


Tak beberapa lama, ojek sudah sampai di pintu depan kantor mas Ramdan.


Bertemu petugas sebentar dan memberitahu keperluanku datang. Baru aku sadari, kalau aku nyamperin dia kaya gini, dia malu gak ya?


Terlanjur maju begini, enggak mungkin mundur. Yang ada aku rugi waktu dan penasaran terus menerus. Harus segera diselesaikan.


Aku diantarkan ke ruangan Mas Ramdan oleh seorang petugas. Disana ada ibu ibu yang sependek ingatanku, beliau yang menolongku waktu pingsan disini. Ah pengalaman buruk itu..


Sambil menunggu, aku sempat berbincang sebentar dengan seorang petugas bernama Widyasari. Minta dipanggil mbak Wid saja katanya.


"Dan, ada yang nyari tuh"


"Ada yang kangen ya"


"Aku juga mau kaya gitu. Dicari cewek"


Aku dan Mbak Wid kompak tertawa mendengar candaan mereka. Lalu Mas Ramdan masuk ke ruangan. Gegas mbak Wid undur diri, mungkin merasa kurang nyaman ada diantara dua sejoli ini.


Setelah ku rasa aman aku memulai pembicaraan.


"Mas.."


"Kamu ngapain kesini Tas?"


Dahiku mengernyit. Benarkan dia sudah berubah. Dia memanggil namaku.

__ADS_1


"Aku ganggu kamu ya Mas?"


Dia melipat bibirnya ke dalam. Semacam bingung, gundah auranya.


"Sebenarnya aku kesini mau ngomongin hubungan kita. Tapi sepertinya ka-mu enggak mau" aku lantas berdiri. "Lebih baik aku pulang saja. Permisi"


Saat aku berbalik, Mas Ramdan mencekal tanganku.


"Jangan disini"


Aku mendongak, menatap wajahnya lekat lekat.


"Sebentar aku ijin dulu. Tunggu disini"


Mas Ramdan keluar ruangan. Entahlah dia mau ngapain. Bukannya jam kerja hampir selesai?


"Ayok" tiba tiba saja dia ada di depanku.


"Kenapa?" tanyanya.


"enggak apa apa"


Lalu aku dan Mas Ramdan keluar ruangan bersama. Pamit sebentar ke mbak Wid.


"Ngobrol disini saja"


Aku diajak di warung jagung bakar dekat dengan kantor mas Ramdan. Tempatnya memang jauh dibanding dengan warung sekitarnya. Tapi sepertinya cukup nyaman untuk kami membicarakan kelanjutan hubungan kita.


Penjual jagung bakar, seorang ibu yang sudah berusia senja menanyakan padaku ingin pesan jagung rasa apa?


Aku tidak tau apa apa, mencolek mas Ramdan untuk mencari pertolongan. he he


"Rasa asin satu bu, pedas manis satu"


Setelah memesan, mas Ramdan mengambilkan 2 botol teh. Ia menyerahkan botol teh yang sudah dibukakan kepadaku.


"Terimakasih"


"Kamu kesini naik apa?"

__ADS_1


'Naik pesawat' batinku. Ah orang ini.


"Ojek mas. Kan aku gak ada motor disini"


Dia manggut manggut setelah menenggak teh botol itu.


"Er..."


Ibu ibu penjual itu menghidangkan jagung bakar kepada kami.


"Makanan enak pasti diakhiri dengan pembicaraan yang baik" kata ibu itu dengan tersenyum kepada kami.


Ah.. Ibu itu tahu juga sepertinya kalau kita sedang galau.


"Ibu bisa aja" aku tersenyum kembali padanya.


"Jadi kenapa kita bisa begini?" aku menoleh ke mas Ramdan. Dia ikut menoleh kepadaku dan menatapku amat dalam.


"Aku hanya pekerja dengan gaji rendah" dia menundukkan kepalanya


"Lalu?" masih ku pasang wajah bodohku.


"Kamu gak malu?"


Akupun tertawa mendengarnya. Dia menautkan alisnya. Dianggapnya aku sudah gila mungkin.


"Kalau aku malu, gak mungkin aku sampai ngejar kamu kaya gini mas?"


"Orang tuamu?" lanjutnya tanpa Semangat.


"They are fine"


"Kamu yakin?"


"Yakin. Kamu kenapa sih mas sebenernya? ha?" aku menepuk lengannya. "Kamu jadi dingin sama aku sejak aku pulang"


Ku hirup napas dalam dalam.


"Aku ada salah? atau kamu udah nemu yang lain"

__ADS_1


Terlihat dia menunduk lagi. Lalu menatap langit yang dipenuhi sinar bintang.


"Aku ragu untuk melanjutkan hubungan ini"


__ADS_2