
Apa aku sudah puas setelah melayangkan bogem mentah pada adikku sendiri? Belum, bahkan dalam otakku aku ingin melenyapkan sekalian. Kebencianku semakin bertambah padanya.
Setelah mengantarkan Tasia pulang, aku bergegas pamit.
"Mas, kamu gak apa apa? Masuk dulu yuk. Dibersihin lukanya"
Aku menggelengkan kepalaku. Percuma! Sampai rumah juga bonyok lagi.
"Aku gak apa apa sayang. Udah biasa"
Raut terkejut tampak diwajah Tasia. Bukan karena dipukuli orang tua, tapi kelakuan badungku semasa dulu. Jika orang tuaku bukan menyakitiku secara fisik tetapi mentalku.
"Aku gak apa apa. Gak usah khawatir. Cepet masuk gih sayang"
"Beneran?"
"Hmm"
Tasia melambaikan tangan padaku. Gegas ku lajukan motor ke rumah. Aku sudah siap dengan semua kemungkinan.
Memasuki gerbang rumah, sudah tampak ibuku mondar mandir didepan pintu utama.
Sudah ku duga!
"Dasar anak badung! Kamu apain Reynal? hah?"
Segera ku parkirkan motorku. Tak ku pedulikan ibuku. Melenggang masuk rumah, ternyata adikku berpura pura merintih. Oh raja drama mulai beraksi.
"Ram!"
"Ramdan nonjok anak kesayangan ibu" jawabku datar.
__ADS_1
"Ibu yang nyuruh Reynal jemput Tasia"
"Ibu tau kan Tasia pacarku. Bukan Reynal"
"Iya ibu tau. Tapi ibu mau jodohin dia sama Reynal. Mereka lebih cocok"
'Cih.. aku tak mengerti bagaimana jalan pikiran ibuku'
"Apa sih ribut ribut. Mau magrib ini Bu, Ramdan"
Ayah datang rupanya.
"Ini mas. Ramdan nonjok Reynal. Liat tuh mukanya bonyok gitu" ibu menunjuk wajah Reynal. Semakin merintih dia. Dan aku benci itu.
"Bener kamu Ram nonjok adikmu itu?" tanya ayah
"Iya yah" jawabku lirih.
Ayah mengajak kami duduk di kursi meja makan.
"Kenapa sampai tonjok tonjokan segala? Ada apa sih?"
"Ramdan tuh Yah" adikku yang manja mulai membuka suara. Terlihat ibu kesal menatapku.
"Yang sopan Reyn. Asal aja Ramdan Ramdan. Dia kakakmu" tegur ayah
"Ramdan coba jelaskan pada ayah kenapa kamu sampai berantem sama adikmu?" ucap ayah selanjutnya.
"Dia iri yah sama Reynal karena perempuan yang kita undang kemarin mau ibu jodohkan sama Reynal" jawab ibu seketika.
"Bu, ayah paling gak suka kalau ada yang nyela. Ayah tanya sama Ramdan. Ibu diam dulu" ujar ayah tegas
__ADS_1
"Yah, perempuan yang pernah kesini itu pacar Ramdan. Dan ibu saat ini mau menjodohkan dia dengan Reynal" terangku.
"Benar begitu Bu?" tanya ayah dengan tatapan tajam pada ibu.
"Iya yah. Ibu emang mau jodohin Tasia dengan Reynal. Mereka lebih cocok" jawab ibu lantang
Ayah menarik napas kasar lalu menggelengkan kepalanya.
"Reynal lebih cocok yah. Dia sekolah sampai S2. Kerja juga bagus. Coba ayah bandingin sama Ramdan" ujar ibu selanjutnya.
"Bu.. Ramdan anak kita Bu. kenapa ibu selalu banding bandingin mereka. Itu gak adil. Mereka itu punya kelebihan dan kekurangan masing masing"
"Tapi yah.. Emang begitukan? Ramdan itu berandal. Dari dulu susah dibilangin. Kerjanya aja cuma gitu"
Mendengar itu semua aku hanya bisa menahan gejolak emosiku. Aku memang tersisihkan. Ibu lebih mengunggulkan Reynal. Tapi setidaknya ayah berada pada kubuku.
Ayah dan ibu masih berdebat, sementara Reynal hanya diam saja. Ingin ku akhiri perdebatan ini.
"Sudah yah, sudah Bu" leraiku pada ayah dan ibuku. Jika dibiarkan bisa panjang.
"Lagian ibu ini ngeyel banget. Coba tanya Tasianya mau apa enggak sama anak itu" tanya ayah lagi
"Ayah ini dibilangin. Pasti maulah"
"Jangan rusak kebahagiaan Ramdan Bu. aku tidak setuju ibu melakukan itu" ayah lantas berdiri meninggalkan kami.
Aku mengikuti saja.
"Halah. Lihat aja nanti. Pasti cewek lu juga bertekuk lutut ma gue"
Aku menoleh padanya adikku. Adik sia**lan.
__ADS_1