
Prang!!
Suara barang jatuh memenuhi ruangan sempit dimana 4 pria dan seseorang yang menjadi tuan mereka itu berada. Tadi, tuan itu melemparkan beberapa barang pada mereka, saking marahnya.
‘’Bodoh sekali! Kenapa kalian bisa kehilangan mereka. Bukankah hanya seorang wanita muda?’’ tanyanya disertai oleh bentakan. 4 orang itu pun menunduk ketakutan, salah bicara akan membuat mereka kehilangan nyawa.
‘’Ma … maaf tuan, wanita itu sepertinya memiliki kekuatan yang luar biasa,’’ jawab satu diantara 4 orang itu.
‘’Apa maksudmu?’’
‘’Wa … wanita itu membuat kami tidak bisa bergerak.’’
‘’Tidak bisa bergerak?’’ Pria yang dipanggil tuan itu pun terdiam dengan pikirannya yang mulai menebak siapa gerangan pria tua itu. Selama bertahun-tahun dia hidup, belum pernah sekalipun dia melihat orang yang memiliki kekuatan seperti itu.
Tiba-tiba saja dia teringat akan sesuatu. ‘’Bukankah itu?’’
‘’Ya, tebakanmu benar, itu adalah salah satu kekuatan yang dimiliki oleh Klan Yujie.’’ Seorang wanita paruh baya tiba-tiba muncul dan melangkah mendekat.
Pria yang dipanggil tuan dan ke 4 pria itu langsung tunduk dan memberi penghormatan.
‘’Cepatlah bergerak dan cari keberadaan Permata Yujie, kita tidak bisa lagi membuang banyak waktu,’’ ucap paruh baya itu lagi penuh amarah.
‘’Dan kalian!’’ tunjuknya pada 4 pria berpakaian hitam itu. ‘’Pindahkan semua barang kita sekarang juga, sebelum mereka menemukannya lagi.’’
‘’Baik nyonya.’’ Mereka kembali memberi penghormatan sebelum keluar dari ruangan itu, untuk menjalankan perintah yang diberikan.
‘’Kau.’’ Kemudian wanita paruh baya itu menghadap pria di sampingnya, pria yang dipanggil tuan oleh ke 4 orang tadi. ‘’Secepatnya cari tahu siapa wanita yang mereka maksud tadi, dugaanku, dia adalah pemilik atau mungkin penerus Klan Yujie.’’
‘’Baik nyonya.’’
*****
Anxin baru saja masuk ke kamarnya, saat seorang pelayan datang menghampirinya.
‘’Ada apa?’’ tanya Anxin.
Pelayan itu memberitahu, kalau Anxin dipanggil oleh Jenderal Gu. Anxin pun mengiyakan, dia hendak masuk ke kamarnya, untuk terlebih dulu membersihkan tubuhnya yang menurutnya sudah sangat lengket. Dia mengurungkan niatnya, saat si pelayan kembali mengucapkan kalau Jenderal Gu ingin bertemu sekarang juga. Mau tidak mau, Anxin membawa langkahnya, untuk mengikuti langkah pelayan itu.
__ADS_1
‘’Ayin, ada apa dengan penampilanmu?’’ tanya nyonya Gu, saat Anxin masuk. Anxin pun langsung menggeleng dan mengatakan kalau dia baik-baik saja. Setelah itu, dia menatap pada Jenderal Gu yang sedang duduk dengan wajah datarnya, ada juga kakaknya yang sudah memberinya tatapan mencemooh. Kalau sudah begini, pasti ada yang tidak beres, pikir Anxin.
‘’Sejak kapan kau jadi kasar Ayin?’’ tanya Jnederal Gu tiba-tiba, dengan nada beratnya.
‘’Kasar?’’ tanya Anxin dengan keningnya yang mengkerut.
‘’Kau memukuli pelayanku, ck, perlakuanmu itu tidak mencerminkan perilaku seorang putri dari keluarga terhormat,’’ timpal Qing Cheng. Anxin pun mengangguk, dia mengerti sekarang, ternyata mereka sedang membahas kejadian kemarin? pikirnya.
‘’Apa salahnya, aku hanya memberi peringatan, agar pelayanmu tidak bertindak seenaknya. Ck, pelayan dan nona nya sama saja, sukanya menindas orang lain.’’
‘’Ayin,’’ bentak Jenderal Gu, Anxin pun langsung terdiam.
‘’Kau sudah melakukan kesalahan, dan sekarang kau malah berkata kasar pada kakakmu?’’
‘’Sia - ‘’
‘’Diamlah, sejak kapan kau menjadi pembantah seperti ini? Apa karena kau sudah menjadi calon permaisuri dari putra mahkota, kau menjadi sombong dan tidak sopan lagi pada kakakmu?’’
‘’Suamiku.’’ Nyonya Gu, ingin memotong, tapi Jenderal Gu langsung mengangkat tangannya, meminta istrinya untuk diam dan tidak ikut campur.
