
Dengan santainya, Anxin mendudukan dirinya, dia menyandarkan punggungnya pada dinding dan langsung menutup matanya, tidak peduli pada beberapa janda yang sudah berdecak, memprotes tindakannya yang sudah membuat mereka kehilangan makan malam.
Di tempat lain, jenderal Gu dan istrinya sedang gusar, karena belum juga menemukan Anxin. Jenderal Gu sudah memerintahkan beberapa pengawal, untuk mencari Anxin, tetapi sampai sekarang, masih belum juga mereka mendapat kabar tentang putri bungsu mereka itu.
Hal yang sama juga terjadi pada Cao Zhi. semalam, dia mendatangi kamar anxin, tetapi tidak menemukan wanita itu. Awalnya, Cao Zhi berpikir Anxin sedang keluar bermain bersama Chuncu atau mungkin saja Anxin sedang melakukan hal lain, tetapi, pagi ini dia mendengar kabar tentang Anxin yang belum juga pulang ke rumah. Tambah syok saja Cao Zhi saat mengetahui Anxin yang belum pulang, sejak dia meninggalkan wanita itu, kemarin.
‘’Astaga, kemana sih wanita itu?’’ ucapnya karena belum juga menemukan Anxin. Cao Zhi sudah mencari ke tempat-tempat yang mereka datangi kemarin, dia juga sudah mencari di daerah terdekat dari pasar, tetapi tidak kunjung menemukan wanita itu. Cao Zhi sempat berpikir, kalau Anxin tersesat, tetapi kalau dipikirkan lagi, hal itu terasa tidak mungkin, mengingat Anxin yang tumbuh dan besar di lingkungan itu.
Berbeda lagi dengan Chin Cheng, wanita itu malah tertawa senang dan berharap Anxin tidak akan kembali lagi. ''Kuharap mereka sudah membawamu jauh dari dunia ini,'' ucapnya dipenuhi seringai licik. Diabenar-benar puas, mendapati Anxin yang belum kembali ke kediaman Gu.
*****
Anxin tersenyum, saat dua bandit tadi datang dengan membawakan makanan yang menurutnya layak untuk dimakan oleh manusia.
Para janda pun langsung berebutan, sudah hampir sebulan mereka disandera, dan selama itu pun mereka hanya makan makanan yang tadi sempat dikatai makanan hewan, oleh Anxin.
Hari hampir pagi, saat Anxin membangunkan para janda yang sudah tertidur pulas, beberapa dari mereka pun langsung melihat kesal pada Anxin.
‘’Bangunlah, kita akan melarikan diri sekarang juga,’’ ucap Anxin dan barulah mereka benar-benar bangun, bahkan sudah terlihat bersemangat.
‘’Bagaimana caranya kau membawa kami keluar dari sini, pintunya bahkan masih tertutup rapat dan dikunci dari luar seperti itu,’’ ucap salah satu janda yang sejak tadi, entah kenapa selalu menanggapi sinis ucapan-ucapan Anxin. Hal itu bermula dari Anxin yang memprotes makanan.
Anxin tidak mempedulikan, dia malah tersenyum dan mengeluarkan kunci dari saku hanfunya. Tadi, Anxin sempat memperhatikan dua bandit yang datang mengantar makanan, dia melihat, di ikat pinggang para bandit tergantung sebuah kunci, dia menebak, kalau kunci itu adalah kunci dari pintu tempat mereka di sandera sekarang.
__ADS_1
Awalnya, Anxin berusaha mencuri kunci, tetapi gagal, karena posisi para bandit yang tidak memberinya peluang untuk mengambil kunci itu secara diam-diam. Makanya, Anxin terpikir untuk memprotes makanan yang dibawakan, dan meminta untuk dibuatkan makanan yang layak, dia melakukan semua itu, agar memiliki kesempatan untuk mencuri kunci lagi dan tentunya juga untuk mendapatkan makanan yang layak.
Benar saja, saat dua bandit itu kembali mengantar makanan, mereka langsung diserbu oleh para janda dan saat itulah, Anxin bergerak bebas untuk mengambil kunci di ikat pinggang salah satu bandit.
Anxin lalu berdiri, untuk mencoba kunci itu, dan dalam sekali coba, pintu langsung terbuka. Anxin tersenyum ke arah para janda, lalu perlahan membuka pintu itu, dia mengeluarkan kepalanya terlebih dulu, untuk melihat situasi di luar. Anxin kembali tersenyum, saat melihat 3 bandit yang mungkin ditugaskan untuk menjaga mereka, malah tertidur dengan begitu pulasnya.
