Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Delapan Belas


__ADS_3

POV Tasia


Didalam kamar kost, aku masih termenung. Mengingat perdebatan antara Mas Ardit dengan Sheila. Gila emang, kalau sudah kepingin banget memiliki sampai mau kaya gitu. Jaman sudah edan. Rela banget tubuhnya dinikmati, padahal belum tentu jadi.


Huft


[Sayang] satu pop up pesan aplikasi hijauku muncul


[iya sayang. ada apa?] sent. ku kirim balasan untuk kekasihku, sayang Ramdan.


[Kangen. aku telpon ya?]


[Yuhuu] terkirim dengan emoticon cium jauh.


Treennggg..


"Assalamualaikum, pacarku"


"Wa'alaikumsalam. Tumben jam segini belum tidur"


"Iya. Gak bisa tidur. Kamu baru pulang?"


"Iya. Lagi ganti baju nih. Mau lihat?" dia cekikikan


"Apaan sih. Dasar messum!"


"Lagi ada masalah?"


"Halah biasa masalah kantor"


"Ada apa? cerita dong"


"Enggak ada apa apa. Cuma salah paham. Emm Mas.."


"Apa sayang"


"Kayanya aku Minggu depan bakal pulkam deh. Mas mau ikut?"


"Mendadak banget. Bentar aku lihat dulu jadwal kerja"


Aku masih menunggu dia mengecek jadwal.


"Oke deh. Nanti aku minta oper jadwal aja. Eh bentar kamu berangkat hari apa?" lanjutnya


"Jumat sore. Gimana?"


"Jumat sore? naik apa? ngebis?"


"Naik pesawat lah"

__ADS_1


krik.. krik.. " mas kok diem?"


"Beneran naik pesawat?"


"Iya. Aku gak kuat ngebis. Emm.. mas keberatan ya?"


"Aku antar pakai mobil papaku aja yank"


"Beneran?"


"Iya. Sekalianlah kita jalan jalan. Paling berapa jam sih. Gak sampe seharian kan? Minggu pulang kan?"


"Iya lah. Senin menanti. Monday is money day"


Gelak tawa tercipta diantara kami. Hingga akhirnya kita deal , kalau acara pulang kampungku diantar Mas Ramdan.


Seringan itu obrolan kita. Entahlah, tapi aku suka. Dulu aku lebih menyukai cowok seumuran. Karena aku menganggap sesuai saja. Seperti suka jalan jalan, nonton trus beli jajan kekinian. Pokoknya foya foya lah. Tapi seiring waktu, saat aku menjadi wanita karier, ternyata sosok yang aku butuhkan bukan yang hanya suka foya foya. Yang kubutuhkan sosok pelindung, pemimpin, penghibur.


Dan ku temukan semua ini pada Mas Ramdan.


Jumat pagi aku sudah siap dengan pakaian kerja dan tas ransel. Ketika melewati lorong menuju depan semua menatapku heran


"Kena eliminasi mbak?"


"Iya mbak" aku tertawa. Bagaimana tidak? Pakaian sudah oke tapi aku menyeret koper, seperti orang tereliminasi.


Rencananya memang aku tidak balik ke kost dulu. Langsung berangkat dari kantor. Nanti mas Ramdan menjemputku sepulang dinas. Sekalian ijin sehari, bilangnya begitu. Aku iya-in aja.


"Ngapain kerja bawa koper?" tanya Mbak Mira


"Pulang kampung cyin. Kangen nyonyah besar" jawabku sambil membetulkan poni. Paripurna sudah, ruangan masih sepi saat aku datang. Alhasil aku ke pantry diikuti Mbak Mira


"Sstt.. kemarin ada apaan?" Mbak Mira berbisik


"Apa apanya mbak?"


"Kamu sama Sheila" tekannya


Aku hanya mengangkat bahu. Mbak Mira yang dilanda rasa penasaran mengguncang bahuku.


"Ih gitu ya sekarang. Beneran nih ada apaaan?"


mulai deh aku diinterogasi macam maling


"Kepo!" makin penasaran dia. "Panas pokoknya. Huh"


Gegas ku bawa segelas kopi susu hangat ke mejaku.


"Panas gimana. Cepetan dong cerita"

__ADS_1


"Jadi kemarin tuh aku sama She.." belum selesai aku ngomongnya


"Ehmm.."


Mas Ardit datang. Dia tampak kikuk saat bertatapan denganku. Mungkin dia malu juga karena tahu hubungannya dengan Sheila. Bilang gak suka tapi dimakan juga.


"Pagi mas" sapaku


"Pagi Tasia" dia menganggukkan kepala, berlalu ke meja kerjanya. Tak berselang lama Mas Wahyu datang dan Sheila yang terakhir. Wajahnya tampak lesu, tak bersemangat dan matanya sembab.


Mbak Mira yang hobi banget ngepoin orang langsung memberi kode padaku.


"Kenapa tuh"


Mengangkat dagunya seakan memberi perintah untuk melihat keadaan Sheila yang tak seperti biasanya


"Gak tau. Entar wa-an aja"


"Oke" jari telunjuk dan jempolnya menyatu.


Kembali lagi suasana lebih banyak diam. Mas Ardit juga diam saja saat ditanya Mas Wahyu. Kalau kerja dalam keadaan diam begini, waktu kaya berjalan lama banget.


Disisi lain aku juga sudah tak sabar pengen pulang kampung diantar Mas Ramdan. Moment pertama pulang kampung diantar pacar. Dari tadi aku menengok jam. Huft


"Bentar lagi pulang Tas"


Mbak Mira menyadari kegelagatku yang sudah tidak sabar ingin pulang. Mas Ardit melirikku sekilas.


"Mau kemana Tas?" akhirnya mas Ardit buka suara


"Mau pulang kampung mas"


"Gak usah balik sekalian Tas" celetuk Sheila ketus.


Semua menengok pada Sheila. Parah sekali celetukannya. Aku lebih tidak menanggapinya daripada kaya kemarin. Baru ku tahu kalau dia emang orangnya nekat.


Trinngg


Alhamdulillah, jam kerja selesai. Lebih baik aku duluan saja.


"Semuanya aku duluan ya. Daahh"


Aku segera keluar ruangan dan menyeret koperku. Sampai dilobby aku menelpon mas Ramdan


[Halo, sayang]


[Aku udah selesai. Mau ke depan]


[Aku udah didepan]

__ADS_1


Hiyaa hiyaa.. ternyata dia sudah siap dengan kaos navy, celana krem dan topi hitam.


I'm coming my love


__ADS_2