
Semalam, cao Zhi dan Anxin, sudah bersepakat, untuk kembali ke tempat yang dikatakan Anxin sebagai tempat penyelundupan beras. Awalnya Cao Zhi tidak ingin membawanya, tapi entah kenapa wanita itu bersikeras ingin ikut bersama Cao Zhi.
Ditengah perjalanan, tiba-tiba saja, Cao Zhi menghentikan langkahnya, dia menguatkan indera pendengarannya dan benar saja, tidak lama munculah segerombolan bandit yang berpakaian hitam, mereka mengelilingi Cao Zhi dan Anxin yang sudah tampak ketakutan. Wanita itu sudah menempel pada Cao Zhi.
Dengan sudut matanya, Cao Zhi memperhatikan gerak gerik para bandit berpakaian hitam, tidak lama, dia membawa Anxin terbang dan meletakan wanita itu diatas pohon, sedangkan dirinya kembali turun untuk mengetes kemampuan bela diri para bandit.
‘’Hei, kenapa kau meletakkanku diatas pohon, kau pikir aku ular pohon,’’ teriak Anxin. ‘’Astaga ini tinggi sekali,’’ ucapnya sambil melihat kebawah. Wanita itu langsung melingkarkan kedua tangannya pada batang pohon. ‘’Kupikir ini drama romantis, tetapi kenapa sekarang jadi menakutkan. Tuhan tolong, aku mau pulang ke duniaku,’’ ucapnya lagi sambil mengeluarkan suara tangisan, hanya suara.
Saat kakinya kembali menginjak tanah, para bandit langsung menyerangnya dengan pedang. Cao Zhi refleks mundur untuk menghindar. Para bandit terus menyerang tanpa sama sekali mengenai tubuh Cao Zhi, sedangkan Cao Zhi sudah menumbangkan beberapa bandit hanya dengan tangan kosong.
Diatas pohon, tubuh Anxin bergetar karena ketakutan, bukan takut kalau Cao Zhi akan kalah, tetapi lebih pada takut akan getaran pohon yang diberikan oleh angin yang tiba-tiba saja bertiup dengan kencang. Dia memegang pohon itu dengan sangat erat. Menurutnya, angin kencang itu bahkan bisa membawa tubuhnya terbang.
Dibawah, Cao Zhi masih meladeni para bandit, pria itu tidak mengeluarkan banyak kekuatan atau tenaga dan malah melawan dengan sangat santai. Para bandit bukanlah lawan yang setara dengannya. Sebenarnya dengan satu kali pukulan dia bisa menumpas habis para bandit itu. Hanya saja dia ingin sedikit bermain-main dengan mereka.
Setelah puas main-main, dia langsung menghajar habis para bandit hingga semuanya tumbang. Setelah itu, dia mengibas tangannya dan melangkah mendekat dengan kedua tangan yang sudah diletakan dibelakang. ‘’Siapa yang menyuruh kalian?’’ tanyanya dengan menginjak dada seorang diantara pria berpakaian hitam itu.
‘’Awas ….’’ tiba-tiba saja Anxin berteriak, saat beberapa bandit yang entah darimana datangnya kembali menyerang Cao Zhi. Disaat yang sama, Cao Zhi langsung menghentakan kakinya di tanah dan tiba-tiba saja tubuh pria itu sudah melayang, kira-kira 3 meter tingginya dari atas kepala para bandit yang baru datang itu.
Para bandit serempak menengadah keatas, lalu mengarahkan mata pedang pada Cao Zhi dan ikut menyusul pria itu hingga terjadi pertempuran di udara, Cao Zhi berhasil menghindari setiap serangan dan mengalahkan pria-pria itu dalam waktu yang singkat. Kali ini dia tidak ingin main-main lagi.
__ADS_1
Cao Zhi kembali turun, saat semua tubuh bandit jatuh dan membentur tanah. Baru saja kakinya menyentuh tanah, indera pendengarannya sudah menangkap aktivitas mencurigakan dari jarak yang tidak jauh darinya.
Disaat yang sama, dia melihat anak panah yang sudah menuju ke arah Anxin yang sejak tadi diam dengan tubuhnya yang memeluk erat batang pohon.
