
Wanita itu kembali berbalik dan menunjuk kedua Pangeran yang sepertinya ingin melangkah mengikuti. ‘’Jangan mengikutiku!’’ ucapnya lagi, keduanya pun refleks mengangguk, sedangkan Qing Cheng yang melihat itu langsung membentak Anxin karena merasa Anxin sudah tidak sopan pada kedua Pangeran.
‘’Berani sekali kau membentak para Pangeran!’’ bentak Qing Cheng dengan nada dan raut wajah tidak sukanya, sedangkan Anxin yang dibentak sama sekali tidak peduli dan terus melanjutkan langkahnya, dia bahkan tidak berhenti sedikit pun, melirik pun tidak.
‘’Dasar tidak sopan!’’ gerutunya lagi. Setelah itu, dia sedikit memiringkan badannya untuk melihat kedua Pangeran, tetapi nihil, para Pangeran tidak ada lagi. Entah sejak kapan, tetapi para Pangeran tidak lagi berada di tempat itu.
Sambil menahan geramnya, wanita itu pergi dari tempat itu, kebenciannya terhadap Anxin semakin hari semakin besar, wanita itu selalu saja mengambil apa yang diinginkannya dan selama ada Anxin dia tidak mungkin bisa hidup tenang, itulah yang kini bersemayam dalam pikirannya.
Anxin kembali ke kamarnya, sambil menggerutu kesal akan 4 orang yang sudah membuatnya kesal. Wanita itu lalu melangkah, ingin berbaring di ranjang, tetapi langkahnya terhenti, saat matanya menatap ke arah meja rias, dia teringat akan daun binahong serta beberapa bunga yang pernah diambilnya dari hutan, sewaktu dia tersesat.
Anxin pun mulai menyiapkan bahan. Hampir 2 jam dia melakukan semua itu. Dan kini dia tinggal menunggu kira-kira 1 minggu, untuk menggunakan obat dan farfum yang baru dia buat itu.
Setelah selesai dengan semua itu, Anxin berteriak memanggil Chuncu, ingin menyuruh wanita itu untuk membereskan kamarnya yang kini terlihat sedikit berantakan. Beberapa kali dia memanggil, tetapi Chuncu belum kunjung mendatanginya. Anxinpun berdiri, untuk mencari pelayan setianya itu.
Anxin cukup terkejut, melihat Chuncu yang sedang dikeroyok oleh beberapa pelayan Qing Cheng. Dengan rasa kesalnya, Anxin berlari menghampiri mereka, dia lalu berteriak saking kesalnya, karena pelayan-pelayan itu terus memukul Chuncu.
‘’Apa yang kalian lakukan? Bentak Anxin, dia mendorong kasar, tubuh Meng Jie, lalu membantu Chuncu berdiri, Anxin begitu sedih, saat melihat keadaan Chuncu yang sedikit memprihatinkan, banyak memar di wajah pelayan setianya itu, tidak hanya itu, bahkan dari sulut mulutnya, sudah keluar darah dan itu benar-benar membuat Anxin kesal.
Anxin melayangkan tatapan tajamnya, pada pelayan-pelayan Qing Cheng, dia lalu melangkah mendekat dan langsung menendang kaki para pelayan, Anxin melampiaskan amarahnya, dia memukul pelayan-pelayan Qing Cheng, sampai wajah para pelayan itu menyerupai wajah Chuncu, barulah dia berhenti.
‘’Apa yang kalian lakukan, akan kuberi pada kalian dengan dua kali lipat lebih besar, kali ini aku hanya memukul kalian, lain kali, jika kalian masih berani mengganggunya lagi, maka aku pastikan kalian tidak akan bernafas lagi saat itu,’’ ucap Anxin menggebu, dia masih memberikan tatapan marahnya pada pelayan-pelayan itu.
__ADS_1
‘’Apa yang kau lakukan pada mereka?’’ Qing Cheng datang dan berteriak, karena melihat para pelayannya sudah babak belur, ditangan Anxin.
‘’Kenapa, kau ingin seperti mereka juga?’’ ketus Anxin, dia juga menatap tidak suka pada Qing Cheng. ‘’Pastikan para pelayanmu tidak menyentuh orang-orang disekitarku, atau aku akan melakukan hal yang lebih para dari ini dan mungkin kau juga akan kena imbasnya.’’ Setelah itu, Anxin pergi begitu saja, dengan membawa serta Chuncu bersamanya.
