Terjaring Razia Satpol PP

Terjaring Razia Satpol PP
Sembilan


__ADS_3

[Mama, aku kangen banget sama Mama. Pengin pulang]


Hampir tiap hari aku mengirimkan pesan seperti itu ke Mama. Beberapa minggu yang lalu mama kirim paket ke aku. Isinya ada masker dan hand sanitizer. Mama bilang sayang duitku kalau buat beli gituan, harganya ngelonjak. Nanti duit gaji gak cukup kalau dibuat beli gituan.


Pagi ini aku berangkat kerja. Penuh dengan rasa syukur sekali aku masih bisa kerja. Sejak pandemi banyak yang kena PHK.


Dress selutut warna pink dengan jas senada ku pakai hari ini. Rambut pendek dan poni, wajahku sudah ku poles dengan make up tipis tapi tertutup masker. Sepatu flat saja terpasang dikali. Siap kerja, naik ojek online.


"Kerja ya Tas?" tanya Bu Murni


"Iya Bu. Mari Bu"


segera aku berangkat, ojek online sudah didepan gerbang. Sebenarnya deket sih perusahaan dengan kost tapi aku lagi males. Itung itung bagi bagi rezeki sama kang ojol. Jadi sepi order sejak pandemi.


Sampai dikantor, semua karyawan dicheck suhu tubuhnya. Lolos aku masuk ke ruanganku. Terlihat hanya ada Mas Ardit, Sheila dan Mbak Mira.


"Pagi" ku sapa mereka yang didalam ruangan


"Pagi Tas" jawab mereka berbarengan


"Mas Wahyu gak masuk?"


"Wahyu positif Coronces Tas. Harus isolasi 2 minggu" jelas mbak Mira


"Lama ya? Perlu dikirimin makanan atau apaan gitu. Kan gak bisa keluar kalo yang isolasi" usulku


"Boleh Tas. Nanti kita jenguk dia. Nanti aku wa dia butuh apa" mas Ardit menanggapi usulku


"Aku ikut ya mas. Masa cuma Tasia aja yang diajak" kata Sheila dengan suara manjanya. sekilas dia melirikku sinis.


"Aku juga mau ikut Dit. Pengen liat keadaan dia"


"Heem.. Rame rame gitu kan asyik"


"Ya gak bisa dong. Kan gak boleh banyak orang. Dilarang berkerumun" tegas mas Ardit


"Kayanya aku gak bisa ikut mas. Aku ada perlu. Biar sama Sheila atau mbak Mira aja ya" jelasku yang aku tujukan biar Sheila gak salah paham sama aku


"Nha tuh mas, Tasia gak bisa. Jadi sama aku aja ya"


Huh, eneg liat Sheila dengan kecentilannya


"Ya udah kita lihat aja nanti gimana" mas Ardit mengakhiri perdebatan diantara kami. Kami balik ke meja kerja lagi dan fokus pada pekerjaan masing masing.


Jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Selesai sudah jam kerja. Aku bersiap pulang duluan. Didalam lift sudah ku pesan ojek online. Sampai dilantai dasar aku menuju depan, menunggu ojek online datang. Dari kejauhan Mas Ardit memanggilku


"Tasia, tunggu" digapai tanganku


"Ya" aku mendongak menatap wajah mas Ardit. "Kenapa Mas?"


"Aku ngerasa kamu kaya ngejauh ya dari aku. Aku ada salah sama kamu"


Aku mencoba melepas pegangan tangan nya


Dengan gelengan kepala aku menjawab


"Masa sih mas. Enggak ada yang salah mas. Jangan mikir macem macem deh"


Sreettt... ojek online datang


"Dengan mbak Anastasia?"


"Iya mas, saya" segera kupakai helm yang diberikan sama mas ojek. Lalu naik ke jok


"Aku duluan ya mas" aku melambaikan tanganku

__ADS_1


Dari kejauhan aku melihat Sheila mendekati Mas Ardit. Minta diantar pulang kali. Bodo amatlah! Sudah kuputuskan aku gak mau menanggapi semua hal tentang mas Ardit.


Malam ini, aku pengen makan dimsum. Enggak pengin makan nasi, berat badanku sudah mulai naik. Bajuku terasa sesak. Kali ini aku memilih baju teringat kejadian yang lalu pakai baju ala kadarnya malah dikira penjual crepes terus berujung di kantor satpol PP.


Rok pendek, kaos lengan pendek lalu cardigan ku kenakan. Tas kecil, hand sanitizer menggantung ditas juga masker diwajah. Gawai kubawa, kunci kost dan gerbang juga kubawa. Sejak kejadian itu aku diberi satu kunci gerbang sama Bu Murni. oke siap berangkat.


Ternyata ada penjual dimsum disini. Keluar gang aku harus belok ke kanan. Gak jauh kok, sama halnya dengan penjual yang ada di dekat SD Tunas Bangsa. Disini juga banyak yang jualan berbagai jajanan. Sampai digerobak Dimsum, ada beberapa orang antri beli. Sebagai orang baik aku juga mengantrilah. Saat tiba giliranku.


Sirine terdengar. Lampu strobo semakin dekat semakin menyilaukan.


Apes! Selalu begitu. Ada polisi dan pamong praja melakukan razia jam malam.


