Terjebak Di Dunia Drama

Terjebak Di Dunia Drama
Mengerjai Ching Cheng


__ADS_3

‘’Kau mau lagi?’’ tawarnya pada Cao Zhi. pria itu lantas menggeleng, tidak sengaja, matanya bertemu langsung dengan mata Anxin, pria itu menjadi sedikit salah tingkah dan langsung berdiri dari duduknya. ‘’Aku kenyang, yasudah aku pergi dulu!’’ Lalu dia menghilang begitu saja, sedangkan Anxin langsung menggerutu tidak jelas, mengeluarkan kekesalannya pada Cao Zhi yang selalu pergi begitu saja.


Masih menggerutu, dia mengangkat piring yang berisi kue di depannya lalu membawanya keluar kamar, kepalanya menengadah ke langit, sambil sesekali memasukan kue-kue itu kedalam mulutnya.


‘’Kapan aku bisa keluar dari sini? Aku merindukan keluarga, sahabat dan teman-temanku,’’ ucapnya dengan tatapan sendu. Tanpa sadar air matanya menetes keluar. Rasanya tidak sanggup jika harus menghabiskan banyak waktunya dalam dunia drama yang menurutnya sangat menjemukan.


‘’Ma, pa, Feifei, aku merindukan kalian.’’


‘’Cepat selesaikan masalah yang ada disini dan cari cara untuk pulang ke duniamu, kalau kau benar-benar merindukan keluarga dan sahabatmu!’’ Tiba-tiba saja, pria tua muncul di samping Anxin yang lagi dalam mode sedihnya.


Anxin dikagetkan oleh kedatangan tiba-tiba dari pria tua yang tadi ditinggalkannya, dia bahkan lupa mencari atau memanggil bantuan untuk pria tua itu. ‘’Astaga pak tua, kau tidak apa-apa?’’ tanya dengan membolak balikan badan pria tua.


‘’Carilah jalan keluar secepatnya jika kau benar-benar ingin keluar dari dunia ini,’’ ucap pria tua itu tanpa mempedulikan pertanyaannya.


Anxin lantas kembali membalik badannya, matanya menatap lurus kedepan. ‘’Bagaimana caranya? Aku bahkan tidak tahu apa yang akan kulakukan,’’ jawabnya dengan sendu.


‘’Kau akan menemukan jawabannya kalau kau berusaha mencarinya. Didunia ini, tidak ada satupun pertanyaan tanpa adanya jawaban.’’


‘’Bisakah kau memberitahuku? Aku benar-benar susah berpikir sekarang.’’


‘’Aku tidak bisa memberitahumu karena sejujurnya aku juga tidak tahu dan bukankah kau sudah menonton dramanya?’’


‘’Apa kau lupa, kalau drama itu baru tayang dua episode? Bisakah kau mencarikan spoilernya untukku?’’


‘’Kau harus menemukannya sendiri!’’


‘’Ck bilang saja kalau kau tidak mau membantuku!’’ ucapnya disertai decak kesal lalu kembali diam. ‘’Oh ya ….’’ Tiba-tiba saja dia teringat akan permata Yujie yang selalu ditanyakan oleh Cao Zhi padanya.


‘’Kau tau tidak dimana keberadaan Permata Yujie?’’ tanyanya. Wanita cantik itu sudah menatap si pria tua dengan tatapan penasaran.

__ADS_1


‘’Aku tidak tahu!’’


‘’Tidak mungkin! Tidak mungkin kau tidak tahu tentang Permata itu. Ayolah pak tua, katakan padaku dimana Permata itu berada. Ah tidak, kalau kau tidak ingin memberitahunya, setidaknya jelaskan padaku bagaimana rupa dan bentuknya, biar nanti aku yang mencarinya sendiri.’’


‘’Kau bisa menanyakan hal lain, tetapi jangan menanyakan hal itu padaku karena sejujurnya aku tidak bisa menjawabnya walau aku tahu sekalipun.’’


‘’Pria tua kau membohongiku ya, kau tau dimana Permata itu ‘kan?’’


‘’Tidak, aku tidak tahu, bagaimana bisa aku mengetahui hal itu!?’’


‘’Kau yakin?’’ Pria tua itu mengangguk mengiyakan.


*****


Setelah pria tua itu pergi, Anxin kembali mendesah, matanya kembali memandangi indahnya langit malam yang dipenuhi dengan banyaknya bintang yang bertebaran, membuat langit itu semakin indah dan cantik, ditambah lagi dengan cahaya bulan yang bersinar dengan begitu terangnya.


Sudah lama Anxin tidak melihat bintang sebanyak itu, maklumlah, dia tinggal dikota besar dan cahaya bintang jarang terlihat dan cenderung tergantikan oleh gemerlap gemerlip lampu-lampu jalan.


