
"Sehat sayang?"
"Sehat mah. Mama gimana? Papa juga?"
"Kita semua sehat Nak. Udah kerasan disana?"
"Iyah mah. Bentar mah, aku conference sama Rachel ya"
"Iya sayang"
ku sentuh ikon orang dan tanda +. Langsung ku ketik "Sigalvon" alias si gagal move on.
menunggu beberapa detik wajah cantik teman sefrekuensi muncul dilayar gawaiku.
"Haii.." suara Rachel yang cempreng membuat mama teekikik
"Ya ampun ada Tante Fifi. Maaf ya Tante kelepasan"
"Iya gak papa Chel. Santai aja"
"Duh kangen ni sama lu say. Kapan balik kesini?"
"Masih lama. 2 bulan lagi bisa jadi"
"Lama ya Nak. Mama juga kangen sama kamu Chel. Jadi gak pernah main ke rumah"
"kapan kapan aku mampir deh ke rumah Tante"
"Janji ya. Emm Tas, apa perlu mama kesini nengokin kamu?"
"Enggak usah mah. Entar mama kecapean lagi"
"Dih ditengokin nyokap gak mau. Tapi kalo Tante mau nengok aku ikut ya"
"Ha serius lu?"
"Iya serius kamu mau ikut?"
"Iya mau Tante. pengin tau kota X"
Setelah ngobrol ngalor ngidul, dan menghabiskan waktu hampir satu jam kami akhirnya mengakhiri percakapan. Kulihat jam didinding masih 20.20. Lapar menyerangku membuatku mau gak mau harus keluar kamar mencari makan.
Sebenarnya ada mie instan, tapi aku gak mau keseringan. Pengin makan dimsum atau siomay gitu. Coba aku tanya Super Marlo dulu.
[Mar...] send
5 menit berlalu tak ada balasan. Ku ketik nama Super Marlo digawaiku. Aku telpon tapi gak diangkat. ku kirim satu pesan lagi.
[Mar, tau gak penjual dimsum atau siomay jam segini?] send
setelah 10 menit. Ada balasan pesan dari Marlo.
[Jam segini yang jualan dimsum dah tutup kali Tas. Kalau penjual siomay ada deket SD Tunas Bangsa. Pakai gerobak gitu]
[Ok. Makasih ya Mar]
[Tau kan tempatnya? Yap sama sama]
[Taulah]
Baiklah kita cuss ke SD Tunas Bangsa. Ganti baju apa engga ya. Engga usah deh pakai kolor sama baju kedodoran gini aja. Lagian gak jauh kok. Gawaiku tinggal dikamar, lowbat karena video call-an tadi.
Hanya dompet dan kunci kamar yang aku bawa. Rambut sudah kucepol. Ah seger..
Aku berjalan melewati gang. Keluar gang aku belok ke kiri lurus melewati warung kelontong Bu Indriana lalu warung kopi Pak Aman. Jembatan lalu swalayan si lebah dan sampai SD Tunas Bangsa. Oh ternyata banyak juga yang jualan. Kubaca satu satu nama gerobak Abang Abang itu. Nah ketemu sama bapak bapak penjual siomay.
"Bang satu ya, dibungkus"
"laksanakan mbak"
Dengan cekatan bapak itu mengambil segala printilan siomay. Menuang saos kacang dan sambel. Duh.. jadi ngiler ni.
__ADS_1
Setelah selesai bertransaksi aku coba berjalan agak jauh. Ada gerobak crepes. Enak nih, tapi penjualnya gak ada. Coba ku tanya sama bapak penjual sebelahnya.
"Permisi bang. Abang crepes nya kemana ya Bang?" tanyaku sopan
"Bentar mbak, orangnya masih beli rokok. Tunggu aja"
Karena tak ada tempat duduk, aku berdiri saja didekat gerobak..
Tiba tiba dari arah belakang, para pedagang lari terbirit-birit bersama gerobak. Aku seketika bingung ada apa ini. Suara sirine terdengar jelas, ooh ada razia pedagang oleh Satpol PP. Ya ampun begonya aku. Saat akan berlari, lenganku dipegang kencang oleh seorang bapak satpol PP. Mampus!
"Hayo mau kabur kemana!" teriak bapak satpol PP
"Lepasin pak, saya bukan pedagang. Aduuhh!" sontak aku juga berteriak, berusaha melepas cengkraman bapak itu. Sakit tau. Kenceng banget nyengkramnya.
"Lha terus ini dagangannya siapa?" menunjuk gerobak crepes. Hah! Kampret! Apes banget!
"Dah ikut kami ke kantor saja" bapak itu memaksaku untuk ikut masuk ke dalam mobil bak. Aku didudukan bersama bapak pedagang lain yang tertangkap. Aku ketakutan, menangis.
"Lhoh mbak ini kan yang tadi beli siomay. Kok keciduk?"
Hah! Abang siomay juga keciduk. Abang bisa jadi saksi ni kalau aku bukan pedagang.
"Iya bang. Apes banget hari ini"
Sampai dikantor kami diturunkan dari mobil bak. Kami berbaris dua saf. Sengaja aku milih didepan, biar terlihat pas aku mau protes. Selanjutnya tampak beberapa gerobak yang ditahan.
"Kalian ini, udah dikasih kelonggaran masih saja ngeyel. Peraturannya hanya boleh dagang sampai jam 9" tutur seorang komandan satpol PP dengan tegas dan sedikit kesal.