Dia membawa Chuncu ke kamarnya untuk mengobati lebam yang ada di wajah pelayannya itu. Untung saja dia menyisakan beberapa lembar daun binahong dan tidak menghancurkan semuanya tadi.
‘’Duduklah.’’ Anxin ikut kesal pada Chuncu, karena pelayan itu hanya diam saja, saat para pelayan Qing Cheng mengeroyokinya.
‘’Kenapa kau diam saja tadi?’’ tanya Anxin dengan nada kesal. Chuncu hanya diam, membiarkan Anxin mengobati memar di wajahnya, tapi, dalam hatinya dia sangat bersyukur, memiliki nona muda yang baik dan memperhatikannya, seperti yang kini Anxin lakukan. Jadi, dia hanya akan diam saja dan menerima omelan nona mudanya itu.
‘’Lain kali, kalau kau memar seperti ini lagi, aku akan membuatnya dua kali lipat lebih parah. Jadi, ingat untuk menjaga dirimu sendiri dan jangan biarkan orang lain menindasmu seperti tadi, kau mengerti?’’
Dengan pelan Chuncu mengangguk, dia menahan rasa perih di wajahnya. Setelah mengobati lebam di wajah Chuncu, Anxin langsung menyuruh wanita itu untuk istirahat, sedang dia langsung membersihkan kamarnya yang tadi berantakan, karena kegiatan membuat obat dan parfum.
‘’Bisa tidak datang lewat pintu? Tidak beradap sama sekali,’’ protes Anxin penuh kekesalan. Cao Zhi ingin membentak, tapi diurungkannya, karena melihat Anxin yang sangat kesal.
‘’Aku datang untuk memberitahu, besok, Kaisar dan Permaisuri menyuruhmu ke Istana.’’
‘’Untuk apa?’’
‘’Mungkin saja mereka akan memberimu hadiah, karena sudah berkontribusi memecahkan salah satu masalah yang ada di lingkungan kekuasaan kerajaan Xing ini.’’
__ADS_1
‘’Hadiah, ah benarkah?’’ Cao Zhi dibuat heran, dengan perubahan suasana Anxin yang sangat cepat. Tadi, wanita itu terlihat sangat kesal, dan sekarang sudah sangat bersemangat.
‘’Hhmm kupikir seperti itu.’’
‘’Ah aku jadi tidak sabar, menunggu hari esok.’’
Cao Zhi hanya bisa tertawa kecil, melihat tingkah Anxin yang menurutnya sedikit lucu dan menggemaskan. Pria itu terdiam membeku, saat wajah Anxin perlahan mendekat ke arahnya, tangan lembut milik wanita itu sudah terangkat dan menyentuh sudut bibir Cao Zhi yang masih tampak memar.
‘’Kenapa masih dibiarkan seperti ini?’’ tanya Anxin. Cao Zhi tidak menjawab, dia masih fokus menatap wajah Anxin yang hanya berjarak beberapa cm darinya.
‘’Apakah sakit?’’ Dengan sengaja, Anxin menekan bagian yang memar itu, Cao Zhi sedikit meringis dibuatnya.
‘’Sakit kan, lalu kenapa tidak diobati, ingin dibiarkan begitu saja.’’ Anxin sedikit mengomel, dia lalu menjauhkan wajahnya dari Cao Zhi, dan melangkah mengambil daun binahong yang masih tersisa dan langsung kembali melangkah menuju Cao Zhi lagi.
‘’Diamlah.’’ Dia sedikit memukul tangan Cao Zhi, yang seakan menghalangi. Cao Zhi pun diam, membiarkan wanita itu melakukan apa yang ingin dia lakukan. ‘’Kau adalah seorang pangeran, kau harus bisa menjaga tubuhmu dengan baik, bertengkar boleh, tapi jangan sampai tidak mengobati lukamu juga.’’
Cao Zhi tidak menjawab, pria itu hanya menatap Anxin dengan intens. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada seseorang yang memperhatikannya. Dia memang memiliki keluarga, tapi tidak satupun dari mereka yang benar-benar mempedulikannya.
‘’Kenapa diam saja, kau mendengar ucapanku tidak?’’
‘’Ya, ya aku mendengarnya, kau berada tepat di depanku, bagaimana aku tidak mendengarmu? Kupingku bahkan hampir pecah.’’
__ADS_1
Anxin lantas memukul lengan Cao Zhi, sedangkan pria itu hanya tersenyum, karena sudah berhasil menggoda Anxin.
Bersambung.....