
‘’Pangeran ketiga …..’’ Nyonya Yan menghampiri lalu memberikan hormatnya saat Cao Zhi keluar dari ruangan yang tadi dilarangnya untuk dimasuki siapapun. Paruh baya itu lantas membisikan sesuatu.
‘’Terimakasih atas bantuanmu Nyonya Yan.’’ ucap Cao Zhi dengan senyum penuh arti. Setelah itu, dia keluar dari sana dan langsung berjalan menuju Istana. Bukan tanpa alasan Cao Zhi masuk dan keluar dari rumah pelacuran itu, hal itu dilakukannya karena tahu seseorang sedang mengintainya.
Bukannya tidak ingin menangkap pengintai itu, Cao Zhi sengaja melakukannya, untuk mengecoh. Awalnya, dia berpikir pengintai itu adalah suruhan dari Pangeran pertama, tetapi setelah dipikirkan lagi sepertinya itu tidak mungkin. Lagian, pangeran pertama tidak memiliki urusan apapun dengannya, saat dirinya menjadi Pendekar bertopeng.
*****
‘’Kenapa kau belum tidur?’’ Anxin yang sedang berbaring sambil memikirkan sesuatu lantas kaget oleh kedatangan tiba-tiba Cao Zhi. Pria itu sedang berdiri dengan santainya, lalu dengan santainya juga melangkah menghampiri ranjang Anxin.
‘’Ini sudah malam, kenapa kau datang ke kamarku? Tidak sopan!’’ cibir Anxin. Wanita itu tetap dalam posisinya dan sama sekali tidak beranjak dari ranjangnya, jangankan beranjak, duduk saja tidak.
‘’Kenapa kau kemari, ada perlu apa?’’ tanyanya dengan nada ketus. Sementara yang ditanya hanya menatapnya dengan wajah datar.
‘’Apa ini?’’ tanya Anxin. Wanita itu baru bangun dari rebahannya saat Cao Zhi membuka telapak tangan dan memberikan sebuah gelang berwarna putih untuknya.
‘’Pakailah kau pasti akan memerlukannya nanti.’’
Bukan nya memakai gelang itu, Anxin malah ingin mengembalikannya lagi. ‘’Aku tidak akan menggunakannya kalau kau tidak memberitahu untuk apa gelang itu.’’
‘’Ck dasar keras kepala,’’ kesal Cao Zhi. Pria itu lantas menarik tangan Anxin dan memakaikan gelang itu dengan paksa.
‘’Gelang apa ini?’’ tanyanya saat melihat gelang hijau dengan motif bulan, di pergelangan tangan kiri wanita itu, tadinya dia juga ingin memasang gelang putihnya di sana.’’
‘’Ya gelang, memangnya apalagi? Kau belum pernah melihat gelang seperti ini?’’ jawab Anxin dengan ketus. Wanita itu lalu menarik tangan kirinya dan memberikan tangan kanannya. Cao Zhi pun memasang gelang putihnya di pergelangan tangan kanan Anxin. Setelah itu, dia kembali menarik tangan kiri Anxin dan memperhatikan gelang hijau itu lagi.
‘’Aku merasakan kekuatan yang luar biasa dari gelang ini dan aku yakin ini bukan seperti gelang pada umumnya. Sebenarnya dimana kau mendapatkan gelang ini?’’
‘’Ap -apa maksudmu? Ini adalah aksesoris biasa. Aku menggunakannya untuk mempercantik penampilanku.’’
__ADS_1
‘’Kau pikir bisa membohongiku? Jelas-jelas aku merasakan kekuatan yang luar biasa dari gelang ini.’’
‘’Baiklah … aku memang tidak bisa membohongiku. Gelang ini adalah pemberian ayahandaku, beliau memberikannya karena tidak ingin sesuatu yang berbahaya menimpaku. Kau tahu sendiri kalau aku ini sangat lemah dan sama sekali tidak tahu ilmu beladiri.’’
‘’Lantas kenapa hanya diberikan padamu? Bukankah Qing Cheng juga sama sepertimu, bukankah dia juga tidak tahu bela diri?’’
‘’Se - setidaknya kakakku bisa memegang pedang dan panah walaupun tidak bisa menggunakannya, tetapi aku?’’ tunjuknya pada diri sendiri. ‘’Memegang keduanya saja aku tidak bisa,’’ ucapnya dengan ekspresi mendramatisir. ‘’Ya iyalah aku tidak bisa memegang, orang aku tidak punya kedua benda itu.’’ sambungnya dalam hati sambil tertawa kecil.
‘’Bukankah ayahmu hanyalah seorang Jenderal?’’
‘’Kenapa? Kau menyepelekan ayahandaku, hanya karena dia seorang Jenderal?’’
