Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Delapan


__ADS_3

Virus Coronces Sudah Masuk Indonesia


Pembatasan Sosial di Masyarakat Lokal dirasa Perlu Dilakukan sebagai Bentuk Kewaspadaan


Pentingnya Menerapkan Social Distancing Demi Mencegah Coronces


Berita berita berseliweran digawaiku. Anjuran dari pemerintah mengharuskan untuk tetap dirumah. Kantorku juga memberlakukan work from home untuk sementara waktu. Gagal deh pulang ke kotaku.


Bosan terus terusan dikamar. Aku keluar kamar cuma kalau belanja aja selebihnya tetap dikamar. Cari aman.


Kebutuhan kuota internetku juga naik. Sekarang jadi sering video call mama, Rachel, nonton Drakor. Kerjapun juga sering pakai zoom. Oh gak lupa Mas Ardit yang masih sering ngirim pesan kangen gak ketemu aku karena WFH. Gak aku tak tanggepin juga, masih inget ancaman dari Sheila. Lagian aku juga gak ada perasaan apa apa sama Mas Ardit.


Tok.. Tok.. Tok..


Huh, siapa lagi yang ketok ketok pintu.


"Ya bentar" kubuka pintu kamarku ada laki laki berdiri didepan kamarku menggunakan masker hitam


"Mas Ardit kok bisa sampai sini. Ada apa" cercaku


"Iya Tas. Kangen kamu. Aku bawain kamu makanan ni. Bubur ayam" dia menyodorkan sebungkus bubur ayam kepadaku. Hemm sedep bener baunya.


"Oh.. makasih mas" aku menerimanya malu malu "Silahkan duduk didepan mas" aku menunjukkan kursi tamu yang tersedia didepan kost

__ADS_1


"Enggak Tas, aku gak bisa lama lama. Tadi ini tuh titipan mamaku. Trus keinget kamu jadi aku beliin juga"


"Oh gitu. Makasih ya mas"


"Aku pulang dulu. Dah Tasia" mas Ardit melambaikan tangannya padaku. setelah punggungnya terlihat menghilang baru aku masuk lagi ke kamarku. Mataku juga celingukan takut takut Sheila tau. Bisa berabe ni entar.


...---- DW ----...


Berhari hari sudah ku lalui dengan dirumah saja. Tadi pagi satu pesan masuk ke gawaiku, seperti mendapatkan durian runtuh. Kantor sudah bisa masuk. Meskipun enggak sepenuhnya. Tapi setidaknya bisa merefresh otakku.


Bu Murni pemilik kost itu ku dengar ngedumel didepan.


"Ada apa Bu. Bete gitu wajahnya"


Iya memang ku dengar, pemerintah melakukan lockdown. Makanya gang depan juga dipasang portal. Jalanan sepi, orang orang juga terlihat berdiam dirumah.


"Iya yah Bu. Ya ampun kok bisa gitu"


"Biasanya aku belanja segini tuh gak ada 100 ribu lho. Ini kok habis 120 ribu" diangkatnya belanjaan itu dihadapanku. "Mana anak anak sekolah suruh belajar dirumah tapi SPP tetap utuh. Tambah pusing aku rek" Bu Murni menempelkan telapak tangan ke dahinya


"Yang sabar Bu. Mau gimana lagi. Kan biar Corona gak nyebar kemana mana"


"Aku tuh kasian sama pedagang pedagang kecil itu lho mbak. Sambate Ya Allah, jadi jarang laku"

__ADS_1


Setelah percakapanku dengan Bu Murni aku beranjak menuju swalayan si lebah. Mau beli pembalut.


"Selamat datang di si lebah. Silahkan belanja"


Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Langsung ku tuju rak sanitary. sibuk memilih aku tidak fokus dengan sekitarku.


Brakk..


Aku menjatuhkan keranjang belanjaku. Semua berserakan dilantai.


"Maaf mas, aku gak lihat" segera ku ambil belanjaanku. Sialnya dia malah mengambil pembalutku dan menyerahkan padaku.


"Nih punya kamu"


"Makasih" segera ku raih pembalut itu.


"Eh kamu kan..." ucapan pria bertopi itu terhenti.


"Saya?" ku tunjuk diriku sendiri


"Ah sudahlah" dikibaskan tangannya ke udara. lalu pergi dari hadapanku.


"Dih orang aneh" lirihku

__ADS_1


__ADS_2