
‘’Ada apa?’’ tanya Pangeran pertama karena melihat Anxin yang tidak berhenti tersenyum. Sejak tadi juga wanita itu terus mencuri pandang padanya, dengan tatapan yang sedikit tidak biasa.
‘’Ah tidak. Aku hanya berpikir, bagaimana Pangeran pertama bisa setampan ini?’’ Wanita itu lantas melepaskan sumpit dari tangannya lalu sedikit memajukan wajahnya untuk menelisik wajah sang Pangeran.
‘’Kulit yang putih bersih, alis yang lumayan tebal, mata yang indah, hidung yang mancung dan bibir yang seksi. Ah wajah ini benar-benar sempurna, sangat sempurna sampai siapapun yang melihatnya akan terpesona,’’ ucapnya dengan nada bicara yang melebih-lebihkan. Benar memang apa yang dikatakannya, tetapi cara penyampaiannya terlalu mendrama, ditambah dengan ekspresi wajahnya yang seperti seorang wanita centil.
Pangeran pertama pun tidak menjawab, pria yang baru saja dipuji setinggi langit itu hanya tersenyum malu-malu dengan wajah yang sedikit memerah.
‘’Ternyata dia bisa tersipu juga?’’ gumam Anxin dalam hati. Wanita itu tersenyum lalu kembali pada posisi semula dan mengambil sumpitnya lagi untuk melanjutkan makan. Sambil menikmati makanan, sesekali dia melirik pada Pangeran Yuan yang menurutnya memang sangat tampan. Wanita cantik itu bahkan merasa akan benar-benar jatuh cinta pada si Pangeran, kalau mereka terus-terusan bersama seperti ini.
Sehabis makan, keduanya memutuskan untuk berjalan-jalan santai di sekitaran paviliun Xiàng rì kuí. Anxin terlihat sangat bersemangat.
Tibalah mereka di danau buatan yang ada di Istana itu, Anxin, wanita itu berlari dengan girangnya sambil merentangkan kedua tangannya, menarik nafas dalam untuk menikmati udara sejuk dan pemandangan indah di depan matanya.
Danau buatan itu memiliki luas sekitar 10 hektar, diperindah dengan beberapa pohon berukuran besar dan juga ratusan pohon Xiàng rì kuí (Bunga matahari), ditambah lagi dengan jembatan merah yang seakan menambah kecantikan danau.
‘’Ada apa?’’ Anxin setengah berteriak pada Pangeran pertama. Tadi, beberapa detik lalu, Wang Rong datang dan membisikan sesuatu pada Pangeran Yuan.
__ADS_1
Pria itu melangkah mendekat pada Anxin yang masih terus menatapnya. ‘’Maaf, sepertinya aku tidak bisa menemanimu lagi, karena aku harus menemui utusan dari kerajaan Long,’’ ucapnya memberi tahu.
‘’Bisakah aku ikut denganmu? Aku janji tidak akan mengganggumu atau melakukan apapun. Aku hanya akan duduk diam.’’ Wanita itu memberi penawaran.
Pangeran Yuan lalu berpikir sejenak dan perlahan menganggukan kepalanya. Anxin pun lantas tersenyum senang dan langsung mengikuti langkah Pangeran pertama, karena utusan dari kerajaan Long sudah menunggu di aula Bǎi hé huā (Lily).
Saat sampai di aula Bǎi hé huā, Anxin langsung mengikuti Pangeran pertama yang sedang memberi penghormatan pada Raja dan Ratu, mereka juga menyapa utusan kerajaan Long sebelum duduk. Tadinya, Anxin hendak duduk di tempat duduk paling ujung karena tidak ingin mengganggu pertemuan itu, tetapi Pangeran pertama malah memerintahnya untuk duduk tepat di samping tempat duduk Pangeran.
‘’Apa tidak apa-apa aku duduk disini?’’ tanyanya sedikit berbisik. Pangeran Pertama pun hanya menggeleng sekilas. Kaisar pun mulai membuka pembicaraan dan menanyakan perihal alasan kedatangan utusan dari negara Long itu.