‘’Bukan begitu, tetapi darimana seorang Jenderal punya kekuatan seperti itu dan setahuku Jenderal He tidak mempunyai kekuatan lain selain kemampuan berperang yang hebat.’’
‘’Itu kan setahumu.’’
‘’Kau yakin itu pemberian Jenderal Gu?’’
‘’Ck, kau?’’ tanya Cao Zhi dengan senyum remehnya, sedangkan Anxin mengangguk dengan percaya dirinya.
‘’Kau bahkan selalu berbohong padaku.’’ Lalu Cao Zhi menghempaskan tangan kiri Anxin yang sejak tadi dipegangnya. Pria itu lalu ikut duduk diatas ranjang dengan santai. Anxin pun bangun dan merangkak untuk menghampiri pria itu.
‘’Bisakah aku menanyakan sesuatu?’’ tanyanya dengan posisi yang lumayan dekat dengan Cao Zhi. Pria itu sampai harus menahan nafasnya. Bagaimana tidak, wajah Anxin dan wajahnya hanya berjarak beberapa cm saja dan bahkan dia bisa mencium hembusan nafas wanita cantik itu.
‘’Bisakah kau sedikit menjauh dariku?’’
‘’Katakan ya dulu, baru aku akan menjauh darimu.’’
Tidak mengatakan ya, Cao Zhi hanya mengangguk kepalanya, tanda menyetujui ucapan Anxin. Setelah itu, barulah dia bisa bernafas legah. Sekarang Anxin sudah duduk di depannya dengan posisi yang tidak terlalu jauh memang, tetapi setidaknya wajah mereka tidak sedekat tadi.
__ADS_1
‘’Apa yang mau kau tanyakan?’’
‘’Begini, kau selalu menanyakan Purmata Yujie padaku, sejujurnya ….’’
‘’Sejujurnya?’’
‘’Sejujurnya aku tidak tahu apa itu, bahkan bentuknya saja aku tidak tahu. Apa kau mau membantuku mencarinya? Kupikir Pusaka itu juga bisa membantuku.’’
‘’Kau tidak tahu tentang permata itu?’’ tanya Cao Zhi dengan mata membulat sempurna. Pria itu sedikit terkejut dengan ucapan Anxin. Dulu, dia pernah mendengar Kaisar dan Permaisuri sedang membicarakan Pusaka itu dan dalam perbincangan itu dia sempat mendengar Kaisar dan Permaisuri menyebutkan nama Anxin. Makanya, dia terus memaksa dan mengancam Anxin untuk mencari Pusaka itu, karena menurutnya Anxin tahu akan letaknya, tetapi sekarang, bagaimana bisa wanita itu mengatakan tidak tahu bentuk dari Pusaka itu, apa dia sedang dibohongi lagi?
Anxin terus memperhatikan Cao Zhi yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Wanita itu lantas menggoyang lengan Cao Zhi dan sedikit memajukan wajahnya, untuk menatap pria itu.
‘’Bagaimana, apa kau bisa membantuku?’’ tanyanya sedikit mendongak, karena posisi wajah Cao Zhi sedikit diatas posisi wajahnya.
‘’Kau tidak sedang membohongiku? Kau benar-benar tidak tahu akan keberadaan Pusaka itu?’’ tanyanya. Dia lalu menatap penuh selidiki pada Anxin, ingin mencari kebohongan dari mata wanita cantik itu. Namun, tidak sama sekali dia menemukan kebohongan disana.
‘’Kalau aku tahu, aku pasti sudah memilikinya sekarang.’’
Cao Zhi pun menggeleng kepalanya kecil. ‘’Lalu, kenapa kau meminta bantuanku? Kau tahu sendiri kalau aku juga menginginkan Permata itu.’’
‘’Ya, aku tahu itu! Walaupun kau sangat menyebalkan, tetapi didunia ini, aku hanya bisa mempercayaimu dan juga aku hanya akan menggunakan Pusaka itu untuk suatu hal, setelah itu, aku akan mengembalikannya padamu. Aku janji …,’’ ucapnya dengan mengangkat kedua jari, membentuk pose jari V.
‘’Memangnya apa yang mau kau lakukan dengan Permata itu?’’
‘’Kalau masalah itu kau tidak perlu tahu, tetapi aku jamin akan mengembalikannya lagi padamu.’’
Cao Zhi pun langsung diam. Sama seperti Anxin, sebenarnya dia juga tidak tahu bagaimana wujud atau bentuk dari Permata Yujie. Bukan hanya dirinya, tetapi hampir semua yang mengincar, memang tidak tahu akan wujud dari Purmata sakti yang sudah menjadi legenda itu.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya.....