Terjebak Di Dunia Drama

Terjebak Di Dunia Drama
Kau ingin menjualku?


__ADS_3

‘’Berhentilah memprotes hal itu. Bukankah aku hanya mengucapkan kebenaran, memangnya kau pikir kau masih muda, tidak ‘kan?’’ cerocos Anxin. Wanita itu tengah merias dirinya.


‘’Ada apa kau memanggilku, bukankah sudah kukatakan untuk memanggil disaat kau benar-benar membutuhkanku.’’


‘’Ya, dan sekarang aku membutuhkanmu. Oh ya pak tua, aku sudah membaca buku yang kau berikan dulu, dan sekarang aku ingin ke taman terlarang itu, tetapi kata Chuncu taman itu sangat berbahaya. Aku ingin bertanya, apakah benar taman itu berbahaya atau itu hanya sekedar gosip yang santer beredar untuk menakuti masyarakat?’’


‘’Kalau seandainya aku mengatakan tempat itu berbahaya, bagaimana? Apa kau tetap akan pergi?’’


‘’Ya gila saja, kau pikir aku apaan? Tentu saja aku tidak akan pergi, kenapa juga aku harus mengorbankan diriku, tetapi memangnya ada taman berbahaya, tidak ‘kan?’’ tanyanya dengan wajah serius, dia bahkan meletakan alat riasannya dan fokus menatap wajah si pria tua.


‘’Kenapa, kau takut?’’


‘’Aku bukannya takut, tetapi hanya tidak ingin membahayakan diri sendiri saja.’’


‘’Kupikir kau tidak takut sebelum kau membuktikannya secara langsung,’’ sindir si pria tua pada ucapan yang kemarin di layangkan Anxin pada Chuncu.


‘’Aish, kau mendengar ucapanku?’’


Si pria tua hanya mengangkat pundak, dengan gaya cueknya, sedangkan Anxin sudah mendengus saking kesalnya akan si pria tua. Dia bahkan sudah ingin melepaskan gelang hijau dari tangannya.


Part 37


‘’Kau tidak bisa melepaskannya, hanya karena kau menginginkannya. Gelang itu milikmu, satu paket dengan sesuatu yang ada pada dirimu. Jadi, tidak bisa kau lepaskan begitu saja.’’


Anxin pun hanya bisa kembali mendesah. Matanya sudah menatap tajam pada si pria tua. ‘’Kau belum menjawab pertanyaanku, taman itu berbahaya atau tidak?’’ tanyanya dengan penuh penekanan.


‘’Kau bisa mengujinya langsung, apa taman itu berbahaya atau tidak.’’


‘’Pak tua, kau benar-benar …,’’ kesal Anxin, wanita itu melemparkan beberapa barang ke arah si pria tua. Namun, bukannya mengenai pria tua, barang-barang itu malah mengenai wajah Chuncu yang barusan masuk sambil membawa makanan untuk Anxin.

__ADS_1


‘’Astaga,’’ teriak Anxin sambil melihat Chuncu.


‘’Nona, aku akan mengikutimu ke taman terlarang, tetapi jangan kesal padaku lagi. Aku janji tidak akan menolak kemauanmu lagi,’’ ucap Chuncu. Wanita itu lalu melangkah dan meletakan makanan di meja bulat yang ada di kamar Anxin. Chuncu mengira kalau Anxin sedang kesal padanya. Makanya dia dilempari dengan beberapa barang.


‘’Aku tidak kesal padamu, aku hanya tidak sengaja melemparkan semua barang itu.’’ Setelah itu, Anxin kembali lanjut merias wajahnya, tetapi mulutnya masih saja mengomel, dia mengomeli si pak tua, tetapi malah Chuncu yang merasa.


Pelayan setianya itu terus menunduk, takut membuat Anxin tambah marah lagi.


‘’Hei ada apa denganmu?’’ tanya Anxin begitu selesai dengan riasan di wajahnya. Wanita itu lalu berdiri dan melangkah menuju meja yang sudah tertata beberapa jenis makanan. ‘’Kenapa kau terus menunduk, duduk dan makanlah bersamaku,’’ suruh Anxin.


‘’Nona, apa nona sudah tidak marah lagi?’’


‘’Siapa yang memarahimu, ayo duduk dan makan bersamaku, sebelum aku benar-benar marah padamu.’’ Sambil tersenyum, dia memberikan satu potong ayam pada chuncu.


‘’Makanlah yang banyak dan jangan lupa bawa beberapa kue, sebagai cemilan untuk menemani perjalanan kita nanti.’’


‘’Baik nona.’’


