
''Omg, aku melihat orang melakukan teleportasi tepat didepan mataku.'' Dia heboh sendiri dan melupakan rasa takut yang tadi menghampirinya, saat kembali melihat Cao Zhi yangkembali menghilang, tepat di depan matanya.
Tiba-tiba saja, hanya berselang beberapa detik dan dia sudah kembali dikejutkan oleh sosok pria tua berambut panjang dan berwarna putih, yang entah dari mana datangnya, tetapi kini sudah berdiri di depannya.
''Ka - kau siapa?'' tanyanya dengan kening yang kembali mengkerut. Seingatnya, di drama yang tadi di tontonnya sama sekali tidak ada sosok pria tua dan gendut seperti yang sekarang berdiri di depannya, apa dia salah menduga?
''Aku adalah Ketua Dewan dunia drama dan akulah yang membawamu kesini, tetapi tentu saja semua itu atas permintaanmu sendiri.''
Anxin lantas tertawa dan mendekat pada pria tua itu. ''Jadi, kau berperan sebagai Ketua Dewan dunia drama?'' tanyanya masih tertawa.
''Ini bukan mimpi, kau benar-benar berada di dunia drama sekarang!''
Tawanya semakin besar saja, ada-ada saja pria tua itu, pikirnya sama sekali tidak percaya dengan ucapan pria tua di depannya. ''Dulu, waktu sekolah aku memang tidak pernah mendapat peringkat tinggi, tetapi aku juga tidak cukup bodoh untuk mempercayai ucapanmu.''
''Aku tidak peduli mau kau percaya atau tidak, yang jelas, ini semua terjadi karena permintaanmu sendiri dan kau sendirilah yang harus menemukan cara untuk keluar dari dunia ini. Jika kau memerlukan sesuatu, kau bisa langsung memanggilku lewat gelang itu,'' tunjuknya pada gelang berwarna hijau dengan tiga permata, yang entah kapan sudah berada di pergelangan tangan kiri Anxin.
''Se - sejak kapan ini ada disini?'' tanyanya pada diri sendiri sambil melihat gelang di pergelangan tangannya, lalu dia kembali membawa pandangannya pada pria tua itu. ''Kau yang memasangnya?''
''Menurutmu?''
Wanita itu kembali berteriak heboh, diiringi dengan tepukan tangan dan acungan jempol. ''Hua … kau benar-benar hebat ternyata.'' Lalu dia melangkah mendekat pada pria tua itu. ''Lalu … lalu apa kekuatanku?'' tanyanya dengan girang sambil tersenyum lebar.
''Kau tidak memiliki kekuatan apapun!''
Matanya refleks melotot mendengar jawaban pria tua itu. Dia mendengus kesal dan sedikit melangkah menjauh dengan menghentakan kakinya.
''Ini benar-benar tidak adil, bahkan di mimpi pun aku hanya menjadi orang biasa, kenapa kalian punya kekuatan, sedangkan aku tidak?'' gerutunya lalu kembali menatap pria tua itu dengan tatapan tajamnya.
''Kenapa aku tidak diberikan kekuatan? Ini diskriminasi, tau tidak?''
__ADS_1
''Itu bukan kehendakku karena bukan aku yang menciptakanmu!''
''Ck'' Wanita itu hanya bisa mendengus kesal dan membuang pandangannya. ''Kalau begitu bangunkan aku sekarang, aku ingin keluar dari mimpi tidak menyenangkan dan penuh diskriminasi ini!''
''Sudah kukatakan, semua itu tergantung padamu, kau sendirilah yang harus menemukan cara untuk kembali.''
''Kau gila? Untuk apa aku berpikir? Pakai saja kekuatanmu dan bangunkan aku sekarang!''
''Kekuatanku tidak bisa membawamu keluar dari sini.''
''Katanya kau yang membawaku masuk, tetapi kenapa tidak bisa mengeluarkanku? Ck, benar kata orang bijak, seseorang hanya bisa membuat masalah, tanpa tahu cara menyelesaikannya,'' ucapnya penuh sindiran, tetapi tidak dipedulikan.
Tiba-tiba saja, di tangan kanannya sudah ada kitab dengan sampul berwarna coklat, dia lalu mengambil kitab itu dan membaca bagian depannya. ''Tata letak taman terlarang?'' ucapnya bingung, dia lalu menatap si pria tua lagi. ''Buku apa ini?'' tanyanya, dia lalu membuka kitab itu dan melihat beberapa halaman awal.
