Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Sebelas


__ADS_3

Selamat pagi, Alhamdulillah cerah banget hari ini. Ku raih gawaiku, tut berdering


"Halo sayang"


"Halo juga, mama lagi ngapain?"


"Abis selesai masak sayang. Bentar ya" mama mengalihkan telpon ke video call


"Taarrraaa mama masak semur ayam Tas"


"Wah curang nih cuma dikasih liat aja"


"Mau dikirimin. Entar sampe sana busuk. Mau?" mama tertawa renyah


"Enggak usah. Entar aku masak sendiri aja"


"Gimana keadaan kamu. Kemarin papa nanyain kamu lho"


"Tanya apa? Pasti mau ngasih duit ya?"


"Kamu nih duit mulu. Enggak gitu, tempat kerja kamu aman gak? gitu?"


"Ya enggak mah. Ada temen kerjaku yang kena juga. Mah, mamah"


"Hemm kenapa?"


"Semalem aku apes banget"


"Kenapa? Kamu kecelakaan?"


"Bukaaann! Jadi semalem aku kena razia jam malam"


"Kok bisa? Kamu kan gak jualan"


"Jadi gini ceritanya..." aku menceritakan kejadian semalam sedetail mungkin sampai aku ditolong oleh Bu Am


"Kamu udah ngasih apa gitu sama ibu itu sebagai tanda terima kasih?" tanya mama


"Belum mah. Aku cuma bilang makasih"


"Kamu gimana sih Tas. Kasih dong. Biar ada imbal balik gitu. Biar gimana kan ibu itu udah nolongin kamu"


Lah malah kena amukan Nyonya Bachtiar Ramlan, maaf itu nama bapakku guys.


"Iya mah. Nanti Tasia beliin buah aja ya"


"Iya gitu juga gak apa apa. Tapi jangan cuma sekilo"

__ADS_1


" Siap Bu boss. Iya nanti aku beli 3 kilo"


"Nah gitu. Tau diri gitu lhoh Tas. Dah ya mama tutup nih telponnya"


"Iya mah. Dah mama. emuah emuah"


"Kamu nih" mama tertawa melihat tingkahku


Aku bersiap siap ke pasar buah. Kata temen kostku agak jauh dari sini, naik ojol saja. Sesampainya di pasar buah aku membeli apel 2 kg dan jeruk 2 kg. Berat juga. Aku minta dobel plastik biar gak robek. Setelah membayar aku pulang naik ojol lagi turun depan kost.


"Lah ngapain turun di kost? Mustinya sekalian aja ke rumah Bu Am. Bloon banget" gumamku sambil menepuk jidat


Sambil terseok seok membawa buah seberat 4kg, ia mulai mencari rumah Bu Am. Tadi sempat telpon tapi gak diangkat. Alhasil tanya tetangga kanan kiri saja.


"Buk, permisi. Mau numpang tanya rumahnya Bu Am itu dimana ya?" tanyaku pada seorang ibu ibu yang sedang berjemur didepan rumah.


"Bu Am siapa ya dek? Bu Am-nya pak Bagus atau Bu Am-nya pak Alatas?" tanya ibu itu kembali


"Duh saya kurang tahu Bu. Nama panjangnya Amalia. Tadi saya telpon gak diangkat" jelasku


"Ooh yang itu Bu Am-nya pak Alatas dek. Mau nganter belanja online-nan ya?" beliau melihat barang bawaanku


aku mengangguk sajalah.


"Rumahnya tuh dari sini lurus aja. Terus kamu tengok kanan jalan ada rumah berjajar tiga yang banyak tanaman itu. Nah rumahnya sebelum rumah jajar tiga itu"


Gegas ku langkahkan kaki lagi menuju rumah Bu Am. Bener kan jauh, tau gitu tadi naik ojollah. Fokusku rumah berjajar 3 ada tanamannya yang banyak. Kok aku gak nanya warna rumah atau nomor rumah gitu. Setelah berjalan lama akhirnya aku menemukan rumah berjajar 3, rumahnya sebelum ini. Jadi ini kan rumahnya Bu Am.


"Assalamualaikum, permisi, sepada" aku gonjreng gonjreng pagar besinya


Enggak ada jawaban


"Assalamualaikum Bu"


"Wa'alaikumsalam" suara dari dalam rumah.


Saat pintu dibuka, si kunyuk yang nangkap aku semalem. Oh berarti bener ini rumah Bu Am.


"Ada apa? Nyariin aku ya" tanyanya sambil memainkan alis.


"Dih najis!" seketika bibirku jadi 5 centi. " Mau nyariin Bu Am, mau kasih ini" aku mencoba mengangkat barang bawaanku. Susah tapi.


"Cuma mama aja? aku enggak?" tanyanya kembali


"Suruh masuk dulu sih" pegel tau bawa ginian


"Katanya najis" tapi dia membukakan gerbangnya. "plin plan"

__ADS_1


Aku masuk ke dalam rumahnya, lalu duduk dikursi depan.


"Ngapain disitu. Ruang tamunya didalem kali"


"Disini aja. Mana Bu Am?"


Kuluruskan kakiku, mataku melihat lihat sekeliling. Didepan ada taman kecil beserta kolam ikan. Beberapa tanaman hits juga ada disitu. Garasi kosong hanya ada satu motor terparkir.


"Mama gak dirumah. Gak tau kemana" ia menyodorkan sekaleng minuman dingin.


langsung saja aku ambil, haus bandel tau. Eh kok susah sih dibukaknya. Biasanya enggak.


"Mbok minta tolong kalau gak bisa bukak kalengnya" ia merebut kalengku lalu membukanya. "Nih" disodorkan kembali padaku


"Makasih pak" aku menerimanya dengan senyum manis ku lalu meminumnya. Seger!


"Dih kamu pikir aku bapak kamu" katanya dengan penuh penekanan.


"Ih kok marah. Loh kamu kan lebih tua. Ya wajar dong aku manggilnya pak. Ya udah aku pulang aja deh. Tuan rumahnya ngambekkan. Permisi. Assalamualaikum"


Aku segera berdiri menyambar tas kecilku.


"Heh mau kemana?" tangannya berhasil memegang lenganku.


"Weits lepasin pak. Aku mau pulang aja. Orang yang aku cari gak ada dirumah juga" aku mencoba melepas tangannya.


"Manggil pak lagi. Panggil mas kek atau kakak gitu kaya oppa Korea"


"Hahahaha.. oppa Korea. Kulit item gitu minta dipanggil" aku pun terbahak bahak dibuat oleh permintaannya. "Dah ah gak pulang pulang aku nanti"


"Sini oppa anterin. Tapi naik motor itu ya" menunjuk motor digarasi.


Gimana ya? Ambil apa enggak? Mana hari lagi panas banget lagi.


"Oke deh. Tapi aku gak bayar ya?"


"Iye bawel. kamu kira aku ojek? Buruan naik"


Tak berselang lama, mereka sampai didepan gerbang kost.


"Dah nyampe tuan putri"


"Makasih ya. Aku duluan"


"Cuma makasih doang. Sun donk" ia memonyongkan bibirnya


"Hih dasar mesum"

__ADS_1


__ADS_2