
POV Tasia
Aku kembali ke kota X lebih cepat karena Mas Ramdan ngotot pulang cepat. Aku pun bingung kenapa dia berubah begitu. Padahal dari awal dia semangat sekali saat aku meminta dia ikut aku pulang. Mama yang meminta.
Kepulanganku justru menjadi kerenggangan hubunganku dengan mas Ramdan. Biasanya setiap saat dia menghubungiku. Sekarang terkesan dingin dan jarang. Pernah suatu kali dia bertanya, 'Kamu sayang aku Tas?"
Hmmmm
Tas alias Tasia bukan dengan memanggilku sayang lagi.
"Menurutmu cowok gue kenapa Mar?"
Saat ini aku sedang nongkrong di sebuah cafe baru dekat kostku bersama Marlo.
"Sebentar deh, dia berubah sejak kapan?" tanyanya setelah menyesap hot chocolate. Ku lihat mulutnya bergerak gerak terus.
"Kenapa? kok mulut lu komat kamit"
"Kaya pop ice coklat"
"anj**ir" sia*lan memang Marlo. Lagi serius gini malah ngelawak.
"Beneran deh. cobain" dia menyodorkan gelas kecil itu.
"ogah. ih sampai mana tadi?" aku memukul lengannya
"Dia mulai berubah"
"Oh iya" aku mencoba mengingat kejadian disaat perjalanan itu.
"Jadi waktu itu kan kita istirahat bentar, soalnya udah magrib. Ya udah kita sholat dulu terus beli makan. Eh gak taunya kita ketemu sama mantannya cowok gue"
"Cantik?" sela Marlo dengan semangat
__ADS_1
"Kok lu nanyain mantannya sih" aku cemberut.
"Emm cantik Mar.. Bodynya juga oke, cocok jadi model"
"Kalah saing dong lu" dia tertawa malah
"Enggak lah. Lanjut gak nih?"
"Lanjut lanjut"
"Nah dari pertemuan tak sengaja itu dia jadi berubah"
"Kenapa?"
"Mantan dia bilang 'Bersyukur aku putus sama laki laki kere kaya kamu'" aku menirukan gaya bicaranya
"Terus pamer ini itu. Segala mobil mewah juga. Norak tau"
"Oh.."
Ketika aku cross check ke mama enggak ada yang aneh deh. Malah mama seneng ada yang bantuin masak masak kemarin. Berasa punya anak beneran.
Percakapan dengan papa juga tidak terlalu banyak. Kemarin pas aku kesana papa ada janjian sama temennya main golf. Sementara mama ya ngintil saja kemana papa pergi kecuali kerja.
"Emm sempet cerita kalau waktu perjalanan yang nyetir aku Mar" aku mengaduk orange squashku yang masih utuh.
"Kira kira kenapa ya?" baru ku sedot minumanku.
"Emmm menurut gue, dari cerita lu, gue nyimpulin kalo si tukang razia kena mental breakdown"
"jiakh gaya lu mental break down, break dance kalee" masih saja ngelawak ni orang. "Menurut lu gitu ya. Kenapa?"
"Kalau tadi lu bilang mantannya bilang dia kere kan? berarti tuh mantan pernah ada masalah soal materi. Mungkin gak bisa menuhi keinginannya"
__ADS_1
"Jadi gara gara duit?"
Marlo mengangguk.
"Lu anak orang kaya ya Tas?"
"Enggak. Biasa ajalah. Kaya dari mana coba orang papaku kerja jadi karyawan"
"Karyawan main golf? jangan bohong lu"
Aku meringis malu. "Bokap gue manajer di perusahaan"
"Nah itu tu" marlo menggerakkan jari telunjuknya. "Dah pasti ini masalah materi. Laki laki mah gitu Tas"
"Gimana sih maksudnya?"
"Yang bikin laki down itu materi yang bikin dia bangga juga materi. Kasarnya gitu. Apalagi dia punya masa lalu kaya gitu. mungkin ya mungkin ini alasan dia ngejauhin lu"
"Tapi gue gak masalah kok"
"Lu gak masalah tapi dia gimana? Coba deh lu tanya lagi gimana. Biar lebih jelas"
"Tapi dia kaya ngehindarin gue Mar"
"Ya samperin aja ke rumah atau tempat kerja"
"Oke deh. Gue laksanin perintah lu"
"Nah gitu. Oke berarti ya. sebagai imbalan traktir gue"
"Kampret lu. Iya gue bayarin"
Pertemuan dengan Marlo membukakan pikiranku tentang dunia laki laki. Masalah finansial sangat berpengaruh ternyata. Selama ini aku memang tidak mengalami hal hal semacam ini. Terlebih mantan mantanku kebanyakan anak orang kaya yang enggak kesusahan masalah uang.
__ADS_1
Tapi beberapa laki laki akan minder kalau keadaan finansial mereka dibawah wanita..
Semoga aku segera bisa menyelesaikan masalah ini.