
"Helen.." gumamku
Aku benar benar tidak menyangka bertemu Helen. Mantan kekasihku 5 tahun yang lalu.
"Benar kan Ramdan?" Dia bertanya memastikan.
Aku dan Tasia sama sama diam. Aku diam terkejut sedangkan Tasia ku pastikan dia bingung.
"Iya mbak. Ini mas Ramdan" tiba tiba Tasia menjawab. Seketika aku menoleh.
"Pacarnya Ramdan?" ia tersenyum sinis terkesan remeh. Dipandangi Tasia atas ke bawah.
"Iya mbak. Kenapa?"
"Permisi. Makanannya mas, mbak"
Obrolan kami terhenti sesaat. Pelayan menyajikan pesananku.
"Oh setelah putus dari aku kamu nyarinya yang muda muda ya?" tangannya bersedekap didepan dada.
"Nyari yang mau diajak susah?"
"Cukup ya Len. Kita udah gak ada urusan. Ya terus kenapa kalau aku dapat yang muda? Iri?"
Jawabku dengan tegas.
Tasia masih memperhatikan.
"Cih, iri? Emang aku udah gila iri sama cowok kere kaya kamu?" benar benar dia tetap menganggapku remeh.
"Tuh lihat mobilku. Kayanya kamu yang bakal iri" dagunya terangkat ke arah mobil mewah terparkir dipinggir jalan.
"Terus aku harus bilang 'wow' gitu" ucap Tasia saat aku akan menyela omongan Helen.
"Orang kaya masuk warung tenda. Turun level dong!" celetuknya lagi.
"Eh kamu kecil kecil kurang ajar ya" tunjuknya pada Tasia. Beberapa orang melihat kami bertiga, menonton pertengkaran. Indah bukan?
"Mbak kalau cuma mau pamer jangan disini"
Tasia melotot.
__ADS_1
"Kayanya keputusanku ninggalinn kamu emang tepat ya. Cowok kere emang pantes ditinggalin. Bye"
Helen bergegas memakai tas dan pergi meninggalkanku.
"Makan mas"
Tasia mendekatkan piringku. Aku menatapnya lagi, kenapa dia bisa sesantai ini?
Dia makan dengan lahap seolah-olah tidak terjadi apa apa.
"Udah mas. Jangan dipikirin lagi. Makan gih. Atau mau aku suapin?" dia tersenyum kepadaku sementara aku terbengong.
"Mas.." ia menyentuh pundakku.
"Eh.. iya.. aku makan"
Aku mulai menyuapkan nasi dan potongan ayam ke mulutku. Rasanya seakan berubah paku, sulit ku kunyah.
Hanya beberapa suap saja yang kumakan. Lalu aku pergi ke kasir membayar makanan.
Kami melanjutkan perjalanan. Masih lama mungkin 4-5 jam lagi.
"E-enggak kok" aku tergagap saat menjawab pertanyaannya. pikiranku melalang buana entah kemana. Masa lalu yang menyakitkan.
"Are you okay?" Tasia membawa satu tanganku digengamannya. Dia tersenyum lembut padaku.
"Aku baik baik saja kok sayang. Tidur aja kalau ngantuk" aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Dan mencoba konsentrasi menyetir.
"Masih jam 9 lho ini. Aku belum ngantuk. Gak pengen cerita apa gitu ke aku?" tanya Tasia padaku.
aku menoleh sekilas.
"Cerita apa?"
"Yang tadi? Masa lalu kamu?"
Dia merapatkan bibirnya setelah bertanya.
"Besok aja kalau udah agak santai. Aku ceritain. oke?"
"Oke. Dengerin musik aja ya" dia mencoba menghiburku dan tidak menanyakan hal tadi. Aku tahu dia pasti penasaran.
__ADS_1
"Boleh"
Tanpa menunggu lama, Tasia menyalakan radio mobil.
Sialnya, lagu yang berputar "Someone like you" Adelle.
Kenangan bersama Helen berputar putar di otakku.
Kenapa harus bertemu dia lagi setelah bertahun tahun berpisah.
Menyebalkan. Bukan karena aku masih cinta, tapi aku sebal dengan perlakuan dia.
"Kamu kenapa sih Mas? Dari tadi kaya bengong gitu. Atau aku aja yang ambil alih?" tawarnya lagi. Mana mungkin aku membiarkan Tasia menyetir.
"Beneran lho aku mas. Kamu tenangin diri dulu. Nanti kalau aku udah capek, kita gantian. Gimana?
"Err.. Bendera gak apa apa?" tanyaku lagi. Aku benar benar sedang tidak nyaman dengan suasana hatiku.
"Iya gak apa apa. Aku serius".
Ya sudah aku menepikan mobil. Tasia bergeser ke belakang kemudi. Aku berputar dan duduk disampingnya.
Aku melihat dia sudah lihai mengendarai mobil.
"Kamu sudah biasa nyetir yang?" tanyaku padanya. Dia menatap lurus ke jalan.
"Iya. Kenapa?"
"Udah lihai" aku tersenyum. "Jago ya pacarku ternyata"
"Siapa dulu dong. Tasia gitu lho"
Hanya begitu saja membuat kami tergelak. Aku mengelus rambutnya.
Dia tangguh sekali, membuatku minder jadi laki laki.
"Tidur gih. Nanti aku bangunin kalau aku mau gantian"
"Enggak deh. Aku nemenin kamu aja"
Kami mengobrol ringan. Masalah kerjaan dan berbagai hal yang kami temui di jalan. Sesekali bersenandung ria. Hingga akhirnya mataku berat, dan semua menggelap
__ADS_1