Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Sembilan Belas


__ADS_3

POV Ramdan


Menurutmu bagaimana ketika pacarmu mengajak bertemu orang tuanya? Deg degan pasti. Tapi aku juga bahagia. Itu artinya aku dianggap serius. Berbalik denganku yang belum berani mengatakan pada ibuku. Tapi ibuku sudah mengenalnya sebelum jadi kekasihku.


Dengan persiapan sepenuhnya, aku siap menjemput Tasia. Pinjam mobil papa sebentar ijinku. Saat ditanya kemana? Jawabku kerumah teman. Teman hidup aku nanti pah..


"Kamu gak bandel lagi kan?" tanya papa menyelidik


"Enggaklah. Papa ini aneh aneh aja" jawabku santai


"Ya kali aja balik bandel lagi"


"Aku kan tukang razia pah. Papa lupa?" kemudian kami tertawa.


Memang aku bandel dulu. Kalau kena razia, papa yang mengurus. Papa bilang sampai bosan mengurus masalahku.


Back to the point, Jumat aku masih bekerja seperti biasa. Lalu meminta ijin Sabtu enggak masuk kerja. Rencananya sepulang kerja, berangkat dan diperkirakan sampai di ibukota esok dini hari. Minggu pagi kami kembali ke kota ini.


Sepulang kerja aku segera mandi kilat, ganti baju. Hanya membawa satu tas ransel saja sudah cukup. Cowok mah gampang.


Sampai didepan kantor Tasia, ternyata ia belum pulang. Aku memarkirkan mobil lalu turun. Menunggunya di taman depan kantor. Ku lihat jam tanganku, sebentar lagi Tasia akan keluar.


"Hai, sendirian aja?" Ku lirik saja dia tanpa memberi jawaban. Perempuan dengan pakaian kerja, mungkin karyawan disini.


"Mau aku temenin" dia segera saja duduk, tapi aku reflek berdiri dan pergi saja.


"Ih kok pergi" teriaknya


Hah, ganas sekali.


Teleponku berdering, Tasia menghubungiku. Tertangkap mataku ia masih terlihat cantik meskipun seharian kerja. Dia celingukan mencari ku.


[Aku udah didepan]


Ku lambaikan tanganku padanya. Aku menyambutnya seperti anak TK dijemput ayahnya. Dia tertawa lebar, akupun terbius dengan kelakuannya.


"Ayo"


Tanganku merangkul bahunya, satu tanganku mengambil alih kopernya.


"Besar banget kopernya"


Aku menaruh koper itu di kursi belakang. Malas membuka bagasi.


"Punyaku cuma itu mas. Jadi ya udah pake aja" terangnya


"Silahkan masuk Tuan Puteri" kubuka pintu depan. Lalu menutupnya. Aku memutar depan mobil lalu duduk dibelakang kemudi. Pelan ku lajukan mobil ini. Lagipula ini jam pulang kerja, jadi pasti macet.


"Kamu gak ganti baju dulu?" aku meliriknya sekilas.

__ADS_1


"Enggak mas. Nanti aja deh. Kok kamu udah ganteng?"


Aku tak dapat menahan tawa saat dia mengatakan itu.


"Lhoh bukannya aku selalu ganteng ya?"


"Duh kepedean banget deh jadi orang" dia mencubit lenganku


"Aww sakit lho"


"Ya ampun maaf maaf. Sakit ya?" dia mengelus lengan bekas cubitan itu. Padahal aku hanya pura pura saja.


"Sakit disini"


Cup


Satu kecupan mendarat mulus di keningnya.


"Tapi bohong"


Aku tergelak, dia memanyunkan bibirnya


"Minta ditonjok ni orang"


"Ih ampun ampun. Pacarku galak ternyata"


"Tapi sayang kan?"


"Iya dong"


Aku mengacak-acak pucuk rambutnya.


Dia mengait lenganku. Bersandar dibahuku. Ah begini saja aku sudah bahagia. Lama gak diginiin soalnya. Sudah berapa tahun jomblo sejak ditinggalkan mantan pacar karena aku dulu masih belum punya pekerjaan. Tidak bisa memenuhi keinginan dia.


Perjalananku terhenti saat magrib. Menghentikan mobil di masjid sekalian istirahat.


"Berhenti disini aja ya? Sudah magrib. Gak baik magrib magrib jalan" terangku


"Iya. Sekalian makan malam ya. Aku udah laper"


"Oke"


Aku melepaskan seatbeltnya. Kemudian kami turun menuju masjid. Tasia menuju tempat wudhu wanita dan aku sebaliknya. Jamaah batu selesai jadi kami sholat sendiri sendiri. Lima belas menit berlalu, kami dipertemukan lagi di mobil.


"Udah lama nunggu?" tanyaku saat sampai di mobil.


"Baru aja. Bukain pintu dong mas. Mau ganti baju" pintanya


"Mau ganti baju disini?" ku tunjuk mobil

__ADS_1


"Enggak. di kamar mandilah. Entar kamu intip lagi"


Entahlah, kenapa aku suka sekali membuat dia seperti itu. Melirik sinis, memanyunkan bibir lalu tiba tiba dia tersenyum. ah betul betul menggemaskan.


Segera ku tekan tombol buka kunci. Dia mengambil beberapa potong baju dan sabun cuci muka lalu kembali ke toilet masjid. Aku menunggunya didalam mobil.


Klek..


Tasia sudah kembali lagi


"Cepet banget"


"Mandi bebek aja. Hahahah.. airnya dingin banget"


wajahnya sudah kembali segar. Polesan make up-nya sudah tidak ada.


"Kenapa natap aku kaya gitu? jelek ya?" dia menatapku. Aku menggelengkan kepala.


"Aku suka kaya gini. Natural" klise sekali kan? Tapi memang aku menyukainya sejak awal dengan wajah tanpa polesan.


"Gombal! Liat deh alisku tipis kaya gini. Ada bekas jerawatnya" jarinya menunjuk bekas jerawat mengering di pipi dan dahinya.


"Enggak apa apa sayang. Gak masalah buat aku. Jalan sekarang ya?"


"Tapi aku laper yang" rengeknya. Manja tapi aku suka.


"Mau makan apa? Soto, nasi Padang atau lalapan aja?"


Ku ajukan pertanyaan pilihan. Daripada bilang terserah kemudian bingung. Perempuan ingin dilayani juga.


"Lalapan Lamongan aja ya. Enak tuh kayanya"


"Oke. Kita coba cari warung tenda aja ya"


Tak berselang lama, aku menemukan sebuah warung tenda Ayam Penyet Lamongan berjajar dengan beberapa pedagang lainnya.


"Disini aja ya?"


"Heemm" ia mengangguk kepala


Kami turun dari mobil, suasana tidak terlalu ramai. Beberapa orang duduk ada yang makan ditempat dan menunggu antrean.


"Ayam lalapan 2 ya mas. Teh hangat 2"


Penjual mengacungkan jempolnya. Obrolan obrolan ringan menemani kami.


"Ih Ramdan ya?"


Seorang perempuan mendekat padaku dengan senyum mengembang. Tak ku sangka bertemu disini.

__ADS_1


__ADS_2