Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

Suasana makan siang jadi canggung. Bagaimana tidak aku yang berstatus pacar Mas Ramdan malah dijodohkan dengan Reynal, adiknya. ***** makanku hilang.


"Nak Tasia, makan yang banyak. Jangan sungkan sungkan"


"Iya Bu"


"Reynal ini baru menyelesaikan S2-nya. Kerjanya di perusahaan multinasional. Gak kaya..." ucapan Bu Am terhenti


"Bu! Jangan gitu" ucap Pak Alatas.


"Nanti pulang biar diantarkan Reynal ya?"


"Kok aku sih Bu?" jegal Reynal


Ah, aku juga gak mau kamu antarin.


"Saya nanti bisa pulang sendiri kok Bu"


"Jangan! Biar Reynal aja" cegahnya. Bu Am masih kekeuh menyuruh Reynal mengantar ku pulang


"Aku habis ini pergi Bu" tegasnya pada sang Ibu


"Lhoh.."


"Biar Ramdan aja. Tadi berangkat sama Ramdan, pulang ya Ramdan yang antar" Kata Mas Ramdan yang membuatku bahagia


Pak Alatas hanya manggut manggut, Bu Am merengut tidak setuju. Sedang Reynal tersenyum sinis padaku, memandang remeh padaku. Ih, kok bisa sih Mas Ramdan punya adik kaya gini.


Acara makan siang pun sudah selesai. Akhirnya aku diantar pulang oleh Mas Ramdan.


"Mas kayaknya kita itu harus jujur deh sama orang tua kamu. Kita tuh nggak bisa kayak gini lagi. Kamu tahu kan tadi kayak gimana?" kataku saat sampai di depan kost.


"Iya aku akan segera bilang ke ayah dan ibuku soal hubungan kita. Seharusnya memang aku bilang dari awal. Maafin aku" ucapnya memelas.

__ADS_1


"Iya mas. Lebih cepat lebih bagus. Aku tunggu kabar baik darimu" aku menepuk pundaknya pelan. "Aku masuk dulu. Bye sayang!"


"Bye" aku melambaikan tangan pada Mas Ramdan. Kemudian ia segera pergi berbalik arah kembali ke arah rumahnya.


POV Ramdan


Baru sampai di rumah aku melihat adikku duduk di depan teras rumah.


"Katanya mau keluar. Masih di rumah aja" sapaku basa basi sekedarnya.


"gue liat lu deket banget ama tuh cewek. cewek lu?"


Ini yang aku gak suka dari dia. Tidak menaruh sopan padaku. Padahal aku kakaknya.


"Yang sopan kalau ngomong sama yang lebih tua"


"Gak usah ngajarin. Cewek lu?" tanyanya lagi


"Lumayan. Bagus juga selera lu. Kok dia mau ya ama lu? Heran gue"


"Kamu tanya aja sama dia. Biar tau alasannya"


"Oke gue terima aja perjodohan Ibu"


Dia lantas melangkah akan meninggalkanku. Tapi aku tahan.


"Jangan coba coba deketin dia. Dia milikku"


Dia justru tertawa.


"Selama tuh pak naib dan para saksi saksi bilang SAH masih ada kesempatan buat diambil" dia menyeringai.


"Aku bilang jangan pernah deketin dia"

__ADS_1


"Kenapa takut saingan sama adik sendiri? Dompet lu tipis bro. Lu gak inget sama Helen? Hah?"


Tanganku sudah terkepal, ingin memukul wajah adikku satu satunya ini.


"Ramdan! Apa yang kamu lakukan?"


Sial! Ibu datang.


"Kamu mau mukul adikmu?" ibu berbalik pada Reynal. "Kamu gak apa apa nak?"


Diperiksanya semua bagian tubuh anak kesayangannya itu.


"Aku gak apa apa kok Bu"


Selalu bocah ini, bisa mengambil hati ibu.


"Kamu apa apain sih Ram? Ada apa sebenarnya?"


Lebih baik aku katakan saja sekarang.


"Yang mau ibu jodohin ke Reynal itu pacar aku Bu"


"Jangan bercanda Ram. Tasia gak pernah bilang apa apa sama Ibu. Sekarang kamu tiba tiba bilang gitu. Kamu gak suka ibu jodohin dia sama Reynal. Makanya kamu mengaku aku" mata ibu melotot padaku.


"Aku gak bohong. Kami sudah berhubungan lama. Aku juga sudah kenal orang tuanya"


Tak mau banyak omong lagi, ku tinggalkan ibu dan adikku. Daripada tambah pusing.


"Ramdan! Ibu belum selesai ngomong!" teriak ibu.


Tak ku hiraukan teriakan ibu. Masuk kamar dan menutup wajahku dengan bantal. Ingin menangis saja tapi aku malu pada diriku sendiri.


Ibu selalu begitu. Aku tak pernah berarti di hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2