Tanpa diketahuinya dari balik punggung sebelah kanan dan juga dari gelang yang digunakannya kembali mengeluarkan cahaya putih.


*****


Pagi harinya, Chuncu dibuat kewalahan saat membangunkan Anxin. Sudah hampir 10 menit dia membangunkan, tetapi nonanya itu masih saja setia dengan mata yang terpejam erat, bahkan sama sekali tidak bergerak ataupun terganggu.


Diranjang yang keras saja dia bisa tertidur pulas, apalagi dengan ranjangnya yang kini sudah empuk. Chuncu sudah mengganti ranjang nonanya itu, karena Anxin yang terus menerus menggerutu dan memprotes ranjangnya yang katanya seperti sedang tidur diatas tanah, saking kerasnya ranjang miliknya.


‘’Astaga nona, kenapa kau jadi susah dibangunkan seperti ini?’’ Chuncu bingung sendiri. Sebelumnya, nona mudanya itu selalu bangun pagi, bahkan tanpa dibangunkan olehnya, tetapi sekarang, kenapa menjadi sangat susah untuk dibangunkan?


‘’Minggirlah biar aku yang membangunkannya!’’ Chuncu dikagetkan oleh suara Qing Cheng yang entah ada apa, pagi-pagi sudah datang ke kamar Anxin.

__ADS_1


Walau enggan, terpaksa Chuncu menyingkir karena tidak mungkin baginya membantah perintah Qing Cheng yang notabenenya adalah kakak dari nona mudanya. ‘’Nona bangunlah,’’ gumamnya dalam hati, berharap Anxin segera bangun, sebelum Qing Cheng turun tangan untuk membangunkannya.


‘’Meng Jie, ambilkan air untukku!’’ perintahnya pada pelayan pribadinya. Pelayan itu pun dengan cepat berlari keluar, sedangkan Chuncu hanya menutup matanya, dia tahu hal apa yang akan dilakukan oleh Qing Cheng.


Tidak lama, Meng Jie sudah kembali dengan membawa gayung batok kepala yang berisi air. Dengan senyum liciknya, Qing Cheng mengambil air itu dan melangkah mendekat pada Anxin yang masih nampak pulas, dan ….


Byur ….


Air itu malah mengenai hanfu yang digunakannya, wanita itu langsung berteriak saking kesalnya, sedangkan Anxin masih betah dalam kepura-puraannya.


Sebenarnya, dia sudah bangun saat Qing Cheng menyuruh pelayannya untuk mengambilkannya air. Hanya saja, jiwa usilnya yang besar memaksanya untuk berpura-pura tidur dan berniat mengerjai Qing Cheng.


Dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawa, mendengar setiap decak kesal yang keluar dari mulut Qing Cheng. ‘’Rasakan …. Kau pikir bisa mengerjaiku?’’ ucapnya sambil dia tertawa dalam hati.


Qing Cheng yang kesal, melayangkan tatapan tidak sukanya pada Anxin yang masih menutup erat matanya, dia lalu kembali melangkah mendekat dan ingin naik ke ranjang Anxin, tetapi sayang, wanita itu sudah terlebih dulu jatuh, bahkan sebelum berhasil naik ke ranjang.


Tadi, saat Qing Cheng hendak naik, tiba-tiba saja Anxin berteriak dan langsung mendudukan dirinya, hingga Qing Cheng kaget dan tidak bisa menjaga keseimbangannya dan langsung jatuh begitu saja ke lantai.


Cepat-cepat Anxin berdiri, wanita itu pura-pura memasang wajah kagetnya, saat melihat Qing Cheng yang masih duduk di lantai sambil meringis kesakitan.


‘’Astaga kak, apa yang terjadi padamu, kenapa kau duduk di lantai seperti itu?’’ tanyanya sambil tertawa dalam hati, sedangkan Qing Cheng langsung menghempas tangan Anxin yang sedang memegang pundaknya. Wanita jahat itu menatap kesal pada wajah dan ekspresi menjengkelkan yang kini terpampang jelas di wajah cantik Yueyin.


‘’Kau!’’ tunjuknya pada Anxin. Anxin pun kembali berpura-pura menampilkan wajah khawatirnya.


‘’Kenapa kak, apa ada yang sakit?’’ tanyanya dengan nada khawatir. Disaat yang bersamaan, sepasang paruh baya memasuki kamar itu. Para pelayan pun langsung memberikan penghormatan, sedangkan Anxin dan Qing Cheng belum menyadari kedatangan itu, sampai Chuncu memberitahu.


‘’Nona, tuan dan nyonya Gu ….’’ ucapnya pada Anxin. Reflek, wanita itu melihat pada dua paruh baya yang berdiri dibelakang Qing Cheng.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya😚


__ADS_2