‘’Aku tidak akan berlaku seperti itu, jika dia berlaku baik padaku. Dia memang kakakku, tapi dia juga orang yang paling menginginkan kehancuranku, lantas, apa aku harus diam saja, menghadapi wanita licik sepertinya? Anxin mengomel, tapi sayangnya, dia hanya bisa mengomel dalam hatinya.
‘’Kenapa aku harus meminta maaf? Memang apa salahku?’’
‘’Ayin.’’
Anxin kembali menutup rapat mulutnya. ‘’Pria tua ini terus membentakku, kalau bukan orang tuaku, aku pasti akan balas membentakmu.’’
‘’Ayin, minta maaflah pada kakakmu,’’ ucap nyonya Gu dengan nada lembut. Anxin langsung menggeleng. ‘’Tidak aku tidak akan meminta maaf padanya. Pelayannya salah, kenapa harus aku yang meminta maaf? Kecuali, kalau dia,’’ tunjuk Anxin pada Qing Cheng yang nampak tersenyum puas, melihat Anxin dimarahi.
‘’Aku akan meminta maaf, asal dia juga meminta maaf pada Chuncu. Kupikir itu adil, dia harus minta maaf tentang apa yang dilakukan pelayannya, maka aku juga akan meminta maaf.’’
‘’Kau menyuruhku minta maaf pada seorang pelayan? Apa kau gila?’’
‘’Ya sudah, kalau begitu jangan mengharapkan permintaan maaf dariku.’’
‘’Benar katanya. Qing Cheng, aku minta maaflah pada Chuncu, dan kau harus minta maaf pada kakakmu.’’ Jenderal Gu memberi keputusan. Qing Cheng ingin memprotes, tapi Jenderal Gu langsung memasang wajah marahnya.
__ADS_1
Anxin bersorak dalam hati, tidak apalah dia meminta maaf pada Chuncu, toh itu bukanlah sesuatu yang sulit untuk dia lakukan. Yang jelas, dia sudah berhasil membuat Chuncu kesal.
*****
‘’Kau kemana saja?’’ Sambut Cao Zhi pada Anxin yang baru saja masuk ke kamar.
Anxin langsung menggerutu, karena kaget. ‘’Kenapa kau disini lagi sih?’’ Lalu dia melangkah dan duduk di samping Cao Zhi, sambil membuang nafas kasar.
‘’Ada apa?’’
Anxin kembali menggerutu sambil menceritakan perlakuan menyebalkan Qing dan pelayannya. Dia juga menceritaka tentang dia dipanggil oleh Jenderal Gu, hanya untuk menyuruhnya meminta maaf pada wanita menyebalkan dan licik itu.
‘’Kau sudah berhasil mengerjainya ‘kan, apalagi yang membuatmu kesal?’’
Pertanyaan itu malah membuat Anxin kesal. ‘’Cao Zhi, berhasil mengerjainya, bukan berarti menghilangkan rasa kesalku.’’
‘’Aku baru tahu, kau ternyata seorang pendendam.’’
‘’Karena kesal, Anxin sedikit mendorong tubuh Cao Zhi. ‘’Pergilah, bercerita padamu, malah membuatku lebih kesal. Namun, tidak berapa lama, dia menahan lengan Cao Zhi, saat mengingat tentang penyelundupan beras yang tadi dia temukan.
‘’Hei apa kau mendengar yang aku katakan?’’ Anxin menjentikan jarinya di depan Cao Zhi. Anxin sudah menceritakan perihal penyelundupan beras, tapi Cao Zhi malah duduk diam tanpa mengatakan sesuatu.
‘’Kenapa kau ceroboh sekali, kalau mereka berhasil menangkapmu bagaimana?’’
Anxin malah tersenyum. ‘’Hei, kau sedang mengkhawatirkanku?’’ godanya.
Cao Zhi tidak menggubris godaan itu. ‘’Lain kali, jangan pergi seperti tadi, kalau ada apa-apa, katakan padaku, oke?’’
Anxin lantas tersenyum, melihat tatapan tulus yang diberikan Cao Zhi. ‘’Ya, aku janji, akan selalu membawa dirimu, saat aku menghadapi bahaya,’’ ucapnya sambil terkekeh. Refleks, Cao Zhi mendorong kening wanita itu, lalu keduanya tertawa secara bersamaan.
*****
Pagi harinya, Cao Zhi kembali menemui Anxin.
‘’Astaga Cao Zhi, untung aku sudah selesai menggunakan hanfu ku,’’ protes Anxin, sedangkan Cao Zhi hanya memberikan senyum kakunya. Disaat yang sama, pintu kamar Anxin terbuka, menampilkan Chuncu yang datang membawa makanan untuk Anxin.
‘’Pa - pangeran ketiga,’’ ucapnya terbata, lalu cepat-cepat memberi penghormatan. Setelah meletakan makanan yang dia bawa, Chuncu langsung keluar dari kamar Anxin. Chuncu, wanita itu berpikir dalam kebingungan, ini bukan pertama kalinya dia melihat Cao Zhi bersama nona mudanya, sebenarnya ada apa diantara dua orang itu, pikirnya.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya 😚