Mereka terus saja berbicara, sedangkan Anxin mulai bosan dengan keadaan itu. Bagaimana tidak bosan, sejak tadi dia terus duduk diam mendengarkan pembicaraan yang sama sekali tidak dimengerti olehnya, kakinya juga mulai kesemutan karena duduk dalam posisi yang sama dalam waktu yang lumayan lama.
Beberapa kali juga dia membuang nafas kasar, wajahnya tampak tertunduk dan lesu. Tiba-tiba saja dia mengangkat kepalanya, melihat ke seluruh penjuru aula Bǎi hé huā, tetapi ada satu yang mengganjal. Kenapa sejak tadi dia tidak melihat Cao Zhi di ruangan itu? Padahal Putri kedua, ketiga, kelima dan bahkan beberapa sepupu mereka juga hadir disana.
‘’Kemana pria itu?’’ gumamnya penasaran. Matanya masih saja berputar kesana kemari.
Sementara, Cao Zhi sudah berada di rumah kosong yang waktu itu mereka datangi. Cao Zhi terus memandangi rumah itu, tetapi tidak ada apa-apa lagi disana. Rumah itu benar-benar hanya rumah kosong sekarang. Ruangan rahasia yang dulu berisi kendi beracun tidak ada lagi, dan hanya tinggal ruang kosong.
__ADS_1
Cao Zhi pun menyalahkan dirinya sendiri karena sudah bertindak bodoh dan teledor. Harusnya, dia langsung memerintahkan para bawahannya untuk menjaga rumah itu, tetapi dia malah melupakannya dan hanya fokus pada 9 kendi yang sempat diambilnya.
Tiba-tiba saja, ada sebuah panah yang melayang ke arahnya. Pria itu menghindar dengan cepat dan dalam sesaat, dia sudah dikepung oleh para bandit yang entah muncul dari mana.
Pria itu lalu tersenyum remeh, sepertinya para bandit itu memang sudah menunggu kedatangannya dan sepertinya ketua dari kelompok itu juga sudah memprediksi tentang kedatangannya.
‘’Serang … jangan biarkan dia pergi dalam keadaan hidup!’’ teriak satu diantaranya dengan nada penuh perintah dan dalam sekejap, semua pedang sudah mengarah pada Cao Zhi. Berbeda dari yang pertama, bandit kali ini terbilang sedikit lebih hebat dari bandit yang dulu pernah dikalahkannya, bahkan ada beberapa bandit yang memiliki teknik pedang yang bagus.
Cao Zhi terus menghindari serangan dan juga melakukan serangan. Beberapa bandit sudah dikalahkan. Mata tajam Cao Zhi tidak sengaja melihat pada ketua bandit yang tadi sempat memberikan perintah pada para bandit. Pria itu tengah berdiri dan tidak lama mengeluarkan busur panah dan mengarahkan busur itu pada Cao Zhi.
Cao Zhi bertindak cepat, dia menarik satu bandit untuk dijadikan tameng dan jadilah panah itu malah mengenai bandit itu dan bukan dirinya. Dalam beberapa detik panah kembali mengarah padanya, Cao Zhi kembali menghindar dan bersembunyi dibalik tubuh bandit lain. Panah kembali menghampirinya, Cao Zhi pun terus menghindar, sampai anak panah milik si bandit terpakai habis. Bandit itu langsung mengeluarkan pedang dari balik punggungnya dan berlari untuk menyerang Cao Zhi.
Teknik pedang bandit itu benar-benar bagus walaupun tidak ada apa-apanya bagi Cao Zhi. Tidak hanya itu, bandit itu juga menguasai ilmu beladiri dengan sangat baik. Keduanya saling menyerang tanpa ampun sampai bandit itu terdorong jauh karena serangan yang diberikan Cao Zhi.
‘’Seperti kabarnya, ternyata kau benar-benar hebat. Namun, lain kali aku pasti akan mengalahkanmu.’’ Lalu si bandit menghentakan satu kakinya di tanah dan dalam sekejap tubuhnya sudah berada di atas udara, pria itu berlari di atas ujung pohon dan meninggalkan Cao Zhi begitu saja. Cao Zhi tidak mengejarnya lagi, dia malah berlari menghampiri dua bandit yang tadi terkena anak panah, dan betapa kagetnya dia melihat tubuh dua bandit, mulutnya sampai menganga lebar.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya.....