Terjebak Di Dunia Drama

Terjebak Di Dunia Drama
Bertengkar


__ADS_3

‘’Tadi, aku dan Pangeran ketiga datang ke rumah kecil, yang waktu itu menjadi tempat penyanderaan ku. Kau tau, aku sedikit trauma, saat melihat bandit-bandit itu lagi, aku takut mereka akan menculik dan menyakitiku lagi. Pak tua, bisakah kau berikan aku satu kekuatan saja, agar aku bisa melawan mereka dan melindungi diriku sendiri,’’ pintanya berpura-pura memasang wajah sendu, dia hanya sedang mendramatisir keadaan. Si pria tua pun hanya menggeleng kepalanya, diiringi buangan nafas kasar.


Saat keluar dari kamar Anxin, Pangeran Yuan tidak sengaja bertemu dengan Pangeran Cao Zhi yang masih berdiri di tempatnya, tempat yang sama saat Yueyin meninggalkannya beberapa waktu lalu. Namun, penampilannya sudah kembali berubah, sudah kembali seperti Pangeran ketiga lagi.


‘’Mau apa kau kesini?’’ tanya Pangeran Yuan dengan raut tidak sukanya. Kedua Pangeran itu memang terkenal tidak pernah akur satu sama lain, dan hal itu sudah berlangsung sejak mereka masih kanak-kanak.


Pangeran pertama selalu meremehkan Cao Zhi yang hanya putra dari seorang selir, dia juga meremehkan Pangeran ketiga yang menurutnya terlalu lemah, ilmu bela diri Cao Zhi bahkan sangat jauh dibawanya. Sementara, tidak ada yang tahu alasan Cao Zhi sampai membenci Lu Yuan.


‘’Jangan pernah lagi kau datang dan mengganggu calon Permaisuriku!’’ Pangeran Yuan berucap dengan rahang yang mengeras. Walaupun tidak menyukai Anxin, tetapi Pangeran pertama juga tidak akan membiarkan Cao Zhi untuk memiliki wanita itu. Apalagi, setelah tidak sengaja mendengar percakapan Kaisar dan Permaisuri tadi sore.


‘’Aku tidak pernah datang mengganggunya, tetapi dialah yang selalu mengikutiku dan sekarang pun, dialah yang ingin aku datang dan menemuinya,’’ balas Cao Zhi dengan rahang yang tidak kalah kerasnya. Mata keduanya masih saling bertemu dengan kilatan kemarahan yang terpancar. Pria itu juga sengaja berbohong, hanya agar Lu Yuan semakin kesal. Padahal, kenyataannya, Yueyin bahkan sudah mengusirnya tadi.


‘’Kau pikir aku percaya? Anxin mencintaiku, dari dulu sudah seperti itu dan akan selalu seperti itu!’’


Mendengar itu, Cao Zhi sedikit memalingkan wajahnya dengan disertai tawa remehnya. ‘’Apa kau yakin?’’ tanyanya dengan nada dan ekspresi meremehkannya, sedangkan Lu Yuan yang diremehkan tentu saja tidak terima.


Pria itu lantas mencekik leher Cao Zhi. Dengan ringannya, Cao Zhi melangkah mundur dan perlahan melayang di udara, sedangkan tangan Lu Yuan masih setia berada di lehernya.


Sebelum melawan, Cao Zhi malah kembali memberikan senyum remehnya dan tentu saja hal itu semakin memancing amarah Lu Yuan, hingga terjadi pertarungan antara saudara sedarah.


Tidak lama, Cao Zhi sudah dibuat kalah oleh Pangeran Yuan. Hanya dengan beberapa pukulan, pria itu sudah jatuh, dan itu membuat Pangeran Yuan tersenyum senang. ‘’Kekuatanmu sangat jauh dibawahku. Sungguh, kau adalah Pangeran yang paling tidak bisa diandalkan. Aku bahkan tidak perlu bersusah payah untuk mengalahkanmu,’’ ledek Pangeran Yuan dengan nada sombongnya, sedangkan Cao Zhi hanya tertawa kecil.


‘’Apa yang kau tertawakan, apa kau ingin aku membunuhmu sekarang juga?’’

__ADS_1


Saat Pangeran pertama dan Pangeran ketiga asyik bersiteru. Ada beberapa pelayan dan pengawal Istana yang sedang asyik melihat, tidak terkecuali dengan beberapa pengawal dan pelayan yang bertugas di kediaman Jenderal Gu.


Berbeda dengan mereka, Chuncu malah berlari menghampiri nona mudanya, pelayan itu ingin memberitahu apa yang terjadi pada Anxin, berharap nona mudanya itu bisa menghentikan pertikaian antar saudara yang semakin memanas.


*****


‘’Kau pasti bisa mengalahkan mereka!’’


‘’Mana bisa, mereka semua membawa pedang yang sangat runcing dan tajam, bagaimana aku berani melawan mereka dengan tangan kosong dan tanpa kekuatan sama sekali?’’ protes Anxin dengan wajah yang mulai kesal.


‘’Semuanya bisa kalau kau memiliki keinginan yang besar. Kekuatan tersembunyimu akan muncul disaat itu.’’


‘’Hei pak tua, keinginan yang besar belum tentu membawa hasil yang besar! Keinginan yang besar harus didasari pada seberapa mampu kita melakukan sesuatu untuk keinginan itu sendiri, tetapi berbeda dengan posisiku sekarang, mana bisa aku menggapai keinginan itu, sedang aku tidak punya bekal apa-apa untuk mewujudkan keinginan itu sendiri! Jadi, apa arti sebuah keinginan kalau aku saja tidak bisa melakukan apa-apa? Dan apa tadi kau bilang, kekuatan tersembunyi, lari maksudmu?’’