Dengan cepat dia berlari dan menangkap panah itu. Tidak membuang waktu, dia langsung terbang menghampiri pria yang tadi ingin memanah Anxin, tetapi terlambat, karena pria itu sudah terkapar tidak bernyawa.
Cao Zhi memandang pria yang sudah tidak bernyawa itu dengan penuh selidik. Pasalnya, tidak ada tanda-tanda pembunuhan yang terlihat disana, tubuh pria itu masih utuh tanpa luka sama sekali. Dia lalu berjongkok dan membawa jari telunjuknya ke depan hidung pria itu, untuk mengecek apakah masih bernafas atau tidak. Masih tidak puas, dia mengambil tangan pria itu dan mengecek nadinya, hasilnya tetap saja, pria itu sudah meninggal.
Dia lalu mendesah, Cao Zhi sangat yakin, kalau bandit itu mati karena dibunuh, tetapi bagaimana metode pembunuhannya, itu yang harus dia cari tahu sekarang.
Masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba saja dia melihat tanda kecil dari balik pakaian bandit yang sedikit terbuka. Karena penasaran, dia sedikit membuka pakaian, untuk melihat tanda itu dengan jelas.
Dia membuka pakaian mereka satu persatu, dan seperti dugaannya, setiap pria itu memiliki tanda yang sama, yaitu gambar bunga berwarna merah tepat di dada sebelah kiri.
Dari tanda itu, dia menyimpulkan kalau diluar sana ada satu pergerakan besar yang mungkin saja akan mengancam negaranya. Dan sepertinya, orang-orang itu juga terlibat dengan penyelundupan beras yang semalam dibicarakan Anxin padanya.
Masih larut dalam pikirannya, tiba-tiba saja dia mendengar suara Anxin yang tiba-tiba mengomel padanya. ‘’Sampai kapan kau akan membiarkanku disini? Kau tidak lihat pohonnya terus bergerak, kalau aku jatuh bagaimana?’’ omelnya dengan nada ketus.
Dengan malas, Cao Zhi kembali terbang dan membawa wanita itu turun.
__ADS_1
‘’Kupikir kau tidak bisa beladiri, ternyata kau lumayan hebat juga,’’ puji Anxin. Setelah itu dia melirik pada tubuh-tubuh bandit. ‘’Me - mereka sudah mati ‘kan?’’ tanyanya melihat para bandit yang sudah tampak tidak bernyawa itu, dia bahkan belum melepaskan tangannya dari leher Cao Zhi. Jangankan melepas tangannya, turun dari gendongan Cao Zhi saya dia belum mau.
‘’Apa kau ingin menyusul mereka?’’ tanya Cao Zhi dengan nada kesalnya. Ucapan yang terkesan mengancam itu refleks membuat Anxin melepas lingkaran tangannya dan juga turun dari gendongan Cao Zhi.
‘’Kau yakin mereka sudah mati?’’ tanyanya lagi. Dia masih saja memperhatikan mayat-mayat yang berserakan itu, lalu perlahan mendekat dan sedikit menendang tubuh seorang diantaranya, untuk memastikan apa mereka sudah benar-benar tidak bernyawa.
Cao Zhi tidak menghiraukan, dia malah pergi begitu saja dan meninggalkan Anxin yang masih asyik menendang mayat-mayat itu. Wanita itu sedang melampiaskan kemarahannya.
‘’Hei ….’’ cepat-cepat dia berlari menyusul, saat melihat Cao Zhi sudah meninggalkannya, bahkan jarak Cao Zhi sudah lumayan jauh darinya. Untung dia cepat menyadari kepergian pria itu, kalau tidak, mungkin saja dia sudah menangis karena ditinggalkan lagi.
‘’Kenapa kau suka sekali meninggalkanku?’’ omel nya dengan nafas yang ngos-ngosan. Sekarang, dia sudah berjalan di samping Cao Zhi. Pria itu tidak menjawab dan hanya sekilas menatapnya, lalu kembali menatap lurus kedepan.
Anxin pun hanya diam dan terus melangkah mengikuti Cao Zhi. Sesekali, dia melirik pada Cao Zhi yang tampak sangat serius, seperti tengah memikirkan sesuatu.
‘’Ada apa?’’ tanyanya, tetapi Cao Zhi kembali tidak menghiraukan.
Bersambung .....
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya.....
__ADS_1