‘’Baik nona.’’


‘’Oh ya, apa kau tau dimana letak taman terlarang itu?’’


Chuncu pun menggeleng. Anxin dibuat syok akan hal itu, bagaimana mereka bisa pergi, sedangkan tidak ada satupun dari mereka yang tahu akan letak dari taman terlarang itu.


‘’Astaga, kenapa kau bisa tidak tahu letak taman itu? Kalau kau tidak tahu, lantas bagaimana cara kita pergi kesana?’’


Chuncu pun hanya diam. Mau dikatakan apa lagi, nyatanya, dia memang tidak tahu akan letak taman terlarang yang sangat ditakuti itu. Dia juga sedikit bingung, kenapa tiba-tiba nona mudanya itu ingin ke taman itu?


‘’Sudahlah, kita bisa bertanya pada orang-orang nanti,’’ ucap Anxin lagi. Wanita itu kembali melanjutkan makannya. Chuncu hanya mengangguk kecil, dia masih takut akan keputusan Anxin yang ingin pergi ke taman terlarang.

__ADS_1


‘’Ada apa?’’ tanya Anxin saat Cao Zhi tiba-tiba membuka pintu kamarnya. Pria itu sungguh tidak ada sopan santunnya, dia bahkan tidak mengetuk dan langsung masuk begitu saja.


‘’Ikut denganku sekarang,’’ ucapnya langsung menarik pergelangan tangan Anxin. Dengan sedikit kesusahan, Anxin mengikuti langkah Cao Zhi.


‘’Hei, kau mau membawaku kemana? Aku memiliki rencana lain.’’ Sambil melangkah, Anxin juga berusaha melepaskan lingkaran tangan Cao Zhi pada pergelangan tangannya.


‘’Aku mendengar kabar tentang pusaka Yujie. Apa rencanamu lebih penting dari pusaka ini?’’ bisiknya. Mata Anxin terbuka lebar, dengan cepat dia mendongakan kepalanya, menatap pada Cao Zhi.


‘’Benarkah? Benarkah kau menemukannya?’’ tanyanya dengan begitu bersemangat.


‘’Bukan menemukannya, tetapi ada informasi terbaru tentang keberadaan Pusaka itu.’’


Anxin pun mengangguk beberapa kali. Dalam hatinya, dia berharap semoga bisa segera menemukan pusaka itu dan bisa segera keluar dari dunia drama yang sekarang mengurungnya.


Akhirnya, Chuncu bisa bernafas legah, saat Anxin pergi dan mengikuti Pangeran ketiga. Setidaknya, hari ini mereka tidak akan pergi ke taman terlarang.


‘’Kau merubah penampilanmu lagi?’’ tanya Anxin saat melihat Cao Zhi yang tidak lagi berpenampilan seperti Pangeran ketiga. ‘’Apa kau takut kalau mereka mengenalimu sebagai Pangeran ketiga?’’ tanyanya lagi, tetapi Cao Zhi masih tidak menjawab. Pria itu malah melangkah cepat dan meninggalkan Anxin.


‘’Dia selalu saja mengabaikanku,’’ gerutu Anxin, lalu berlari mengejar Cao Zhi. ‘’Inilah yang tidak kusukai darimu, kau selalu saja meninggalkanku, kalau aku kehilangan jalan bagaimana, atau kalau ada orang yang berniat jahat padaku, bagaimana?’’ ucap Anxin. Kini dia sudah berjalan di samping Cao Zhi. Cao Zhi masih saja tidak menanggapi ucapannya.


Keduanya terus melangkah, sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Anxin pun refleks menghentikan langkahnya dan menarik hanfu milik Cao Zhi, hingga pria itu ikut menghentikan langkahnya.


‘’Hei, ini masih pagi dan kau sudah membawaku ke tempat seperti ini?’’ ucapnya. Matanya masih menatap bangunan di depannya, rumah tempat pelacuran.


‘’Kau … kau tidak ingin menjualku ‘kan?’’ tanyanya lagi, tetapi Cao Zhi kembali tidak menjawab, pria itu malah menarik pergelangan tangan Anxin dan membawanya masuk. Cao Zhi tidak peduli bahkan saat Anxin terus memberontak.


Didalam rumah pelacuran, nyonya Yan langsung menyambut dan mengantarkan keduanya ke ruangan khusus yang biasa digunakan oleh Pangeran ketiga alias si Pendekar bertopeng.


‘’Kena -’’ ucapannya tidak dapat diteruskan, karena Cao Zhi sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan telapak tangan lebar milik pria itu.

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya.....


__ADS_2