''Pahami kitab itu baik-baik, karena kau akan memerlukannya nanti.'' Sontak saja dia menghentikan aktivitasnya yang sedang membolak balikan halaman kitab yang disebut buku olehnya, dia kembali menatap si pria tua.
''Buku itu adalah tanggung jawabmu. Kau harus mempelajarinya dengan baik. Simpanlah.'' Si pria tua tiba-tiba saja menghilang.
''Panggil aku lewat gelang yang ada di tanganmu, jika kau berada di situasi yang sulit dan memerlukan bantuanku. Ingat, hanya dalam situasi yang sulit!'' ucap pria tua itu. Hanya suara yang terdengar, sedangkan wujudnya tidak terlihat lagi.
''Aish pria tua itu!'' gerutunya. Dia lalu kembali melangkah dan memperhatikan seisi ruangan. Setelah itu, dia melangkah menuju ranjang. ''Kuharap seseorang membangunkanku sekarang!'' ucapnya sambil mendesah dan mendudukan dirinya di ranjang. Dia membuang kitab tadi ke ujung ranjang.
''Owh sshhit!.'' Makian keluar begitu saja, tepat saat punggungnya menyentuh ranjang. Menurutnya, ranjang itu sangat keras dan malah akan membuat punggungnya sakit.
''Ini tempat tidur atau apa, kenapa keras sekali? Bagaimana aku bisa tidur di tempat seperti ini?'' cerocosnya panjang lebar dengan nada kesalnya.
Setengah jam kemudian, dia sudah tertidur dengan begitu pulasnya dan dengan gaya tidur yang sedikit kacau, dimana kedua kakinya terbuka lebar, tangan kanannya berada diatas kepala dan tangan kirinya berada diatas perut.
Lucu bukan, seseorang yang katanya tidak akan bisa tidur, sekarang malah tertidur dengan begitu lelapnya?
__ADS_1
*****
Hari mulai terang, suara ayam berkokok seakan menjadi alarm bagi seluruh penduduk yang ada di wilayah kerajaan Xing. Cepat-cepat mereka bangun dan melakukan rutinitas yang biasa dilakukan, tetapi berbeda dengan Anxin, wanita itu masih asyik dalam tidurnya dan sama sekali tidak terganggu dengan suara ayam ataupun sinar mentari yang perlahan masuk dan menembus cela dinding kamar.
''Nona … bangun nona, hari sudah terang, hari ini nona harus ke istana untuk makan bersama dengan Kaisar dan Permaisuri.'' Seorang pelayan berusaha membangunkan, tetapi bukannya bangun, Anxin malah membalik badannya membelakangi pelayan itu dan kembali melanjutkan tidurnya.
''Nona, bangun nona kau bisa terlambat kalau tidak cepat bergegas,'' ucap pelayan itu kembali membangunkan, dia sedikit menggoyang lengan Anxin yang masih nampak pulas.
Kesal karena tidurnya terganggu, Anxin lantas menghentak-hentakan kakinya ditempat tidur dengan matanya yang masih tertutup rapat, dia mengeluarkan suara seperti orang yang tengah menangis.
''Bangun nona … kau hanya punya waktu dua jam untuk menyiapkan diri atau nona pertama akan mengalahkanmu lagi.''
Mendengar itu, reflek Anxin membuka matanya, dia langsung duduk dan mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. ''Aish aku benar-benar masih terjebak disini,'' gerutunya lalu mendesah kesal.
''Oh tidak, aku harus tidur lagi, siapa tahu setelah ini aku akan bangun dan kembali ke duniaku,'' ucapnya kembali membaringkan dirinya. Matanya juga langsung ditutup erat.
''Nona, bangunlah, hari sudah terang.''
''Aish jangan menggangguku.'' Anxin sedikit membentak, karena suara pelayan itu seakan mengganggunya yang ingin kembali tidur.
Detik berganti menit, sudah hampir dua puluh menit Anxin menutup mata, tetapi belum juga tertidur. Sambil mendengus, dia kembali mendudukan dirinya, sedikit menghempas selimut disampingnya, hingga selimut itu jatuh ke lantai.
‘’Kenapa tidak bisa juga?’’ sambil mendesah, dia membawa matanya ke arah luar ruangan, karena pintu kamar sedang terbuka lebar.
‘’Astaga!’’
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya😚
__ADS_1