Aku menginterupsi, ku angkat tangan seperti anak sekolah mau menjawab pertanyaan.
"Maaf pak, saya bukan.."
"Diam! Saya belum selesai ngomong" bentaknya lagi. Kaget, air mataku tambah deras saja.
"Kenapa sih pada ngeyel" lanjutnya
Tubuhku gemetar hebat, aku takut banget. Seumur umur ketangkep razia juga sekali ini. Duh emang tampangku kaya pedagang kaki lima ya. Argh! Kepalaku pusing, limbung, pandangan ku gelap. Bruukkk
POV Author
"Duh pake pingsan segala. Ngrepotin!"
"Mbak mbak bangun mbak"
"Minyak kayu putih, minyak"
"Ini pembeli pak, bukan pedagang"
Suara yang saling selenting tiba tiba berhenti
"Gimana gimana?" tanya seseorang
"Mbak ini bukan pedagang, dia pembeli. Tadi beli siomay. Tuh yang dagang crepes" lalu bapak itu menunjuk seseorang yang baru datang dengan seorang petugas.
"Duh kasian banget mbak ini"
"Kita bawa ke dalam dulu"
Tasia dibopong sama petugas. Beruntung masih ada wanita didalam ruangan itu. Tubuhnya agak dingin, minyak kayu putih didekatkan hidungnya.
"Ada tanda pengenal gak"
Petugas wanita itu coba menggeledah pakaian Tasia. Dia menemukan dompet saja.
"Cuma dompet aja" satu persatu kartu dilihat dan ketemu juga dengan KTP nya.
"Bukan orang sini ni cewek"
"Ya udah tunggu siuman dulu"
Beberapa saat Tasia sudah mulai siuman. Petugas wanita itu mendekat.
__ADS_1
"Mbak, gimana? Masih pusing?"
"Ehh..." Tasia menggeleng lemah, kepalanya masih terasa pusing. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Agak bingung juga kok dia ada disini. "Saya dimana?"
"Dikantor Satpol PP mbak"
"Hah!" tiba tiba dia berteriak, ingat akan kejadian yang menimpanya beberapa lalu.
"Saya mau pulang"
"Tunggu sebentar biar agak mendingan dulu. Ini teh hangatnya diminum dulu, baru kita antar pulang"
Tasia meraih gelas teh yang diberikan oleh petugas wanita itu.
"Mbak tinggal dimana? Saya lihat KTP bukan orang sini"
Hanya petugas wanita itu yang aktif bertanya, padahal didalam ruangan itu ada 3 orang. Tasia, 1 petugas wanita dan 1 petugas pria.
"Saya emang pendatang Bu. ngekost di gang Sayang"
"Udah baikan kan? Saya antar pulang dia aja mbak Wit. Rumah mbak Wit kan beda arah" kata petugas pria itu.
"Heem Ram. Diantar sama mas ini ya mbak. Gak apa apa kan? Takutnya mbak nanti kenapa napa dijalan"
"Tapi ini jam berapa ya? Kalau lebih jam 10 gerbang kost sudah tutup. Saya juga gak bawa HP"
"Ini sudah jam setengah 11 mbak. Gimana? Pulang sekarang?"
"Iya Bu" Tasia mengangguk
"Tinggal dimana sih? Kostan ujung gang apa di kost Bu Murni?
"Di Bu Murni pak" jawab Tasia
"Ya udah saya antar aja. Mbak Wit aku duluan ya"
"Iya hati hati Ram. Hati hati ya mbak"
Lalu Tasia keluar ruangan. Sampai diparkiran petugas pria itu meminjamkan jaketnya pada Tasia.
"Pakai ini. Biar gak dingin" menyodorkan jaket semi kulit warna coklat.
"Makasih pak" lalu Tasia dan petugas pria itu naik ke jok motor. 15 menit berkendara mereka berdua sampai. Jarak kantor dengan kost memang tidak begitu jauh.
"Dah sampai mbak" kata petugas
"Oh iya. Makasih pak"
Tasia turun dari motor kemudian berjalan menuju gerbang. Oh sudah terpasang gembok.
"Kenapa? Digembok?"
Tasia mengangguk. Petugas pria itu kemudian menuntun motor ke sebelah rumah kost. Memarkirkan dihalaman rumah tersebut. Itu adalah rumah Bu Murni.
Tok.. tok.. tok..
"Assalamualaikum Bu" katanya
"Wa'alaikumsalam" teriak dari dalam rumah. "Lhoh mas Ram, mbak Tasia. Ada apa ini? Malem malem ke rumah?" tanyanya kaget
"Jadi begini Bu..." petugas pria itu menjelaskan detail permasalahan yang menimpa Tasia
"Ya Allah. Ya udah saya bukain gerbangnya" Bu Murni merasa kasian juga tergelitik. Dia menggelengkan kepalanya diiringi senyum
"Masuk mbak. Cepet istirahat ya. Ya Allah kasian banget" mengelus rambut Tasia dengan kasih sayang.
"Makasih bu. Makasih pak" Tasia pamit segera masuk ke kamarnya.
"Eh.." petugas pria itu ingin memanggil Tasia kembali. Tapi tidak jadi. Jaketnya masih terpakai dibadan Tasia.
"Ada apa mas Ram?" tanya Bu Murni
__ADS_1
"Gak ada Bu. Ya udah saya juga pamit Bu. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"