‘’Aku yakin kau pasti bisa! Di dunia ini, tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh seseorang, kalau dia sedang dalam posisi yang terjepit!’’


‘’Kau bisa memanggilku saat itu.’’


‘’Aish kau benar-benar menyebalkan!’’


‘’Sebenarnya, bukan kami yang menyebalkan, tetapi kau sendiri yang merasa hal itu menyebalkan. Coba kau pikirkan, apa yang salah dari ucapanku, bukankah aku hanya menjawab apa yang kau tanyakan? Lantas, dimana hal menyebalkannya?’’


‘’Jawabanmu tidak menjawab pertanyaanku dan itu benar-benar menyebalkan!’’

__ADS_1


‘’Sebuah jawaban tidak selalu langsung menjawab, tetapi kau harus memikirkan setiap kata dari jawaban itu dan kau pasti akan menemukan apa yang kau tanyakan.’’


‘’Ck, bukanlah sebuah jawaban kalau dalam ucapan itu tidak berisi jawaban dari apa yang dipertanyakan! Apa kau tau arti dari sebuah jawaban itu sendiri? Seseorang bercerita padamu karena ingin kau membantunya dan mencari jalan keluar akan masalahnya, bukan malah menjawab dengan asal-asalan, apalagi jika jawabanmu itu dipenuhi teka-teki. Menceritakan sudah cukup menyusahkan dan kau malah menyuruhku untuk memecahkan teka teki akan jawabanmu juga? Lalu untuk apa aku berbagi keresahan itu denganmu?’’ ucapnya dengan menggebu, saking kesalnya pada pria tua di depannya itu.


Setelah itu, dia mengubah posisinya, ingin melangkah menuju ranjangnya dan meminta pria tua itu untuk pergi karena saat ini dia tidak mood lagi untuk berbicara padanya. Namun, belum sempat dia melangkah, pintu kamarnya sudah terbuka lebih dulu, menampilkan Chuncu dengan wajah khawatirnya.


‘’No - nona, kau harus ikut denganku,’’ ucapnya sedikit ngos-ngosan, Anxin yang kaget, langsung menatap ke arah meja dan untung saja, tidak ada lagi pria tua itu disana.


Chuncu pun melangkah mendekat, lalu mengatakan apa yang terjadi. Sontak, Anxin membelalak, saat mendengar apa yang diucapkan Chuncu. Setelah itu, dengan setengah berlari, dia menghampiri Lu Yuan dan Cao Zhi.


Sambil melangkah, mulutnya juga ikut mengumpat kedua Pangeran yang dianggap sudah menambah beban pikirannya. Setelah kesal dengan si pria tua, sekarang dia juga harus dibuat kesal dengan ulah kedua pria itu? Sepertinya mereka ingin membunuhnya dengan perlahan, pikirnya.


Dia menghentikan langkahnya, setelah sampai di tempat berlangsungnya pertarungan sengit itu. Jari-jarinya sudah terkepal sempurna, dengan rahang yang sudah mengeras, menyaksikan pertarungan itu dengan rasa marahnya. Ternyata, sepeninggalan Chuncu tadi, kedua Pangeran itu kembali bertarung lagi.


‘’Berhenti …!’’ teriaknya dengan sangat kencang, teriakan itu sukses menghentikan aksi pria-pria diatas sana. Keduanya saling berhadapan, sebelum memutuskan turun dan menghampiri Anxin yang tampak menakutkan dengan wajah marahnya.


Tepat disaat Anxin berteriak, tepat disaat itu juga Qing Cheng sampai di tempat itu. Ternyata, tidak hanya Chuncu yang pergi melapor, tetapi ada seorang pelayan juga melapor pada Qing Cheng.


‘’Apa yang kalian lakukan?’’ teriak Anxin lagi. Rasa marah masih meliputi wanita cantik itu, hingga dia tidak bisa menahan emosinya dan terus berteriak kesal pada dua Pangeran yang biasa ditakuti olehnya itu.


‘’Tidak sopan! Kenapa kau meneriaki para Pangeran!?’’ sela Qing Cheng menghampiri, wanita itu berjalan dengan anggunnya, sedangkan Anxin hanya melirik sekilas dan langsung membuang pandangannya.


Dia kembali menggerutu, hanya dalam waktu singkat, sudah 4 orang yang membuatnya kesal. Wanita itu lalu mengibaskan lengan hanfu miliknya dan ingin melangkah pergi dari tempat itu. Toh sudah ada Qing Cheng, jadi biarlah wanita itu yang mengurus kedua Pangeran dan dia lebih baik beristirahat saja, pikirnya.

__ADS_1


Namun, baru beberapa langkah dan tangannya sudah ditahan. Mau tidak mau, dia menghentikan langkahnya, membawa matanya, melihat siapa yang sedang menahan tangannya. Di sebelah kiri, dia melihat tangan Pangeran Yuan dan di sebelah kanannya, dia melihat Pangeran Cao Zhi. Ekspresi keduanya sangat berbeda. Kalau Pangeran Yuan sedang berusaha tersenyum, Pangeran Cao Zhi malah menampilkan wajah datarnya, keluar darah segar dari sudut mulut pria itu. Anxin  bisa melihatnya, karena topeng Pangeran ketiga yang hanya menutupi bagian mulut hingga keningnya, sedangkan bagian mulut ke bawah terbuka begitu saja.


‘’Lepaskan tanganku!’’ suruhnya sedikit memerintah. Kedua Pangeran pun refleks melepaskan tangan mereka, sedangkan Anxin kembali melihat keduanya dengan tatapan kesal, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Dia tidak mempedulikan luka yang ada di wajah Cao Zhi, siapa suruh pria itu bertengkar, pikirnya masih dengan perasaan yang kesal.


__ADS_2