"Layani saya dulu bang" paksaku


"Gak bisa mbak. Kita harus tutup" Abang penjual dimsum ketakutan


"Ini sudah jam 9. Sudah masuk jam malam"


teriak seorang pamong praja yang berjalan mendekati gerobak dimsum


Tanganku merentang. menghalau orang itu mendekati gerobak.


"Ayo bang, bungkusin satu porsi aja buat aku" aku memohon


"Ayo cepat kemasi dagangan kalian" tangannya menggebrak gerobak


"Jangan tutup dulu. Layani dulu bang baru berkemas"


"Dek, ini sudah jam malam. Jadi harus segera tutup" kata orang itu dengan lembut


"Gak bisa gak bisa. Enak aja nyuruh berkemas. Masih ada pelanggan ni" tanganku sudah berkacak pinggang melawan petugas yang seenak udelnya nyuruh tutup pedagang.


"Ini anak gak punya sopan santun ya" teriak seorang polisi kepadaku


"Gak bisa gitu dong pak. Aku belum dilayanin kok. Aku udah antri lhoh ini. Bapak kira gak capek apa antri panjang sambil berdiri gini. Pegel tau"


"Ini mbak pesanannya. Gak usah dibayar mbak" Abang itu menyerahkan satu porsi dimsum padaku.


"Enggak pak. Gila aja gratis. Lagi susah gini kok" lalu aku mengambil satu kertas uang warna biru dan menyerahkan pada Abang itu. "Ambil aja semuanya bang"


"Makasih mbak. Semoga rezekinya lancar ya mbak"


"Dah selesai kan. cepat berkemas"


Situasi saat itu aku masih dikitari pamong praja dan polisi.


"Anak mama kamu? Anak SMP jam segini berkeliaran"


"Hah!" gila aku dikirain anak SMP. 10 tahun yang lalu keles.


"Hah heh hah heh lagi. Suruh orang tuamu kesini jemput kamu. Anak gak punya sopan santun" pak polisi itu melotot kearah ku


"Aku bisa pulang sendiri pak"


"Dah sekarang telpon orang tua kamu. suruh jemput kamu. ngerti?"


"Iya pak" gegas ku rogoh tas kecilku. Gawai sudah kugenggam, telpon siapa ni? Mama gak mungkinlah. Jauh kan. Coba aku menghubungi Bu Murni. 3 kali aku menghubungi tapi tak ada jawaban. Sial!


"Kenapa? Gak ada yang mau jemput"


panik menyerangku. minta tolong siapa nih


"Gak ada apa apa. Bentar"


Terlintas dipikiranku minta tolong saja pada Bu Am. Iya aku coba deh.

__ADS_1


Tuuuttt.. Tersambung ternyata


"Halo assalamualaikum cantik. Ada apa malem malem telpon ibu?"


"wa'alaikumsalam Bu. gini Bu saya ditahan sama polisi gara gara kena jam malam. Ibu bisa jemput saya gak?"


"Emangnya kamu dimana nak?"


"Dideketnya warung soto ayam Kasino Bu"


"Ya udah. Ibu ijin bapak dulu ya. Tunggu ya"


",Iya Bu makasih ya"


Tut.. panggilan berakhir. Lega akhirnya ada yang nolongin. Aku bersumpah bakal ngikutin maunya ibu itu.


"Tunggu pak, ibu saya mau kesini"


Tak berselang lama, gawaiku berbunyi lagi. Panggilan dari Bu Am lagi.


"Kamu dimana?"


Aku celingukan mencari keberadaan Bu Am juga. Saat aku mendapati sosoknya mendekat, ku lambaikan tanganku keatas.


"Saya disini Bu"


"Oh iya ibu dah liat" segera ku tutup telpon. Saat ini kami sudah saling berhadapan.


"Ibu" aku berlari kecil menghampiri Bu Am


"Mama" kata seorang pamong praja


"Lhoh Ramdan ngapain kamu nangkap anak perempuan mama?"


Ha? Manggil mama. Anaknya Bu Am dong Satpol PP ini.


"Sejak kapan Mas Ram punya adik cewek?" tanya seorang polisi disamping lelaki yang disebut dengan Mas Ram.


"Mama jangan ngaco deh. Anak dari mana? Anak mama kan cuma aku sama si Rey" jelasnya


"Mama udah adopsi dia" aku berusaha menahan tawaku saat Bu Am berkata kalau aku anak adopsi


"Udah anterin mama pulang sama anak wedok mama ini"


"Pak Agus ijin pakai mobil patroli sebentar ya buat nganter mama"


"Siap Mas Ram"


Kami bertiga masuk ke mobil. Mas Ram belakang kemudi sebelahnya Bu Am lalu aku.


"Kamu gak apa apa sayang?"


"Gak apa apa kok Bu. BTW ini anak ibu?" aku menunjuk mas Ram


"Iya ini anak ibu. Kenapa?"


"Nyebelin" jawabku sambil menyebikkan bibir


"Eh eh gak sopan ya. Udah ditolong pake ngatain nyebelin tau gitu tadi dikandangin aja" mulai ngancam nih


"Udah udah jangan bertengkar. Dah mau sampe ni"


"Aku turun dulu Bu. Makasih ya Bu udah ditolongin. Dadah ibu" aku berpamitan lalu membuka gerbang


"Aku gak pamitin?"

__ADS_1


krik krik.. Jangkriklah yang menjawab pertanyaan Mas Ram


__ADS_2