Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Enam Belas


__ADS_3

POV Author


Malam ini adalah malam Minggu. Hari dimana Ramdan janjian dengan Tasia mengajak jalan jalan dan kulineran yang pasti. Tasia sudah ada didepan cermin besar dalam kamarnya. Mematut dirinya, sedikit merapikan rambut dan poni. Oke, I'm Prefect!


Ting..


[Udah didepan nih Tuan Puteri]


Tasia tersenyum lebar, ribuan kupu kupu terbang disekelilingnya. Segera meraih tas kecil dan membalas pesan Ramdan.


[Dih, dijemput kek. Aku gak tau jalannya, ntar nyasar]


Saat membaca pesan itu, Ramdan tertawa. 'Aneh aneh aja ni cewek' batinnya.


Tanpa membalas, Ramdan segera turun dari motor, melepas helm dan kunci. Lalu masuk ke dalam kost. Penampilan simple tapi tetap kece membuat penghuni kost yang berada di ruang tamu terpana. Bikin klepek klepek.


"Nyari siapa Mas? Aku ya?" tanya seorang penghuni kost


"Emm... Tasia mbak. Kost no 3" buru buru Ramdan menuju kamar Tasia. Menghindari pertanyaan gak penting dari cewek cewek itu.


Tok tok tok


Krieekk pintu terbuka


"Holllaaa, aku dah siap"


"Oke. Ayok Tuan Puteri"


tangan Ramdan meraih tangan Tasia. Diselipkan jari jemarinya, bergandengan sepanjang jalan.


"Pakai dulu helmnya"


Dengan terampil, dipakaikannya helm pada Tasia.


"Makasih" senyum manis yang membuat Ramdan jatuh cinta.


"Sudah siap Tuan Puteri? Beraaangkat"


Motor melaju kearah Pusat Kulineran di kota tersebut. Sepanjang jalan mereka berbincang bincang diiringi tawa. Membuat perjalanan terasa cepat, padahal sengaja laju motor agak pelan biar agak lama sampainya. Ternyata teori relativitas berlaku juga.


Sampai ditempat, Ramdan memarkirkan motornya. Tempat ini terhitung masih baru. Dibangun sesaat setelah Coronces menyebar. Untuk menyelamatkan UMKM tujuannya. Suasana ramai sekali, pengunjung lumayan banyak.


"Eh, rame banget ya mas?"

__ADS_1


"Namanya juga malem minggu Tas" jawabnya


"Bukan gitu. Kan gak boleh berkerumun"


"Gak papa, selama masih ngikutin prokes, aman dah" lalu Ramdan menarik tangan Tasia untuk segera masuk ke dalam.


"Eh, bentar" langkahnya tertahan, saat Tasia meminta berhenti dulu


"Kenapa?"


Tak menjawab, Tasia mengeluarkan bedaknya. Mengaca ya itu dia. Mengaca sebelum dia dilihat banyak orang saat didalam nanti. Ramdan geleng geleng sembari tersenyum.


"Hadeh, cewek itu selalu gitu ya. Ngaca dulu gitu"


Tasia mencebik. Ditutupnya bedak ditangan.


"Udah, gak usah dipoles lagi. Kamu cantik kok. Aku suka"


Ah begitu saja membuat Tasia tersipu malu, pipinya merona merah bak tomat.


"Ayo" diraihnya tangan mungil Tasia


"Mau jalan jalan atau langsung makan aja?"


"Beli minum ya? haus banget mas" Tasia memegang lehernya dan berdehem kecil.


"Kopi aja deh. Biar melek ampe nanti"


Tasia menampilkan deretan gigi putihnya. Senyum yang membuatnya tambah cantik


"Melek ampe nanti? kamu mau nongkrong disini sampe pagi?"


"Ya enggaklah"


"Bisa kena razia kamu"


"Gak takut weekk" Tasia menjulurkan lidahnya


"Orang satpol PP nya disini?"


Dua sejoli itu tergelak bersama. Menikmati setiap langkah mereka berdua memutari area. Tangan bergandengan tak pernah terlepas. Sudah berasa dunia milik berdua saja. Yang lain baca aja.


Tak terasa sudah hampir tutup saja. Tasia sudah mengeluh kakinya pegal tetapi bibirnya masih bisa menyunggingkan senyum menawan. Bagi Ramdan.

__ADS_1


"Mau gendong?" tangannya sudah terbuka lebar


"Ih apaan sih? Enggak. Masih kuat kok"


Mereka berdua tetap berjalan beriringan. Menuju tempat parkir yang mulai sepi. Karena pengunjung sudah pulang.


"Tas..." ragu ragu Ramdan ingin bicara


"Hemmm"


Slurp.. Tasia menyedot kopi yang tinggal titik terakhir.


"Tas..."


"Yaaa. Ada apa?"


"Errr... Tas"


"Iya. Apa mas? Dari tadi manggil doang. Kenapa kebelet?"


hi..hi..hi.. Tasia menahan tawa. Ramdan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya susah banget kata katanya keluar dari tenggorokan. Mereka berdua masih terdiam.


Sampai diparkiran, saat Tasia akan mengambil helm. Ramdan menahan tangannya.


"Kenapa?" tanyanya heran


Meraup udara sebanyak banyaknya, dan menghembuskan pelan


"Tas"


Tangan Ramdan yang semula ada dilengan bawah Tasia kini berganti menggenggam jari jemarinya. Tasia menatap Ramdan penuh tanya. Jantungnya seakan berlompatan, entah perasaan apa ini yang dialami Tasia. Pun Ramdan, tangannya mulai terasa dingin.


"Anastasia, aku sayang kamu"


Diam. Tasia dan Ramdan sama sama terdiam. Satu sisi Ramdan takut kalau malam ini pernyataan cintanya akan ditolak Tasia. Satu sisi Tasia shock juga senang bahagia. Masih tak percaya Ramdan mengucapkan hal itu. Padahal memang dia berharap akan hal ini pada Ramdan karena merasa klik.


"Aku... aku..."


Ramdan harap harap cemas, wajah Tasia terlihat datar. Sesaat kakinya berjinjit.


"Aku juga sayang kamu mas"


mereka saling menatap, melempar senyum penuh kebahagiaan. Tanpa disadari kini wajah Ramdan kian mendekat ke wajah Tasia. Dengan lembut Tasia memejamkan mata

__ADS_1


"Woy, buruan pulang. Dah malem ni. Tempat ini mau tutup!"


Ah, kang parkir ganggu aja..


__ADS_2