Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

Perjalanan jauh tak terasa, suasana hatiku begitu baik. Tak ada pergantian pengemudi seperti pertama kali kesini. Pukul 12 malam, kami sampai di depan rumah Tasia.


Tasia meminta menginap lagi di rumahnya. Soalnya acara akad nikahnya pagi.


"Sayang bangun. Udah sampai nih" aku mengguncang pundaknya pelan. Mengelus pipi mulusnya.


"Sayang.." ulangku


"Udah sampai ya?" ujar Tasia yang mengucek mata. Ia menguap lebar.


Klakson mobil dipencet Tasia sekali lagi.


"Eh gak sopan tau, ini udah malem lho" sergahku.


Tasia malah tertawa.


"Enakan gitu"


Tak lama gerbang dibuka. Tak tanggung-tanggung papanya yang membuka. Makin tak enak hati nih.


"Buset papa yang buka" Tasia juga terkejut melihat papanya membuka gerbang.


Aku melajukan mobil menuju parkiran. Ku anggukan kepala pertanda hormat. Waduh gak ada senyum lagi.


"Kalau papa tanya, jawabnya harus tegas ya." pesan Tasia sebelum turun mobil. Aku mengikutinya setelah memastikan semua fasilitas mobil off. Aku mencoba mengatur napas, kali kedua bertemu papanya Tasia. Semoga semua baik baik saja.


"Papa..." panggil Tasia dengan sedikit lari kecil. Dipeluknya tubuh papanya erat erat. Aku iri Tas.


"Malam om" aku menyapa duluan. Ku sodorkan tangan ini, lalu menciumnya takzim.


"Capek? Udah makan belum?" tanya papa Tasia.


Alhamdulillah, tanyanya yang gampang gampang dijawab nih.


"Enggak capek om. Ada dopingnya" ku lempar guyonan garing. Meskipun tak begitu jelas, tapi aku melihat sedikit tarikan di bibirnya.


"Udah makan pa, tadi di rest area"


"Ya udah masuk gih. Udah malam. Buruan istirahat, acaranya pagi"


Aku dan Tasia segera masuk, koper milik Tasia ada di tangan kirinya dan tas ransel sudah nangkring di pundakku.


Tak ada percakapan lagi antara kami bertiga. Kami masuk ke kamar masing-masing. Kamarku adalah kamar tamu yang dulu ku tempati ketika menginap disini.


Mataku sulit terpejam, entah kenapa jantungku berdegup amat kencang. Duh semoga gak ada apa apa.

__ADS_1


[Ayah.. Apa semua baik baik disana?]


Aku mengirim pesan pada ayah. Lama tak kunjung berbalas. Bodohnya aku, inikan sudah tengah malam. Ku letakkan gawaiku di nakas.


Miring kanan miring kiri, terlentang tengkurap meringkuk tetap terjaga netra ini. Iseng aku mencari rekaman dzikir pengantar tidur.


Tiba tiba saja aku mendengar sayup sayup iqomat. Lhoh! Jam berapa ini? Hampir pukul 4 pagi.


Buru buru aku ke kamar mandi. Membersihkan tubuhku mencari koko dan sarungku. Malu! keluar kamar ternyata jamaah subuh sudah bubar.


"Om.." sapaku saat papa Tasia masuk ke rumah.


"Lhoh gak ikut jamaah?"


'Jelas om, om kan gak lihat aku di masjid' batinku.


"Enggak om, tadi telat bangun. Sholat disini saja"


Papanya Tasia hanya manggut-manggut saja. Lalu pergi ke kamar.


Tasia dan mamanya juga gak kelihatan. Terus ngapain ini?


Ya sudah aku putuskan jalan jalan pagi saja tanpa mengganti baju.


Aku melangkahkan kakiku ke luar pekarangan rumah Tasia. Mau ke kanan atau ke kiri? Ke kiri saja, nanti aku akan ke kiri terus. Biar gampang kembali kesini.


"Pak permisi, mau tanya jalan ke Orchid garden kemana ya?" tanyaku pada seseorang di pinggir jalan.


Lama ku tunggu orang ini tak ada jawaban. Lalu ia tertawa sendiri. Haish orang tak waras.


Aku coba melangkah agak jauh. Ada pangkalan ojek. Syukur deh.


"Pak, ke Orchid garden ya?"


"Dua puluh ya?"


"Iya pak. Buruan"


Dengan segera pak ojek melaju ke komplek. Huft, sok sokan aku ini jalan jalan ke daerah yang belum aku kenal.


"Yang mana mas?" tanya pak ojek.


"Ikutin perintah saya aja ya pak. Aku gak hafal nomornya tapi tau jalannya"


"Kok bisa gak tau mas nomor rumahnya"

__ADS_1


"Saya bukan orang sini pak. Niatnya tadi jalan jalan malah kesasar"


Aku terdiam sesaat memperhatikan jalan yang ku lalui.


"Habis ini belok ke kanan ya pak. Rumah pagar putih"


"Iya mas"


Tak berapa lama, akhirnya sampai juga di depan rumah Tasia.


"Tunggu bentar ya pak. Saya ambil dompet dulu"


Tergopoh-gopoh aku masuk ke dalam rumah. Ku lihat semua orang sudah siap, sementara yang lain melihatku heran. Karena masih berpakaian koko dan sarung.


"Mas kamu darimana? Dicariin lhoh" serobot Tasia saat tahu aku datang.


"Bentar bentar" aku segera ke kamar mengambil dompet. Kemudian keluar menemui pak ojek.


"Terimakasih ya pak" ku serahkan selembar uang berwarna biru.


"Belum ada kembalian mas"


"Buat bapak saja"


"Makasih ya mas. Semoga rejekinya tambah lancar"


Aku mengaminkan doa pak ojek. Gegas kembali ke dalam rumah.


"Ayo buruan Ram. Kita bisa telat nanti ke acara Rachel"


Sekilas wajah papa Tasia sedikit masam. Tanpa ba-bi-bu aku melangkahkan kaki ke kamar.


"Gak usah mandi" teriak Tasia


'Mana mungkin enggak mandi. Mandi sebentar saja' batinku.


Mandi bebek alternatifku. Mencuci muka dan mengguyur area pinggul ke bawah. Begitu saja sudah menyegarkan.


Selesai berpakaian aku keluar kamar.


"Udah siap?"


"Udah om, Tante"


Aku mengikuti mereka dari belakang. Saat sampai di parkiran aku menuju ke kursi kemudi.

__ADS_1


"Jangan deh. Biar om yang nyetir nanti nyasar lagi"


Mendengar itu aku hanya bisa nyengir dan menggaruk tengkukku yang tidak gatal.


__ADS_2