
Sebelum berangkat kerja, ibu sudah menghampiriku ke kamar.
"Ramdan, setelah sarapan nanti ibu mau ngomong sama kamu"
Aku masih sibuk sendiri wara wiri membetulkan penampilanku.
"Ramdan! Kamu dengar gak sih ibu ngomong"
Ku hela napas dalam dalam. Sejujurnya aku tak mau seperti ini. Tapi feelingku mengatakan ibu akan membicarakan soal Tasia.
"Dengar Bu"
"Ya udah ibu tunggu" sebelum ibu beranjak aku sudah menghalanginya.
"Kalau masalah hubunganku dengan Tasia bicara sekarang saja Bu"
Ibu berbalik menatapku.
"Ramdan" panggilnya lembut.
"Tolong kamu mengalah ya buat adikmu. Ibu rasa dia lebih cocok sama Reynal"
Aku tertawa sinis
"Selalu begitu. Reynal Reynal terus. Apa aku bukan anakmu?"
"Ngomong apa kamu ini Ram? Jelas kalian anak ibu"
"Tapi semuanya buat Reynal kan? Ibu selalu menomorsatukan dia. Ibu ingat kapan ibu pernah memujiku? Pernah ibu bilang terima kasih atas semua yang kulakukan? Jawabannya tidak"
"Kamu gak boleh ngomong gitu Ram. Mama sayang sama kalian. Mama gak memujimu bukan berarti mama gak sayang. Ibu juga mau jodohin kamu sama anak teman ibu"
__ADS_1
"Ramdan enggak mau! Udah cukup ya Bu. Kali ini Ramdan gak mau ngalah!"
Ku tinggalkan ibu begitu saja.
"Gak sarapan dulu Ram?" tanya Ayah
"Enggak Yah. Ramdan langsung berangkat aja. Assalamualaikum"
Gegas aku menuju tempat motorku terparkir. Apesnya aku ketemu Reynal yang sedang mengelap mobil ayah.
"Siap siap ditikung ya bro"
"Maksud kamu apa?"
"Ibu bilang mau ngejodohin cewek lu ama gue"
"jangan macem macem ya Reyn. Dia milikku!"
"Belum nikah gak apa apa ditikung. Apa sih yang enggak bisa gue dapet?" kata Reynal jumawa.
Dari pagi sampai sore, hanya rasa was was yang ia rasakan. Meskipun dalam hatinya yakin kalau Tasia tidak mungkin berkhianat tapi entahlah. Diapun kembali merasa minder dengan adiknya. Latar pendidikan dan karir yang dimilikinya jauh darinya.
Sepulang kerja, ia berhenti di depan kantor Tasia. Bermaksud untuk memberi kejutan keksihnya. Justru saat ini ia yang sangat terkejut. Reynal, adiknya sendiri juga ikut menunggu kekasihnya.
Dari kejauhan mata Ramdan tetap mengawasi gerak gerik adiknya. Terlihat Tasia keluar dari area kantor. Rupanya Reynal menghalangi jalannya. Terlihat perdebatan diantara keduanya. Penasaran sejujurnya, tapi aku harus menunggu reaksi Tasia.
Tiba tiba aku melihat, Reynal menarik tangan Tasia. Memaksa masuk mobilnya.
"Gue teriak nih ya!" ancam Tasia saat itu.
"Najis dipegang sama lo. Coronces tau"
__ADS_1
"Jangan bacot deh. Gue disuruh nyokap buat jemput lu!"
"Gue gak mau. Ada ya cowok kasar kaya lu. Cowok bre**sek!" Tasia mencoba melepas tangannya yang digenggam erat Reynal.
"Reyn!! Lepasin!" teriakku.
Aku mendekat pada mereka. Aku melerai genggaman itu. Sekarang posisiku didepan Tasia. Dia sembunyi dibalik punggungku.
"Disini juga lu?" tanya Reynal.
"Iya aku mau jemput Tasia. Kamu ngapain kesini?"
"Disuruh nyokap buat jemput tuh cewek" dia mengangkat dagu menunjuk pada Tasia. Benar benar tak sopan adikku ini.
"Perlu diingetin berapa kali Reyn. Yang sopan, kamu disekolahin ibu tinggi tinggi tapi kelakuan kamu kaya gak pernah sekolah"
"So what? Udah minggir! Tasia sini lu" Reynal mencoba meraih tangan Tasia. Sebisa mungkin Ramdan melindungi Tasia dari Reynal.
"Reyn! yang sopan" emosi Ramdan sudah sampai ubun ubun.
"Eh Ram! Dia ya yang mau dijodohin sama aku. Jadi kamu gak perlu kaya gini"
"Dih orang sakit jiwa!" teriak Tasia. Bodo amat dengan sekeliling yang menatap mereka bertiga heran.
"Udah diapain lu sama Si Ramdan? Ampe segitunya. Udah dicicipi lu?"
Benar benar keterlaluan Reynal kali ini.
"Reynal!"
Buukk..
__ADS_1
"Aaaa..." pekikan seru terlontar dari mulut Tasia.
Satu pukulan Ramdan mengenai rahang kiri Reynal.