Dengan pelan, Anxin mulai membuka pintu, dia lalu keluar lebih dulu dan berdiri diluar, sambil memberi isyarat pada para janda, untuk segera keluar. Para janda pun keluar dengan perlahan, hingga tibalah satu janda yang sejak tadi mengeluhkan sikap Anxin.
‘’Ayo keluar,’’ ucap Anxin padanya, tetapi janda itu masih berdiri diam.
‘’Apa kau yakin, kalau kami tidak akan tertangkap lagi?’’
‘’Jangan bertanya sekarang, itu hanya membuang waktu.’’
‘’Kau mau ikut atau tidak, kalau tidak ya diam saja disitu.’’ Anxin hendak menutup pintu itu lagi, niatnya hanya ingin menggertak, karena sudah mulai kesal dengan sikap janda itu. Tidak lama, Anxin mendengar suaranya, yang beberapa kali mengatakan bahwa dirinya juga ingin keluar dan bebas dari tempat itu.
Anxin menyuruh para janda yang sudah keluar, untuk lari terlebih dulu, sedangkan dirinya masih menunggu janda menyebalkan itu.
‘’Ayo.’’ Anxin memberikan tangannya pada si janda, tetapi si janda menepisnya dan langsung melangkah mendahului Anxin. Hanya decakan kesal yang keluar dari mulut Anxin, setelah itu, dengan perlahan, dia kembali menutup pintu, untuk mengecoh para bandit yang menjaga.
‘’Kau mau apa?’’ tanya Anxin dengan suara pelannya, saat si janda menyebalkan itu malah melangkah mendekat pada 3 bandit yang sedang tertidur lelap.
Janda itu lalu menunjuk beberapa koin emas yang ada di meja, samping para bandit tertidur.
__ADS_1
‘’Cepatlah kabur, kau bisa memiliki benda seperti itu nanti.’’
Si janda tidak mengindahkan ucapan Anxin, dia malah terus melangkah mendekat. ‘’Aku harus mengambilnya, agar aku tidak kelaparan nantinya,’’ ucapnya. Memang, setelah kabur mereka harus hidup sebagai rakyat jelata dan tidak mungkin bagi mereka untuk kembali ke kediaman keluarga mereka, karena keluarga merekalah yang sudah menjual mereka.
‘’Astaga wanita itu,’’ geram Anxin mulai tidak bisa menahan rasa kesalnya. Masa bodohlah, pikirnya. Dia lalu melangkah terlebih dulu, membiarkan janda itu dengan keinginannya yang ingin mencuri koin emas.
Dua menit kemudian, Anxin menengok kebelakang, dia hanya menggeleng, saat melihat si janda yang sedang kegirangan, karena berhasil mengambil koin emas. Anxin kembali meneruskan langkahnya lagi, tidak berapa lama, si janda berteriak, sambil berlari ke arahnya.
Mata Anxin terbuka lebar, saat melihat para bandit yang ternyata sudah bangun dan sekarang sedang mengejar janda menyebalkan itu. Anxin ingin lari dan meninggalkan janda itu, tapi dia sedikit tidak tega, apalagi melihat si janda yang barusan jatuh, karena tersandung batu.
‘’Aish, ini susahnya hidup dengan rasa keprimanusiaan yang tinggi,’’ gerutu Anxin, lalu berlari untuk membantu janda itu. Mereka lalu berlari, dengan Anxin yang menarik si janda.
‘’Astaga tunggu dulu, koin emasku jatuh,’’ si janda tiba-tiba berhenti, dia lalu melepas kasar tangan Anxin, dan hendak kembali untuk mengambil koin emas yang jatuh tidak jauh dari posisinya berdiri sekarang.
Anxin tidak membiarkan, wanita itu malah kembali menarik tangan si janda dan lari dengan lebih kencang, dia tidak peduli dengan si janda yang terus mengomel karena kehilangan koin emasnya.
Dibelakang mereka para bandit masih saja mengejar. Tidak hanya 3 bandit saja, tetapi kira-kira sudah hampir 10 bandit.
Anxin mulai kehabisan tenaga, dia tidak sanggup lagi berlari. Langkahnya semakin kecil dan pelan. Anxin memutuskan untuk mencari tempat persembunyian. Tidak sampai 5 menit, anxin sudah menemukan tempat persembunyian, dia pun membawa serta si janda untuk bersembunyi bersamanya.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya😚
__ADS_1